Tragedi Bayi di Sungai Semarang: DP3KB Seruan Empati Massal

3 hours ago 1

KAB SEMARANG - Kabupaten Semarang kembali diguncang duka mendalam setelah dua kali penemuan jasad bayi perempuan dalam rentang waktu berdekatan. Tragedi ini bukan sekadar berita, melainkan jeritan kemanusiaan yang memilukan, menggugah rasa prihatin dan seruan kuat dari pemerintah daerah agar seluruh elemen masyarakat bersatu padu mencegah nestapa serupa terulang.

Peristiwa tragis terakhir terjadi pada Selasa (17/3/2026), kala sesosok mungil tak bernyawa ditemukan tersangkut di tumpukan sampah aliran Sungai Gunung Kendil, Desa Boto, Kecamatan Bancak. Sungguh pilu, penemuan ini hanya berselang sehari setelah insiden serupa di Sungai Jetis, Leyangan, pada Senin (16/3/2026), di mana jasad bayi ditemukan terbungkus dalam kaleng biskuit.

Menyikapi fenomena mengiris hati ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3KB) Kabupaten Semarang, Dewanto Leksono Widagdo, menekankan urgensi penanganan yang lebih dari sekadar kasus biasa. Ia melihatnya sebagai sinyal darurat sosial yang menuntut respons kolektif.

"Insyaallah kami akan memperkuat program pencegahan dan sosialisasi yang terintegrasi, termasuk melalui platform WhatsApp Gemati. Ini menjadi langkah awal membangun kesadaran bersama, " ujar Dewanto saat dikonfirmasi, Selasa (17/3/2026).

Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Peran aktif dari setiap individu di masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan yang penuh kepedulian dan mampu merespons persoalan sosial dengan sigap.

"Yang paling utama adalah gerakan masyarakat dan seluruh elemen untuk saling mengingatkan, baik dari sisi moral, agama, maupun empati. Dengan kepedulian bersama, kami berharap tragedi seperti ini tidak kembali terjadi, " tegasnya.

Keprihatinan mendalam ini diperparah oleh data yang menunjukkan tren kasus pembuangan bayi di wilayah Semarang dan sekitarnya masih menjadi persoalan kronis. Sejak 2024 hingga awal 2026, tercatat setidaknya 12 kasus serupa menggoreskan luka. Pada tahun 2025 saja, delapan laporan pembuangan bayi masuk, dengan mayoritas pelaku berasal dari kalangan muda, bahkan pelajar. Motif utama seringkali berakar dari rasa malu akibat kehamilan di luar nikah, yang berujung pada tindakan ekstrem seperti aborsi dan pembuangan janin.

Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan yang dibutuhkan haruslah komprehensif, tidak hanya mengandalkan penegakan hukum semata, melainkan juga merangkul edukasi yang menyentuh, pendampingan psikologis yang mendalam, serta penguatan nilai-nilai sosial yang luhur di tengah masyarakat.

Sebagai wujud nyata kepedulian dan langkah antisipasi, pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan setiap indikasi kekerasan terhadap anak atau penelantaran. Berbagai layanan pengaduan telah disiapkan untuk memberikan dukungan dan pendampingan:

* Hotline SAPA 129 (telepon 129 / WhatsApp 08111-129-129)

* Layanan WhatsApp Gemati DP3KB Kabupaten Semarang

* UPTD PPA Provinsi Jawa Tengah di (024) 7602952

* Layanan darurat 112

DP3KB berharap, dengan partisipasi aktif seluruh masyarakat dan kemudahan akses terhadap layanan tersebut, potensi terjadinya kasus-kasus pilu ini dapat ditekan seminimal mungkin.

Peristiwa beruntun yang menyayat hati ini sejatinya bukan hanya meninggalkan air mata kesedihan, melainkan juga menjadi alarm keras bagi kita semua untuk mengukuhkan kembali empati, menumbuhkan kepedulian yang tulus, dan memberikan perlindungan utuh bagi anak-anak, generasi penerus bangsa yang membutuhkan cinta dan rasa aman. (PERS)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |