Retorika yang Membius: Ketika Kata-Kata Tak Lagi Searah dengan Realita

3 weeks ago 15

Oleh: Muh. Ahkam Jayadi

Dalam panggung politik, kemahiran beretorika seringkali dianggap sebagai senjata sakti. Pemimpin yang mampu merangkai kata dengan puitis, menggetarkan podium dengan intonasi yang pas, dan menyulap narasi rumit menjadi jargon yang mudah dicerna, biasanya akan dengan mudah memenangkan hati massa.

Namun, ada batas tipis antara komunikasi yang menginspirasi dan seni memanipulasi melalui diksi.

Seringkali, pemimpin yang terlalu piawai beretorika terjebak dalam apa yang disebut sebagai logorrhea banjir kata-kata yang minim makna. Di media sosial, kita melihat potongan video pidato yang visioner, namun di lapangan, realitanya justru stagnan.

Masalahnya bukan pada kemampuan bicaranya, melainkan pada bagaimana retorika digunakan untuk menyelimuti ketidakmampuan eksekusi.

Ketika sebuah kebijakan gagal, pemimpin jenis ini tidak akan menyodorkan data evaluasi, melainkan narasi baru yang membingkai kegagalan tersebut sebagai proses pendewasaan atau tantangan eksternal. 

Di sini, bahasa tidak lagi berfungsi sebagai jembatan informasi, melainkan sebagai alat kamuflase.

Retorika yang berlebihan tanpa dibarengi bukti nyata (realias) menciptakan jurang ekspektasi yang berbahaya. Masyarakat yang terus-menerus disuapi janji manis lewat orasi yang memukau lama-kelamaan akan mengalami keletihan politik (political fatigue).

Kritik utama bagi pemimpin orator adalah kecenderungan mereka untuk memprioritaskan kesan (image) di atas dampak (impact). Mereka lebih peduli pada bagaimana sebuah pernyataan terdengar di telinga publik daripada bagaimana kebijakan tersebut dirasakan di dapur rakyat.

Jika hal ini dibiarkan, demokrasi kita hanya akan menjadi teater kata-kata, bukan arena perbaikan nasib.

Kita tidak butuh pemimpin yang hanya sekadar pandai bicara. Kita butuh pemimpin yang kata-katanya bisa dipegang dan kerjanya bisa dilihat.

Retorika seharusnya menjadi alat untuk menggerakkan gotong royong, bukan alat untuk membius nalar kritis warga.

Sudah saatnya publik beralih dari sekadar mengagumi diksi ke arah mengaudit aksi. Karena pada akhirnya, setumpuk pidato emas tidak akan pernah bisa menggantikan satu liter kebijakan yang tepat sasaran. 

Seorang pemimpin sejati dinilai dari jejak kakinya di tanah, bukan dari gema suaranya di udara.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |