Prof. Mia Amiati: Berburu Takjil, Tradisi Unik pada Bulan Ramadan di Indonesia

4 days ago 4

Jakarta - Berburu takjil merupakan tradisi khas yang selalu hadir pada bulan Ramadan, terutama di Indonesia. Tradisi ini merujuk pada kegiatan mencari minuman dan makanan ringan untuk berbuka puasa yang telah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun.

Istilah kata ‘’takjil’’ berasal dari bahasa Arab yakni dari kata ‘’ajila’’ yang berarti menyegerakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘’takjil’’ ialah mempercepat (berbuka berpuasa). Takjil juga secara umum diartikan sebagai makanan atau sajian yang akan disantap saat berbuka puasa setelah matahari terbenam.

Dilansir dari Muhammadiyah.or.id, ditemukannya catatan mengenai takjil dalam laporan De Atjehers yang ditulis oleh Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19. Laporan tersebut mencatat bahwa masyarakat Aceh telah mengadakan buka puasa bersama-sama di masjid dengan hidangan khas seperti bubur pedas.

Riwayat lain menyatakan bahwa takjil menjadi salah satu sarana dakwah Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa sejak sekitar abad ke-15.

Sejarah mencatat bahwa tradisi takjil dimulai di Masjid Kauman, Yogyakarta pada tahun 1950-an. Sejak masa itu, tradisi meluas dan terus dilestarikan di kalangan masyarakat sampat saat ini.

Di Indonesia, tradisi berburu takjil di bulan Ramadan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Banyak orang yang keluar rumah pada sore hari di bulan Ramadan untuk membeli atau berbagi takjil.

Bulan Ramadan bukan hanya momen untuk memperbanyak beribadah, tetapi juga menjadi momen untuk mengembangkan usaha kecil bagi para UMKM yang berharap dapat mengais rezeki lebih dengan berjualan aneka makanan dan minuman menjelang berbuka puasa.

Berburu takjil bukan hanya tentang mencari makanan ringan, tetapi juga tentang meningkatkan kebersamaan dan kepedulian sosial. Banyak orang yang berbagi takjil dengan tetangga, keluarga, dan teman-teman sebagai bentuk sedekah dan kebaikan.

Dalam Islam, berburu takjil diperbolehkan dan bahkan dianjurkan sebagai bentuk kebaikan dan kepedulian sosial. Jadi, berburu takjil adalah tradisi yang unik dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, baik secara sosial maupun ekonomi.

Apa Makna Filosofis dari Berburu Takjil?

Berburu takjil memiliki makna filosofis yang mendalam dan terkait dengan nilai-nilai spiritual dan sosial. Berikut beberapa makna filosofis dari berburu takjil:

1. Mengasah Kesabaran:
Berburu takjil memerlukan kesabaran dan ketekunan, karena seringkali harus menunggu dan mencari makanan yang diinginkan. Ini mengajarkan kita untuk bersabar dan tidak terguru-guru dalam mencari sesuatu.

2. Menghargai Nikmat:
Berburu takjil membuat kita menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, yaitu makanan dan minuman yang halal dan baik.

3. Meningkatkan Kepedulian Sosial:
Berburu takjil seringkali dilakukan bersama-sama dengan keluarga, teman, atau tetangga, sehingga meningkatkan kepedulian sosial dan kebersamaan.

4. Mengasah Keikhlasan:
Berburu takjil dapat menjadi bentuk keikhlasan dan kesederhanaan, karena kita tidak mencari kemewahan, tetapi hanya mencari yang halal dan baik.

Dalam konteks spiritual, berburu takjil dapat diartikan sebagai pencarian akan kebenaran dan kesempurnaan. Kita mencari makanan yang halal dan baik, sama seperti kita mencari kebenaran dan kesempurnaan dalam hidup.

Dalam konteks sosial, berburu takjil dapat diartikan sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan. Kita berburu takjil bersama-sama dengan orang lain, sehingga meningkatkan kepedulian sosial dan kebersamaan.@Red. 

 Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |