Prof. Mia Amiati: Merangkai Tasbih di Pasar Batuah Martapura

2 days ago 4

Jakarta -  MENDENGAR kata Martapura tentu akan mengingatkan kita dengan sebuah kota penghasil intan terbesar di Indonesia. Hal itu wajar saja. Sebab, sejak dulu ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, ini menghasilkan intan yang indah dan berkualitas tinggi. Tidak heran kalau kota ini dijuluki “Kota Intan”.

Kemilau intan Martapura bisa dilihat di pusat kota. Di sana terdapat pasar tradisional yang sejak dulu menjual batu permata selain komoditas lain, yang dikenal sebagai “Pasar Batuah”. Pada 1970-an los pasar intan dibangun di tengah-tengah Pasar Martapura untuk menampung para penjual dan perajin batu permata.

Sejarah Intan yang Menjadi Primadona di Martapura

Intan memang primadona Martapura, sejarah mencatat bahwa usaha pertambangan intan di Kalimantan Selatan telah dikenal sejak abad ke-16. Diperkirakan sejak 1604 di Kalimantan Selatan telah terjadi perdagangan intan.

Di masa Kerajaan Banjar, pertambangan intan merupakan hak raja. Raja bisa memberikan sebagian tanah kerajaan sebagai apanase kepada keluarga raja. Dari tambang intan, pemilik apanase bukan hanya memperoleh pajak tapi juga hak monopoli pembelian intan.

“Setiap intan yang ditemukan sebesar 4 karat, harus dijual pada raja atau pemilik apanase.” 

Martapura menjadi saksi kejayaan Kerajaan Banjar. Sunarningsih dari Balai Arkeologi Banjarmasin di dapam jurnal Naditira Widya Vol. 1 No. 2 2007, menyebut saat Martapura menjadi ibukota, Kerajaan Banjar mencapai puncak kejayaannya.

Jejak kilau intan Martapura bisa dilihat dari toponim (asal-usul nama tempat) Pasayangan yang kini sebuah kelurahan di Kecamatan Martapura. Nama “pasayangan” memberi gambaran dulunya merupakan tempat para pembuat perhiasan emas dan permata (barang-barang yang disayang oleh kerajaan).

“Di daerah Pasayangan sendiri sampai sekarang masih banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin perhiasan dan penggosokan intan, ” ujar Sunarningsih.

Selain itu, di Pasayangan masih terdapat rumah batu milik para saudagar kaya yang memiliki bisnis batu permata. Rumah itu dibangun tahun 1911 dan saat ini menjadi objek wisata.

Penguasaan pertambangan intan oleh raja dihapuskan oleh Belanda. Sebagai gantinya, selain eksploitasi oleh swasta, pertambangan rakyat pun tumbuh dan terus bertahan hingga kini. Mereka menambang dengan cara mendulang. Jika beruntung, hasilnya bisa luar biasa.

Pada tahun 1965, Matsam cs mamicik (menemukan intan) seberat 166, 7 karat (33 gram) yang dikenal dengan Intan Trisakti; intan terbesar pertama yang ditemukan di Kalimantan.

Meski jarang, penemuan intan dalam ukuran besar kerap terjadi. Hal itu menambah semangat para penambang rakyat.

“Selain sebagai mata pencaharian masyarakat di beberapa daerah di Kalimantan Selatan, menambang intan sudah dianggap sebagai budaya yang diwarisi masyarakat dari para leluhur, ” ungkap Agus Yana.

Sebagian besar hasil penambangan itu terpajang dalam bentuk batu maupun perhiasan di Pasar Intan Martapura.

Pasar Intan Martapura, Kemilau yang Menggoda

Dikenal sebagai pusat transaksi sekaligus penggosokan intan terkemuka sejak dulu. Menjadi objek wisata yang menarik banyak pengunjung.

Pasar Batuah Martapura adalah sebuah pasar tradisional yang terletak di Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Pasar ini telah beroperasi sejak tahun 1950 dan menjadi salah satu pusat perdagangan utama di wilayah tersebut.

Pasar ini sudah menjadi destinasi wisata belanja paling diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Selatan. Untuk menuju ke Martapura hanya butuh waktu setengah jam dari Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor. Sementara dari kota Banjarmasin, perjalanan akan memakan waktu hingga satu jam dengan menggunakan kendaraan.

Pasar Batuah Martapura juga menjadi destinasi wisata yang populer, terutama bagi mereka yang ingin mencari perhiasan dan batu permata. Pasar ini terletak di pusat kota Martapura, sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

Meskipun Pasar Online Merajalela, namun Pasar Batuah Martapura Tetap Bertahan dengan Kearifan Lokal setempat.

