
Rembang - Kecintaan terhadap batik yang tumbuh sejak kecil mengantarkan *Ny. Konik Arif* istri dari Koptu Nur Arif Zaenuddin anggota Kodim 0720/Rembang menjadi salah satu pelaku UMKM batik tulis di Lasem. Melalui _brand_ *Anjas Batik Tulis Lasem*, ia tidak hanya melanjutkan tradisi keluarga, tetapi juga membangun usaha secara mandiri dari nol hingga berkembang seperti sekarang.
Sejak kecil, Ny. Konik telah akrab dengan proses membatik. Ia tumbuh di lingkungan keluarga pengrajin batik, di mana aktivitas mencanting dan pewarnaan menjadi pemandangan sehari-hari di rumah. Rasa cinta terhadap batik pun tertanam kuat sejak usia dini. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah belajar membatik bersama para karyawan ibunya.
Memasuki masa kuliah, semangat kewirausahaan mulai tumbuh. Ia membantu memasarkan batik milik ibunya secara _online_ dan menawarkan produk tersebut kepada teman-teman di lingkungan kampus serta asrama. Setelah lulus pada tahun 2011, Ny. Konik sempat bekerja di sebuah klinik rumah bersalin, sembari tetap membantu penjualan batik keluarga melalui media _online_.
Tahun 2014 menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah menikah di awal tahun tersebut, ia sempat mengalami keguguran. Enam bulan kemudian, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus mengembangkan penjualan batik secara _online_. Keputusan tersebut menjadi langkah awal menuju kemandirian usaha.
Pada tahun 2016, orang tuanya menyarankan agar ia mulai membangun usaha sendiri. Dengan bekal pengalaman dan pemahaman tentang proses produksi batik, Ny. Konik memberanikan diri memulai produksi batik secara mandiri pada akhir Desember 2016. Saat itu, produknya belum memiliki nama merek.
Setelah melahirkan pada tahun 2017, ia memberi nama _brand_ batiknya sesuai nama sang buah hati, yakni *Anjas Batik Tulis Lasem*. Nama tersebut menjadi simbol harapan sekaligus motivasi untuk terus berkembang.
Perjalanan usaha tersebut tidak dimulai dengan modal besar. Meski orang tua menawarkan bantuan modal, Ny. Konik dan suaminya memilih untuk merintis secara mandiri. Dengan satu orang karyawan untuk membatik dan dirinya sendiri yang menangani proses pewarnaan, ia mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk membeli kain dan membayar upah pembatik.
Kain yang telah selesai diproduksi dijual secara mandiri, sementara sebagian dititipkan kepada orang tuanya yang saat itu masih menyewa toko di Thamrin City pada periode 2007–2019. Hasil penjualan terus diputar untuk menambah stok dan memperluas produksi.
Seiring waktu, pelanggan Anjas Batik semakin bertambah. Pesanan datang dari teman-teman dan relasi yang terus berkembang. Jumlah karyawan pun bertambah untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Berkat konsistensi, semangat, dan doa orang tua, usaha tersebut kini berjalan stabil dan terus berkembang.
Bagi Ny. Konik Arif, menjalankan usaha bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk kontribusi dalam membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu. Ia juga merasa bangga dapat turut menjaga dan melestarikan warisan budaya Nusantara melalui batik tulis khas Lasem.
Dengan semangat kemandirian dan kecintaan terhadap budaya, Ny. Konik Arif membuktikan bahwa UMKM lokal mampu tumbuh dan bersaing, sekaligus menjadi inspirasi bagi perempuan untuk berdaya dan mandiri secara ekonomi.















































