IMIP Dorong Industri Rendah Emisi, Tanam 150 Ribu Mangrove hingga Kembangkan Energi Surya

6 days ago 6

MOROWALI, Sulawesi Tengah– PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan industri rendah emisi melalui berbagai program lingkungan dan pemanfaatan energi bersih. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah penanaman mangrove secara masif serta pengembangan energi surya di kawasan industri.

Sebagai pengelola kawasan industri mineral berskala besar, IMIP memandang keseimbangan ekosistem dan adaptasi terhadap perubahan iklim sebagai bagian penting dari keberlanjutan investasi.

Upaya tersebut juga sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan penataan ruang yang mendorong pengembangan kawasan industri rendah emisi.

Direktur Environmental PT IMIP, Dermawati S., menjelaskan bahwa perusahaan telah menerapkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity Action Plan yang berfokus pada perlindungan habitat kritis, pemulihan area yang terdegradasi, serta pembangunan koridor ekologis antara kawasan industri dan lingkungan alami.

“Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah serta mengacu pada praktik Good International Industry Practice (GIIP), termasuk panduan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial dari International Finance Corporation (IFC), ” jelas Dermawati, Sabtu (7/3/2026).

Sebagai bagian dari aksi mitigasi perubahan iklim, sejak 2018 hingga 2025 IMIP telah menjalankan program rehabilitasi pesisir melalui penanaman 70.188 bibit mangrove di sejumlah desa sekitar kawasan industri dengan luasan mencapai 5, 62 hektare.

Program serupa juga dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah dengan penanaman 10.000 mangrove serta di Brebes, Jawa Tengah sebanyak 30.000 bibit.

Dari seluruh program tersebut, potensi penyerapan karbon diproyeksikan mencapai 21.483, 2 ton CO₂e. Hingga tahun 2026, IMIP menargetkan penanaman mangrove mencapai 150.000 bibit.

Selain rehabilitasi pesisir, perusahaan juga mengembangkan IMIP EduPark seluas 23 hektare sebagai pusat konservasi, pendidikan, dan penelitian bagi satwa endemik Sulawesi.

Pada tahun 2024, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), IMIP turut memindahkan 20 ekor Macaca Ochreata ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae.

Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui transisi energi di kawasan industri. Sejumlah tenant di kawasan IMIP telah menggunakan 502 unit kendaraan listrik untuk mendukung operasional perusahaan.

Selain itu, PT Huayue Nickel Cobalt memanfaatkan kembali energi panas dari proses industri untuk pembangkit listrik mandiri.

Sementara PT Dexin Steel Indonesia telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 65, 89 MWp dengan pemasangan 119.800 panel surya di area seluas sekitar 396.700 meter persegi, yang dilengkapi sistem penyimpanan energi berkapasitas 22 MW/22 MWh.

Pengembangan tambahan PLTS sebesar 18 MW untuk fasilitas bahan baku juga tengah berlangsung dengan progres pembangunan mencapai sekitar 80 persen.

Dermawati menegaskan, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen IMIP dalam menjalankan industri secara bertanggung jawab sekaligus mendukung agenda global penanganan perubahan iklim.

“Melalui berbagai inisiatif ini, kami berupaya memastikan pertumbuhan industri berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem serta keberlanjutan lingkungan, ” ujarnya.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |