OPINI - Menjelang dan setelah perayaan Idul Fitri 2025, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) kembali menjadi sorotan utama dalam perekonomian Indonesia. Tradisi pemberian THR tidak hanya memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat, tetapi juga berperan penting dalam mendorong konsumsi dan perputaran ekonomi, terutama di sektor-sektor tertentu.
Peningkatan Konsumsi dan Aktivitas Ekonomi
Pencairan THR terbukti meningkatkan konsumsi masyarakat di berbagai sektor. Salah satu yang paling terasa adalah sektor ritel, di mana toko-toko pakaian dan pusat perbelanjaan mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan. Masyarakat memanfaatkan THR untuk membeli pakaian baru, kebutuhan pangan, serta oleh-oleh untuk keluarga saat mudik. Selain itu, sektor transportasi juga merasakan dampak positif dengan meningkatnya jumlah tiket yang terjual menjelang arus mudik.
Kenaikan permintaan ini tidak hanya terbatas pada barang konsumsi, tetapi juga meliputi jasa layanan seperti restoran dan sektor pariwisata. Hal ini menunjukkan bahwa THR memiliki efek domino yang mendorong berbagai lini ekonomi, menciptakan atmosfer positif menjelang dan selama perayaan Idul Fitri.
Daya Beli yang Masih Tertekan
Namun, meskipun ada tambahan pendapatan dari THR, daya beli masyarakat tidak sepenuhnya pulih. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
- Kenaikan Harga Barang Pokok: Menjelang Idul Fitri, harga-harga kebutuhan pokok cenderung meningkat. Meskipun THR menambah pendapatan, kenaikan harga tersebut menyerap sebagian besar daya beli masyarakat.
- Keterbatasan Pendapatan Tetap: Banyak pekerja yang pendapatannya tidak meningkat signifikan sepanjang tahun, sehingga meskipun menerima THR, mereka tetap menghadapi keterbatasan dalam belanja rutin.
- Ketidakpastian Ekonomi: Situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam pengeluaran, memilih menabung atau mengalokasikan dana untuk kebutuhan mendesak.
Dampak Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pemberian THR diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga. Namun, efeknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh:
- Konsumsi yang Bersifat Musiman: Peningkatan konsumsi selama periode THR lebih bersifat sementara dan tidak mencerminkan tren konsumsi jangka panjang.
- Keterbatasan Daya Serap Ekonomi: Meskipun ada tambahan pendapatan, masyarakat cenderung menahan belanja karena ketidakpastian ekonomi, sehingga tidak semua dana THR berkontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi.
Refleksi Pasca Idul Fitri
Setelah perayaan Idul Fitri, penting bagi masyarakat untuk melakukan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan selama periode tersebut. Meskipun THR memberikan tambahan pendapatan, pengelolaan yang bijak tetap diperlukan agar tidak terjadi pemborosan yang dapat mempengaruhi stabilitas keuangan pribadi. Apalagi, mengingat pertengahan tahun ini memasuki Tahun Ajaran baru, tentu dibutuhkan tambahan biaya ekstra untuk kelanjutan pendidikan anak-anak.
Selain itu, pemerintah perlu terus memantau dampak ekonomi pasca Idul Fitri, mengingat adanya kemungkinan penurunan aktivitas ekonomi setelah periode puncak konsumsi. Langkah-langkah antisipatif seperti percepatan pelaksanaan proram/kegiatan/proyek pemerintah serta stimulus ekonomi lainnya dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan
Penyaluran THR menjelang dan pasca Idul Fitri 2025 memberikan dampak positif terhadap peningkatan konsumsi dan perputaran ekonomi, terutama di sektor ritel, transportasi, dan pariwisata. Namun, faktor-faktor seperti kenaikan harga, keterbatasan pendapatan tetap, melambatnya roda ekonomi dan ketidakpastian ekonomi membuat dampaknya terhadap daya beli dan pertumbuhan ekonomi nasional tidak sebesar yang diharapkan.
Ditulis oleh: Indra Gusnady, SE, M.Si, (Kepala Badan Keuangan Daerah Kabupaten Solok)