Pelantikan Kepsek: Mengapa Begitu Angker dan Penuh Misteri?

4 hours ago 1

Oleh: Muh. Ahkam Jayadi

OPINI - Kabupaten Barru belakangan ini seperti sedang memainkan drama menunggu Godot. Perbincangan hangat mengenai pelantikan kepala sekolah yang sempat membuncah, kini perlahan mendingin dan berubah menjadi teka-teki yang meresahkan.

Publik bertanya-tanya, ada apa dengan kursi-kursi kosong di pucuk pimpinan sekolah kita? Mengapa proses yang seharusnya bersifat administratif-birokratis ini mendadak tampak begitu angker dan penuh misteri?

Penundaan yang berlarut-larut tanpa alasan transparan adalah celah lebar bagi masuknya spekulasi liar. Di warung-warung kopi hingga grup WhatsApp, desas-desus mulai bermunculan. 

Sayangnya, isu yang berhembus bukan soal peningkatan mutu pendidikan, melainkan kekhawatiran akan adanya transaksi di balik layar.

Masyarakat Barru tentu tidak lupa, dan tidak ingin diingatkan kembali, pada memori kelam operasi senyap lembaga antirasuah. 

Harapan publik sangat sederhana namun mendalam, jangan ada lagi drama jual beli jabatan.

Dunia pendidikan adalah sektor yang suci. Jika pintu masuknya saja sudah dikotori dengan praktik setoran atau mahar politik, lantas moralitas apa yang akan diajarkan kepada anak cucu kita? 

Kepala sekolah bukan sekadar jabatan struktural, mereka adalah nakhoda peradaban di daerah kita. Membiarkan posisi ini digantung tanpa kepastian, atau lebih buruk lagi, menjadikannya komoditas dagangan, adalah pengkhianatan terhadap masa depan Barru.

Ketidakpastian ini menciptakan dua kerugian besar:

  - Stagnasi Manajerial: Sekolah tanpa kepala sekolah definitif seringkali terkendala dalam pengambilan keputusan strategis dan pengelolaan anggaran.

  - Krisis Kepercayaan: Diamnya otoritas terkait hanya akan memperkuat asumsi bahwa ada negosiasi yang belum mencapai titik temu.

Pemerintah Kabupaten Barru harus sadar bahwa di era keterbukaan informasi ini, publik tidak lagi bisa disuapi dengan narasi sedang proses tanpa kejelasan lini masa. 

Jika memang ada kendala teknis atau administrasi, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan spekulasi tentang OTT atau gratifikasi menjadi narasi utama yang dipercayai masyarakat hanya karena minimnya klarifikasi.

Penutup: Jangan Kotori Rumah Belajar
Kita semua merindukan Barru yang berintegritas. Kita ingin melihat kepala sekolah yang dilantik berdasarkan rapor kompetensi, bukan berdasarkan rapor kedekatan atau ketebalan amplop.

Cukuplah sejarah menjadi guru yang keras bagi kita semua. Jangan sampai kursi kepala sekolah menjadi pintu masuk bagi KPK untuk kembali bertamu ke bumi Hibridah. Pendidikan Barru butuh kepastian, bukan sekadar janji pelantikan yang terus-menerus menguap.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |