Oleh: Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Barru, Hendra
OPINI - Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Fenomena ini seolah menjadi siklus tahunan yang melelahkan, sebuah drama kosmik di mana energi umat habis terkuras hanya untuk memperdebatkan kapan hari raya tiba, ketimbang meresapi bagaimana esensi Idulfitri itu mewujud dalam perilaku sosial.
Di tengah riak akar rumput ini, warisan pemikiran inklusif Nurcholish Madjid (Cak Nur) bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan kebutuhan darurat.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai kawah candradimuka intelektual Muslim, memikul tanggung jawab moral untuk merajut kembali ukhuwah yang nyaris koyak oleh ego sektarian.
Inklusivisme: Bukan Sekadar "Boleh Berbeda"
Bagi banyak orang, inklusivisme sering kali disalahartikan sebagai sikap pasif atau sekadar membiarkan orang lain berbeda. Namun, Cak Nur membedah lebih dalam: inklusivisme adalah kesadaran teologis bahwa kebenaran yang kita pegang sebagai manusia adalah relatif.
Ketika faksi-faksi agama terjebak dalam gesekan karena perbedaan metode antara hisab dan rukyat kita sebenarnya sedang mempertontonkan sebuah kesombongan intelektual.
Kita merasa metode kita adalah yang paling langit, sementara yang lain dianggap keliru. Inklusivisme mengajak kita untuk merunduk, mengakui bahwa dalam setiap ijtihad yang berbeda, selalu ada ruang bagi kebenaran di pihak lain.
Jebakan Simbol dan Identitas
Sering kali, gesekan yang terjadi bukan murni persoalan sains astronomi, melainkan sentimen identitas kelompok. Pertanyaan Lebaran ikut siapa? kini terasa lebih politis dan eksklusif ketimbang religius. Identitas organisasi seolah menjadi tembok tebal yang memisahkan rasa persaudaraan.
Cak Nur selalu menekankan pentingnya melihat substansi (isi) daripada sekadar bentuk (wadah). Idulfitri adalah simbol kemenangan atas nafsu.
Namun, sungguh ironis jika dalam merayakannya, kita justru kalah oleh nafsu sektarian. Jika perbedaan tanggal menyebabkan retaknya silaturahmi, maka kita telah terjebak pada ritualisme kering yang kehilangan ruh kemanusiaan.
HMI harus hadir sebagai jembatan yang meruntuhkan tembok-tembok simbolik tersebut.
Islam sebagai Rahmat, Bukan Penyekat
Visi inklusif menempatkan Islam sebagai ajaran yang terbuka dan cair. Perbedaan penetapan Idulfitri di tahun 2026 (1447 H) ini seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi dunia bahwa umat Islam di Indonesia memiliki kualitas peradaban yang matang.
Kualitas itu ditunjukkan secara sederhana namun mendalam, yang merayakan lebih awal tidak merasa lebih suci, dan yang merayakan belakangan tidak merasa lebih benar.
Tanpa keterbukaan hati, agama yang seharusnya menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil 'alamin) justru berubah menjadi tembok penyekat antar saudara sebangsa.
Menuju Idulfitri yang Dewasa
Pada akhirnya, Idulfitri 1447 H adalah ujian bagi integritas kita sebagai bangsa yang majemuk. Inklusivisme menuntut kader HMI dan seluruh elemen bangsa untuk berani melintasi batas-batas kelompok demi kemaslahatan yang lebih besar.
Mari kita jadikan perbedaan tanggal ini sebagai kekayaan dialektika, bukan benih perpecahan. Sebab, pada akhirnya, Tuhan tidak melihat pada tanggal berapa kita sujud shalat Id, melainkan pada sejauh mana ketulusan hati kita dalam memaafkan dan merangkul sesama setelah sebulan penuh menempa diri.
Sudah saatnya kita merayakan perbedaan dengan kedewasaan berpikir, bukan dengan keriuhan yang tak perlu.















































