Cipayung Plus Jawa Timur Gelar FGD Bertajuk Evaluasi Program Prioritas Pemerintah, Jaga Persatuan Nasional, Hindari Tindakan Provokatif

5 hours ago 5

SURABAYA – Cipayung Plus Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Jaga Persatuan Nasional, Lawan Tindakan Provokatif” yang diselenggarakan di Bober Cafe, Surabaya, pada Rabu (24/06/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pimpinan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus Jawa Timur, antara lain Bung Hendra DPD GMNI Jawa Timur, Immawan Devi DPD IMM Jawa Timur, Noble Amrullah PW SEMMI Jawa Timur, Kanda Yusfan BADKO HMI Jawa Timur, Mas Rizal PW KAMMI Jawa Timur, Kak Aldi PD KMHDI Jawa Timur, Bung Popin PMKRI Jawa Timur, dan Bung Blaise GMKI Jawa Timur.

FGD tersebut dilaksanakan sebagai ruang dialog dan konsolidasi pemikiran mahasiswa dalam merespons berbagai isu kebangsaan serta memperkuat komitmen bersama untuk menjaga persatuan nasional di tengah dinamika sosial dan politik yang berkembang.

Menurut Hendra Prayogi, Ketua DPD GMNI Jawa Timur, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga persatuan bangsa serta memastikan ruang demokrasi tetap berjalan secara sehat dan beradab.

“Mahasiswa adalah kekuatan intelektual yang harus mampu menghadirkan gagasan dan solusi bagi bangsa. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang harus terus dijaga, namun penyampaiannya wajib dilakukan dengan cara yang santun, argumentatif, dan berlandaskan data serta fakta, ” ujar Hendra.

Hendra menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak pada narasi-narasi provokatif yang berpotensi memecah persatuan nasional. Menurutnya, perbedaan pandangan politik maupun kebijakan harus disikapi secara dewasa melalui dialog dan pertukaran gagasan yang konstruktif.

“Kami mendukung evaluasi terhadap berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), agar pelaksanaannya semakin efektif dan tepat sasaran. Namun di sisi lain, kami juga memberikan apresiasi terhadap berbagai capaian pembangunan infrastruktur yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, ” tegasnya.

Lebih lanjut, Hendra mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk kembali mengedepankan tradisi intelektual dalam menyampaikan aspirasi.

“Mahasiswa harus menjadi pelopor persatuan, penjaga akal sehat publik, dan penyampai kritik yang bermartabat. Siapa pun yang menyampaikan kritik dengan bahasa yang tidak pantas, mengandung penghinaan, atau berpotensi menimbulkan perpecahan, sesungguhnya telah menjauh dari nilai-nilai luhur gerakan mahasiswa Indonesia, ” pungkas Hendra Prayogi.

Dalam forum tersebut, peserta menyampaikan beberapa poin sebagai berikut:

1. Evaluasi Total Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Cipayung Plus Jawa Timur menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun demikian, pelaksanaannya di berbagai daerah masih perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tepat sasaran, transparan, akuntabel, serta mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

2. Evaluasi Pelaksanaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)

Forum juga mendorong evaluasi berkala terhadap implementasi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) agar mampu menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat yang efektif. Penguatan tata kelola, pendampingan, serta pengawasan menjadi faktor penting agar program tersebut dapat berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

3. Apresiasi Kinerja Pemerintah di Bidang Infrastruktur

Cipayung Plus Jawa Timur memberikan apresiasi terhadap berbagai capaian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur yang dinilai telah memberikan dampak positif terhadap konektivitas, pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, revitalisasi fasilitas pendidikan, perbaikan wilayah pascabencana, serta peningkatan pelayanan publik. Pembangunan yang berkelanjutan perlu terus dijaga demi memperkuat daya saing bangsa.

4. Menolak dan Melawan Segala Bentuk Tindakan Provokatif

Forum menegaskan bahwa segala bentuk tindakan, narasi, maupun gerakan yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa harus ditolak. Perbedaan pandangan dalam demokrasi merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh berkembang menjadi tindakan provokatif yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan persatuan nasional.

5. Mahasiswa Harus Menjadi Pemberi Solusi dan Gagasan

Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi, gagasan, dan rekomendasi konstruktif terhadap berbagai persoalan bangsa. Peran mahasiswa sebagai agen perubahan harus diwujudkan melalui kontribusi pemikiran yang berorientasi pada kemajuan Indonesia.

6. Kritik Harus Disampaikan Secara Santun dan Bermartabat

Cipayung Plus Jawa Timur menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah maupun lembaga negara merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun demikian, kritik harus disampaikan dengan bahasa yang santun, argumentatif, berbasis data, dan menjunjung tinggi etika kebangsaan.

7. Menolak Gaya Kritik yang Mengandung Ujaran Tidak Pantas dan Berpotensi Memecah Belah

Forum berpandangan bahwa individu atau oknum yang menyampaikan kritik dengan bahasa kasar, penghinaan, fitnah, maupun ujaran yang berpotensi menimbulkan perpecahan tidak mencerminkan karakter intelektual mahasiswa. Tradisi gerakan mahasiswa Indonesia dibangun di atas nilai-nilai moral, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial, sehingga harus dijaga dari praktik-praktik yang merusak persatuan bangsa.

Sebagai penutup, Cipayung Plus Jawa Timur mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan mahasiswa, untuk terus menjaga persatuan nasional, mengedepankan dialog yang sehat, serta bersama-sama mengawal pembangunan bangsa melalui kritik yang konstruktif, objektif, dan bertanggung jawab.

“Persatuan nasional adalah fondasi utama kemajuan Indonesia. Perbedaan pandangan harus menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan, bukan menjadi alasan untuk saling memecah belah.”

Read Entire Article
Karya | Politics | | |