PANGKEP SULSEL - Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia jenis Urea dan Ponska kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya kebutuhan pupuk menjelang musim tanam. Di berbagai daerah, pupuk tersebut menjadi barang yang paling dicari karena dianggap mampu memberikan hasil cepat dan nyata bagi pertumbuhan tanaman.
Urea dikenal sebagai sumber nitrogen yang membuat tanaman tampak hijau dan subur dalam waktu singkat. Sementara Ponska atau NPK mengandung unsur hara makro yang lengkap sehingga menjadi pilihan utama petani untuk meningkatkan produksi.
Namun di balik manfaat jangka pendek tersebut, penggunaan Urea dan Ponska secara berlebihan menyimpan dampak serius bagi kesuburan tanah. Tanah pertanian perlahan kehilangan kandungan organik alaminya dan menjadi semakin keras.
Kondisi ini menyebabkan mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan menjadi mati. Akibatnya, tanah tidak lagi mampu menyediakan nutrisi alami bagi tanaman tanpa bantuan pupuk kimia.
Ketergantungan ini menciptakan lingkaran masalah baru, di mana petani terpaksa terus menggunakan pupuk kimia dengan dosis yang semakin tinggi. Jika pupuk langka atau mahal, produktivitas langsung menurun.
Dampak lainnya adalah meningkatnya risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Tanaman yang terlalu subur akibat nitrogen berlebih cenderung lemah dan mudah terserang organisme pengganggu.
Dari sisi lingkungan, residu pupuk kimia dapat mencemari air tanah, sungai, dan saluran irigasi. Hal ini berpotensi merusak ekosistem dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.
Secara ekonomi, kelangkaan pupuk Urea dan Ponska sering kali memicu kenaikan harga. Petani kecil menjadi kelompok yang paling terdampak karena biaya produksi meningkat sementara harga jual hasil panen tidak selalu naik.
Kondisi tersebut mendorong perlunya perubahan pola pemupukan yang lebih bijak dan berkelanjutan. Penggunaan pupuk kimia sebaiknya dikombinasikan dengan pupuk organik agar tanah tetap sehat.
Pupuk organik cair dan padat, seperti hasil fermentasi daun, jerami, limbah dapur, dan kotoran ternak, dinilai mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Para penyuluh pertanian juga diharapkan lebih aktif memberikan edukasi kepada petani mengenai dosis pupuk yang tepat. Pemupukan berimbang terbukti mampu menekan biaya dan menjaga produktivitas jangka panjang.
Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam mendorong kemandirian petani melalui pelatihan pembuatan pupuk organik dan pemanfaatan sumber daya lokal. Langkah ini dinilai efektif menghadapi persoalan kelangkaan pupuk.
Ketergantungan berlebihan pada Urea dan Ponska bukan hanya persoalan hari ini, tetapi ancaman bagi masa depan pertanian. Tanpa perubahan pola kelola yang bijak, kesuburan tanah dan kesejahteraan petani akan terus tergerus oleh waktu.(Herman Djide)








































