JAKARTA - Pemerintah tak main-main dalam upaya menyulap pasar rakyat menjadi destinasi belanja yang tak hanya nyaman, tapi juga sehat. Melalui Gerakan Nasional Bersih Pasar, kolaborasi apik antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Polri, dan pemerintah daerah digencarkan demi mewujudkan pasar tradisional yang kian diminati masyarakat.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menekankan betapa krusialnya kebersihan pasar sebagai penentu utama pasar rakyat tetap menjadi primadona dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, pasar yang higienis membuka pintu lebar bagi geliat ekonomi dan pesona wisata kuliner.
"Kebersihan pasar itu faktor penting agar pasar rakyat tetap menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, kondisi pasar yang bersih juga dapat mendorong aktivitas ekonomi dan wisata kuliner di kawasan pasar, " ujar Budi Santoso di Jakarta, Rabu (11/03/2026).
Ia menambahkan, dampak positif dari peningkatan kebersihan pasar tidak hanya dirasakan pada aspek kesehatan lingkungan, tetapi juga berpotensi mendongkrak jumlah pengunjung dan denyut nadi perdagangan.
"Jadi kalau pasarnya bersih, pasarnya sehat, maka semakin banyak orang yang datang untuk berbelanja, ” tegas Budi.
Senada, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan komitmen kementeriannya untuk mendukung penuh gerakan ini. Pasar rakyat, menurutnya, merupakan salah satu episentrum penting dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Hanif melihat pasar sebagai ruang sosial dan budaya yang mencerminkan karakter masyarakat. Kebersihan pasar, oleh karenanya, patut diartikan sebagai cerminan budaya dan perilaku warga dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Pasar sebagai simpul budaya tentu dimaknai tempat berbagai macam karakter berkumpul. Jadi bersihnya pasar rakyat seharusnya mencerminkan bersihnya budaya di masing-masing masyarakatnya, " jelas Hanif.
Untuk itu, pemerintah terus memantau dan mengevaluasi pengelolaan sampah di kawasan pasar. Hampir seluruh pasar di Jakarta telah menerima sanksi administratif untuk menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri. Mengingat volume sampah harian dari kawasan pasar dan aktivitas perkotaan di Jakarta yang mencapai nyaris seribu ton, upaya kolaboratif menjadi kunci.
Hanif menekankan bahwa pemilahan sampah dari sumbernya adalah langkah fundamental. Tanpa pemilahan yang baik, biaya penanganan sampah akan membengkak, bahkan dengan bantuan teknologi tercanggih sekalipun.
"Sehebat apapun teknologi yang digunakan, secanggih apapun metodologi yang didebatkan, maka sejatinya pengelolaan sampah hanya bisa dimulai setelah dilakukan pemilahan, " pungkasnya. (PERS)








































