“Kafe, Winda, dan Cinta Murahan” —

13 hours ago 4

Tujuh tahun aku jalani pernikahan dengan Jack. Tidak sempurna, tapi cukup untuk membuatku bertahan. Hingga satu hari, aku harus ke Jakarta, menengok keluarga yang sedang sakit. Sementara itu, Jack tetap di Bukittinggi. Katanya kerja bergelut bisnis game and nuansa malam, Nyatanya, kerjaannya nongkrong di kafe yang sama setiap malam.

Di sanalah ia bertemu Winda.

Ah, Winda. Nama yang entah kenapa selalu membuatku ingin menghembuskan napas panjang. Wanita yang sudah sering gonta-ganti laki-laki seperti ganti gaya alis. Tapi dia tahu betul cara merayu—terutama pria kesepian yang doyan "iseng-iseng berhadiah".

Dan Jack, suamiku yang memang tak pernah bisa menolak "umpan", tentu saja tergoda dikasih ikan segar.

Awalnya, mereka tak mengaku. Jack pura-pura bego, dan Winda main cantik. Tapi kebetulan hidup tidak selamanya berpihak pada yang pandai berbohong. Aku temui Winda langsung. Tanpa banyak kata, ia akhirnya mengaku, “Iya, aku sudah tidur sama Jack.”

Tidak ada air mata. Tidak ada makian. Hanya diam dan dada yang terasa kosong.

Beberapa hari kemudian, aku lihat foto mereka tersebar di media sosial. Pose mesra, pakaian seksi, caption penuh kode—lucu sekali. Aku tidak tahu mereka sedang jatuh cinta, atau sedang mabuk sensasi murahan. Yang jelas, aku tahu cukup sudah. Aku kemasi hidupku, dan pergi.

Tiga tahun sudah berlalu sejak hari itu.

Kabarnya, mereka menikah siri. Sah atau tidak, aku tak peduli. Mau mereka pakai mahar sepotong puisi atau sekadar janji manis di pojok kafe, itu urusan mereka.

Yang pasti, aku kini hidup damai. Tanpa drama, tanpa kebohongan. Aku tidak perlu lagi mencium aroma parfum asing di bantal, atau pura-pura tak tahu saat Jack pulang larut malam. Aku cukup dengan secangkir kopi dan senyum di pagi hari—untuk diriku sendiri.

Biarlah mereka hidup dalam dongeng versi mereka sendiri. Aku sudah selesai menjadi tokoh figuran di cerita yang penuh tipu-tipu.

Selamat makan cinta buta, Winda dan Jack. Semoga kenyang dan bahagia 

....cerita ini hanya fiksi, khayalan atau karangan belaka...😁🙏

Read Entire Article
Karya | Politics | | |