OPINI - Kabupaten Barru baru saja memamerkan angka pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sebesar 5, 16% untuk tahun 2025.
Namun, di balik angka yang melampaui rata-rata nasional (5, 11%) tersebut, tersimpan kontradiksi tajam yang memicu kritik pedas, jika ekonomi tumbuh, mengapa jaminan kesehatan warga justru dipangkas?
Secara kalkulasi makroekonomi, pertumbuhan di atas 5% seharusnya linear dengan penyerapan tenaga kerja yang masif.
Estimasi matematis menunjukkan setidaknya ada 5.000 lapangan kerja baru yang tercipta untuk menggerakkan roda ekonomi daerah.
Namun, fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya. Alih-alih pengangguran berkurang, ekonomi Barru justru terasa lesu. Kebijakan efisiensi anggaran yang ekstrem dituding menjadi biang kerok minimnya perputaran uang di masyarakat.
"Uang tidak berputar di pasar-pasar tradisional. Daya beli warga jalan di tempat. Jika secara statistik kita disebut tumbuh, pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menikmati kue pertumbuhan 5% itu?" ungkap salah satu pemerhati kebijakan publik setempat.
Kritik paling tajam muncul dari sektor jaminan sosial. Di tengah klaim keberhasilan ekonomi yang melangit, publik justru dihantam kenyataan pahit, puluhan ribu warga Barru dicoret dari kepesertaan BPJS Kesehatan.
Pemerintah daerah berdalih pada aturan terbaru dan beban anggaran. Namun, hal ini dianggap sebagai anomali besar.
Bagaimana mungkin sebuah daerah yang ekonominya diklaim tumbuh pesat yang seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru harus memangkas hak dasar kesehatan warganya dengan alasan efisiensi?
Pertumbuhan 5, 16% terancam menjadi angka mati jika hanya terkonsentrasi pada sektor padat modal atau segelintir elit bisnis.
Tanpa redistribusi kesejahteraan yang nyata, angka tersebut hanya akan memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin di Barru.
Indikator kritis yang perlu dijawab Pemerintah Kabupaten Barru:
- Transparansi Sektor: Sektor mana yang menyumbang 5, 16% tersebut? Apakah sektor yang menyerap tenaga kerja lokal atau hanya investasi numpang lewat?
- Sinkronisasi Kebijakan: Mengapa di tengah pertumbuhan rekor, anggaran jaminan kesehatan untuk rakyat miskin justru dikorbankan?
Catatan Redaksi:
Pertumbuhan ekonomi bukanlah perlombaan angka di atas kertas.
Ia adalah urusan perut rakyat dan jaminan masa depan. Membanggakan angka 5, 16% saat puluhan ribu warga kehilangan jaminan kesehatan adalah ironi yang gagal menutupi luka ekonomi di akar rumput.
Penulis : Muh. Ahkam Jayadi









































