Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang menerima kunjungan Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Dudung Abdurachman, bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, untuk meninjau secara langsung Program Pembinaan Kemandirian Jawara Beton, Selasa (21/7). Kunjungan tersebut turut dihadiri Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Direktur Jenderal Imigrasi, Wakil Gubernur Banten, Wakil Wali Kota Tangerang, Dandim 0506/Tangerang, Kapolsek Tangerang, serta Kepala Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan dan Imigrasi se-Banten.
Jawara Beton merupakan salah satu implementasi Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 melalui konsep Lapas Industri. Program ini memberdayakan warga binaan untuk mengolah Fly Ash Bottom Ash (FABA) menjadi berbagai produk konstruksi, seperti paving block, batako, roster, kanstin, dan panel beton. Selain menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi warga binaan untuk meningkatkan keterampilan, etos kerja, dan kesiapan kembali ke tengah masyarakat.
Disambut langsung oleh Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, beserta jajaran, rombongan meninjau proses produksi Jawara Beton mulai dari pengolahan bahan baku hingga produk siap digunakan. Peninjauan kemudian dilanjutkan ke rumah contoh berbasis panel beton RISHAM yang dibangun menggunakan hasil karya warga binaan. Pada kesempatan itu, Kalapas juga menunjukkan buku tabungan dan kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan milik salah satu warga binaan sebagai bukti pemberian premi atas hasil kerja sekaligus perlindungan jaminan sosial selama mengikuti pembinaan kerja.
Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Dudung Abdurachman, mengapresiasi penyelenggaraan pembinaan di Lapas Kelas I Tangerang yang dinilainya mampu menciptakan lingkungan produktif.
"Yang saya lihat hari ini sangat baik. Lapas ini dikelola dengan bersih, tertib, dan menghadirkan pembinaan yang benar-benar memberikan manfaat. Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga diberdayakan untuk mengolah limbah batu bara menjadi produk konstruksi yang bernilai ekonomi. Mereka memperoleh keterampilan, pengalaman kerja, dan aktivitas yang positif sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat. Inilah esensi pemasyarakatan, yaitu membina dan mempersiapkan warga binaan agar mampu menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas, "ujar Dudung.
Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono, A.P., M.Si., menilai pembinaan di Lapas Kelas I Tangerang menjadi contoh bahwa pemasyarakatan mampu berjalan beriringan dengan pemberdayaan.
"Kami melihat pembinaan di Lapas Kelas I Tangerang berlangsung dengan sangat baik. Warga binaan diberi kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membangun kemandirian dan kepercayaan diri ketika mereka kembali ke masyarakat. Semoga model pembinaan seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi satuan kerja pemasyarakatan lainnya, " ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menjelaskan bahwa Jawara Beton merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat. Selain memperoleh pengalaman kerja, mereka juga menerima premi atas hasil produksinya dan mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan selama mengikuti pembinaan. Dengan demikian, mereka memiliki bekal yang lebih kuat untuk hidup mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi secara positif setelah selesai menjalani masa pidana, " jelas Beni.
Melalui Jawara Beton, Lapas Kelas I Tangerang terus mengembangkan konsep Lapas Industri sebagai wujud pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan berorientasi pada pembentukan kemandirian warga binaan. Dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan diharapkan semakin memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menghasilkan karya bernilai, tetapi juga membentuk warga binaan yang terampil, mandiri, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.











































