BANYUMAS — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia 2026 di Griya Abhipraya Kota Lama Banyumas, Senin (20/7). Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat ini dihadiri jajaran pegawai Bapas, Klien Pemasyarakatan, serta warga sekitar sebagai upaya mempererat hubungan dan membangun ruang interaksi yang inklusif.
Kepala Bapas Purwokerto, Nasirudin, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan bahwa nobar tidak sekadar menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi juga sarana memperkuat komunikasi, silaturahmi, dan memperkenalkan peran Griya Abhipraya sebagai pusat pemberdayaan serta reintegrasi sosial bagi Klien Pemasyarakatan. Menurutnya, kegiatan semacam ini diharapkan dapat mendekatkan masyarakat dengan program-program pembimbingan yang dilaksanakan Bapas.

Sebelum pertandingan dimulai, peserta mendapatkan kesempatan mendengarkan kisah inspiratif dari Julianto, salah seorang Klien Pemasyarakatan Bapas Purwokerto yang kini bekerja di CV Jatramas. Ia membagikan pengalaman perjuangannya bangkit setelah menjalani pidana, mulai dari menghadapi stigma masyarakat hingga akhirnya memperoleh pekerjaan dan kembali menjalani kehidupan secara mandiri. Kisah tersebut menjadi gambaran nyata manfaat pembimbingan kepribadian dan kemandirian yang diberikan oleh Pembimbing Kemasyarakatan.
Suasana kebersamaan semakin terasa saat jeda pertandingan melalui sesi dialog interaktif bersama masyarakat. Salah seorang peserta, Candra, mengaku memperoleh sudut pandang baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. "Awalnya saya kaget ketika mengetahui ada mantan narapidana yang ikut nobar bersama masyarakat. Namun setelah berinteraksi langsung, saya merasa tidak ada perbedaan. Kami sama-sama menikmati pertandingan dengan aman, nyaman, dan penuh kebersamaan, " ujarnya.
Pertandingan final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina berlangsung sengit hingga akhirnya dimenangkan Spanyol dengan skor tipis 1-0. Sorak-sorai para penonton mewarnai jalannya laga, sekaligus memperlihatkan kebersamaan tanpa sekat antara Klien Pemasyarakatan dan masyarakat yang hadir.
Melalui kegiatan ini, Bapas Purwokerto menunjukkan bahwa proses reintegrasi sosial tidak hanya dilakukan melalui pembimbingan formal, tetapi juga dengan menghadirkan ruang interaksi yang positif di tengah masyarakat. Diharapkan, semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa Klien Pemasyarakatan memiliki kesempatan yang sama untuk berubah, berkarya, dan kembali menjalankan peran sebagai warga negara yang produktif.
















































