PURWOKERTO — Bapas Kelas II Purwokerto terus menunjukkan komitmennya dalam mengawal proses re-integrasi sosial para Klien Pemasyarakatan, khususnya di momen bulan suci Ramadan. Guna mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya dukungan lingkungan bagi klien pemasyarakatan, Bapas Purwokerto hadir menyapa warga Banyumas dan sekitarnya melalui program dialog interaktif "Purwokerto Menyapa" di RRI PRO1 Purwokerto, pada Jumat (13/3).

Dalam siaran yang mengangkat tema "Pembinaan Warga Binaan Selama Ramadan" ini, Bapas Purwokerto mengambil peran utama untuk menjelaskan proses pembimbingan di luar tembok penjara. Untuk memberikan gambaran pemasyarakatan yang utuh dari hulu ke hilir, Bapas turut menggandeng Rutan Banyumas dalam dialog tersebut.
Tampil sebagai narasumber utama mewakili Bapas Purwokerto, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Madya, Hadi Prasetyo, membedah secara lugas bagaimana Bapas menangani Klien Pemasyarakatan—yakni mereka yang telah mendapatkan hak integrasi seperti Pembebasan Bersyarat (PB) dan kini telah kembali ke tengah masyarakat.
"Bagi Bapas, Ramadan adalah momentum strategis untuk penguatan mental dan spiritual klien kami. Pendekatan yang kami lakukan tentu berbeda dengan di dalam Rutan. Kami langsung memantau bagaimana interaksi dan ibadah mereka di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal, " papar Hadi Prasetyo saat mengudara.
Hadi menegaskan bahwa status sebagai klien Bapas menuntut kedisiplinan ganda. "Kami selalu tekankan kepada klien bahwa puasa harus menjadi sarana melatih pengendalian diri. Kami bekerja sama dengan tokoh agama dan masyarakat setempat untuk memastikan mereka aktif dalam kegiatan positif seperti tarawih dan ibadah lainnya, sehingga mereka benar-benar siap diterima kembali seutuhnya tanpa mengulangi kesalahan masa lalu, " tambahnya.
Langkah jemput bola Bapas Purwokerto dalam mengedukasi publik melalui radio ini mendapat penegasan dari Kepala Bapas Purwokerto, Bluri Wijaksono. Secara terpisah, Bluri menyampaikan bahwa keberhasilan pembimbingan tidak hanya bergantung pada petugas Bapas, tetapi sangat dipengaruhi oleh stigma dan penerimaan masyarakat.
"Hadirnya Bapas di RRI adalah wujud transparansi sekaligus ajakan kepada masyarakat. Kami ingin publik tahu bahwa klien kami sedang berusaha keras memperbaiki diri di bulan Ramadan ini, " tegas Bluri Wijaksono.
Kepala Bapas juga menambahkan harapan besarnya terhadap masyarakat. "Sebaik apa pun program pembimbingan kepribadian dan kemandirian yang Bapas berikan, kunci utamanya ada pada masyarakat. Kami mohon dukungan dan penerimaan yang baik. Biarkan momen Ramadan ini menjadi titik balik bagi mereka, dan masyarakat yang mendukung akan mempercepat proses pemulihan sosial klien kami."
Sebagai pelengkap dari sistem peradilan pidana, RRI PRO1 Purwokerto mengundang Cakra C.S., Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Pengelolaan Rutan Banyumas, untuk memberikan sudut pandang terkait pembinaan yang dilakukan sebelum warga binaan tersebut diserahkan ke Bapas.
Cakra C.S. memaparkan bahwa persiapan mental spiritual sudah digembleng sejak WBP berada di dalam fasilitas penahanan. "Kami dari Rutan Banyumas senantiasa memfasilitasi kebutuhan ibadah WBP selama Ramadan, mulai dari kepastian distribusi sahur dan berbuka yang bergizi, hingga kegiatan pesantren kilat dan tarawih di masjid Rutan. Ini adalah fondasi pembinaan, yang nantinya akan dilanjutkan pengawasannya oleh rekan-rekan di Bapas saat mereka bebas bersyarat, " jelas Cakra.

Sinergi yang ditunjukkan oleh Bapas Purwokerto dan Rutan Banyumas dalam dialog RRI ini menuai respons positif. Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa pemasyarakatan adalah proses yang berkesinambungan—dimulai dari pembinaan di dalam Rutan, hingga pembimbingan dan pengawasan oleh Bapas di tengah masyarakat.(Humas Bapas Purwokerto)








