Dengan semakin maraknya perdagangan online telah membuat pasar tradisional porak poranda dan mulai sepi ditinggalkan pembelinya, seperti pasar konveksi pakaian, namun pedagang Pasar Batuah bertahan dengan keadaan dan tetap Optimis menunggu para wisatawan yang datang khusus ke pasar batuah karena selain kemilau intan yang dipasarkan juga terdapat aneka ragam batu-batu indah yang tidak kalah menariknya yg dibuat oleh tangan-tangan terampil menjadi aneka perhiasan mulai dari kalung, gelang, bros dan cincin serta tasbih yang sangat indah.

Pasar Batuah Martapura dikenal sebagai pusat perdagangan barang-barang kebutuhan sehari-hari serta produk-produk khas Kalimantan Selatan, dan aneka batu permata. Pasar ini juga menjadi tempat pelestarian budaya, di mana transaksi jual beli dilakukan dengan akad sesuai dengan hukum Islam, mencerminkan identitas religius masyarakat Martapura, namun dengan layanan yang lebih memudahkan masyarakat setelah kesepakatan harga dicapai, digunakan sarana pembayaran yang lebih praktis yaitu dengan menggunalan Livin by mandiri.

Hanya dengan sentuhan satu jari saja, semua terselesaikan dengan mudah, aman dan nyaman ini sebagai bukti bahwa Mandiri Terdepan dan Terpercaya dan Tumbuh bersama anda khususnya mendukung perekonomian para pedagang di pasar batuah Martapura.

Meangkai Tasbih di Pasar Batuah Martapura

Tasbih adalah sebuah alat yang digunakan untuk berdzikir dan berdoa dalam agama Islam.

Sejarah mencatat bahwa Riwayat dan asal usul tasbih berasal dari India, di mana alat serupa digunakan oleh para biksu Buddha untuk menghitung jumlah mantra yang dibaca. Alat ini kemudian dibawa ke Timur Tengah oleh para pedagang dan digunakan oleh umat Islam sebagai alat untuk berdzikir.

Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa Tasbih juga diyakini berasal dari Arab, di mana para sahabat Nabi Muhammad SAW menggunakan batu-batu kecil untuk menghitung jumlah dzikir yang dibaca. Alat ini kemudian berkembang menjadi tasbih yang kita kenal sekarang.

Pada awalnya, tasbih dibuat dari batu-batu kecil, biji-bijian, atau kayu. Kemudian, tasbih berkembang menjadi berbagai jenis, seperti tasbih kayu, tasbih batu, dan tasbih plastik.

Fungsi utama Tasbih adalah untuk menghitung Menghitung jumlah dzikir yang dibaca, dengan demikian, tasbih telah menjadi salah satu alat yang penting dalam beribadah bagi umat Islam.

Apa Makna Filosofi Tasbih?

Tasbih adalah salah satu alat yang digunakan ketika kita melakukan ibadah dalam Islam yang biasa disenur dzikir.

Tasbih memiliki makna filosofi yang mendalam, antara lain:

1. Menjadi Sarana untuk Mengingat Allah SWT:
Tasbih adalah cara untuk mengingat Allah SWT dan meningkatkan kesadaran akan keberadaan-Nya.

2. Membersihkan hati:
Tasbih dapat membantu membersihkan hati dari pikiran-pikiran negatif dan meningkatkan kesucian hati.

3. Meningkatkan kesabaran:
Tasbih dapat membantu meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan. Dengan menggunakan tasbih kita bisa dengan tekun dan penuh kesabaran melafazkan doa-doa maupun asmaul husna untuk mengingat Alla

4. Mengurangi stres:
Tasbih dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan dengan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang positif.

5. Meningkatkan konsentrasi:
Tasbih dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan fokus dalam beribadah.

Dalam filosofi tasbih, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Yang pertama adalah Niat: Niat yang baik dan ikhlas adalah kunci dalam ber-tasbih.
  • Yang kedua adalah Kualitas: Kualitas tasbih lebih penting daripada kuantitas. Lebih baik ber-tasbih dengan kualitas yang baik daripada ber-tasbih dengan kuantitas yang banyak tetapi tidak khusyuk.
  • Yang ketiga adalah Konsentrasi: Konsentrasi dan fokus adalah kunci dalam ber-tasbih. Agar tidak terganggu oleh pikiran-pikiran lain kita harus berkonsentrasi ketika kita bertasbih.

Dengan memahami filosofi tasbih, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah kita dan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari ber-tasbih.@Red. 

Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |