KUBUTAMBAHAN, BULELENG — Penglingsir Puri Klungkung, Ida Dalem Semara Putra, menegaskan bahwa setiap pembangunan besar di Bali, termasuk rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara, harus diletakkan dalam bingkai keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian.
Menurut Raja Klungkung, Bali memiliki warisan nilai luhur yang menempatkan harmoni antara sekala dan niskala sebagai fondasi kehidupan. Karena itu, doa bersama yang digelar di Pura Penyusuhan, Kubutambahan, Sabtu (17/1/2026), menjadi pengingat spiritual agar pembangunan dijalankan dengan niat yang lurus dan memberi manfaat luas bagi bangsa.

Terlihat salah satu warga masyarakat Buleleng Komang Anita Sari Dewi yang selalu memohon kepada Ida sesuhunan untuk terwujudnya kesejahteraan bagi warga masyarakat Buleleng kedepannya.
“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tahu batas. Bali mengajarkan keseimbangan, antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Doa ini adalah ikhtiar agar setiap langkah pembangunan, khususnya Bandara Bali Utara, berjalan dalam koridor keharmonisan, ” ujar Ida Dalem Semara Putra.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan “Doa Bersama untuk Negeri, dari Bali Utara untuk Nusantara”, sebuah momentum spiritual yang mempertemukan para penglingsir Bali, sulinggih, pedanda, serta tokoh lintas iman. Sejak pukul 10.00 WITA, Pura Penyusuhan tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi menjelma ruang perjumpaan kesadaran kolektif tentang alam, keseimbangan, dan masa depan Indonesia.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia selaku inisiator, bersama Ida Pedanda Gde Oka Manuaba dari Dharma Ghosana Kabupaten Buleleng, serta Ida Dalem Semara Putra. Acara tersebut juga dihadiri belasan penglingsir Bali yang tergabung dalam Paiketan Puri-Puri se-Jebag Bali, para sulinggih dari berbagai wilayah, pemuka agama lintas keyakinan, para perbekel se-Kecamatan Kubutambahan, unsur Muspida termasuk Dandim, serta berbagai elemen masyarakat.
Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia menjelaskan bahwa doa bersama ini tidak hanya dilandasi keprihatinan atas bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, tetapi juga sebagai ikhtiar spiritual untuk mengawal rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara.

Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo selaku Direktur Utama (Dirut) PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti.
Ia menegaskan bahwa bandara tersebut bukan kepentingan sempit daerah, melainkan kebutuhan strategis nasional.
“Selama puluhan tahun Bali menopang pariwisata nasional, tetapi beban itu terlalu berat ditanggung Bali Selatan. Ketimpangan ini tidak sehat, baik bagi Bali maupun bagi Indonesia. Karena itu, pembangunan Bandara Bali Utara harus dikawal, bukan hanya lewat kebijakan, tetapi juga dengan doa, ” ujarnya.
Selama ini, denyut pariwisata dan ekonomi Bali bertumpu hampir sepenuhnya di wilayah selatan. Bandara I Gusti Ngurah Rai menghadapi keterbatasan serius, baik dari sisi ruang pengembangan maupun daya tampung penumpang. Pada masa puncak, bandara ini bekerja mendekati kapasitas maksimal, memicu risiko kepadatan, keterlambatan, serta tekanan terhadap lingkungan.
Ketimpangan tersebut berdampak luas, mulai dari kemacetan kronis di Bali Selatan, tekanan terhadap daya dukung alam, hingga tertinggalnya pembangunan di wilayah utara, barat, dan timur Bali. Dalam konteks itu, Bandara Internasional Bali Utara dipandang sebagai langkah korektif untuk pemerataan dan keberlanjutan pembangunan.
Lebih jauh, Putu Dunia menekankan dimensi geopolitik dan geoekonomi nasional dari pembangunan bandara tersebut. Menurutnya, Bandara Bali Utara dirancang sebagai simpul konektivitas baru Nusantara, khususnya bagi wilayah Indonesia bagian timur seperti NTT, Maluku, dan Papua.
“Bandara ini bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia. Ia disiapkan sebagai hub pariwisata dan perdagangan nasional, ” tegasnya.

Sementara itu, Ida Pedanda Gde Oka Manuaba saking Griya Taman Manuaba, Kubutambahan, menekankan bahwa setiap karya besar harus diawali dengan kesucian niat. Ia mengingatkan bahwa ketidakseimbangan akan muncul ketika keharmonisan dengan alam dan Sang Pencipta diabaikan.
“Pembangunan yang tidak berlandaskan kesucian niat akan membawa dampak dalam berbagai rupa, ” ujarnya.

Ida Pandita Empu Upadaya Tanaya saking (dari) Griya Reka Eka Sari Bhuwana (kiri) dan Ida Peranda Gde Oka Manuaba saking (dari) Griya Taman Manuaba, Kubutambahan (kanan).
Pandangan serupa disampaikan Ida Pandita Empu Upadaya Tanaya saking Griya Reka Eka Sari Bhuwana. Ia mengungkapkan bahwa dari proses pembangunan tersebut diharapkan lahir Yayasan Swamandala Jagad Kertha yang kelak berperan menyebarkan nilai keharmonisan ke seluruh dunia.
“Terlepas dari pro dan kontra, kita ingin membuktikan bahwa Hindu juga milik masyarakat dunia. Keharmonisannya bisa dirasakan secara universal, dimulai dari Kubutambahan, ” harapnya.
Doa-doa kemudian dipanjatkan oleh para sulinggih dan pedanda yang telah melalui prosesi diksa sebagai penjaga dharma. Kehadiran tokoh lintas iman memperkuat pesan bahwa keselamatan bangsa dan pembangunan berkelanjutan adalah tanggung jawab bersama, melampaui sekat agama dan wilayah.

Dari Pura Penyusuhan, doa dilepaskan, untuk Indonesia yang tengah diuji, untuk Bali yang mencari keseimbangan baru, dan untuk Bandara Internasional Bali Utara yang diharapkan menjadi simpul masa depan Nusantara.
Editor: Ray







































