Bedah Buku 'Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU', Gus Hery Nyatakan Siap Maju dalam Bursa Ketum PBNU

4 hours ago 3

KEDIRI (21/6/2026) – Dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 semakin menghangat. Di sela pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU 2026 di Kediri, Jawa Timur, nama Gus Hery Haryanto Azumi semakin mendapat perhatian sebagai salah satu figur alternatif yang dinilai mampu membawa NU memasuki abad keduanya.

Sebelum menghadiri forum bedah buku, Gus Hery Haryanto Azumi bersama rombongan terlebih dahulu bersilaturahim ke Pondok Pesantren Lirboyo untuk memohon doa restu kepada para masyayikh dan ulama sepuh terkait niatnya maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-35 mendatang.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Hery diterima oleh salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Kafabihi Mahrus Ali Kepada Gus Hery dan rombongan, KH. Kafabihi menyampaikan sejumlah pandangan strategis mengenai masa depan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, NU ke depan harus menjadi organisasi yang semakin kuat secara ekonomi, solid dalam kepemimpinan, serta mampu menjaga persatuan umat sebagai fondasi utama kemajuan jam'iyah.

"NU harus kuat secara ekonomi, kompak dalam langkah, dan bersatu dalam tujuan. Persatuan dan kesatuan umat adalah modal utama kemajuan NU. Jika warga nahdliyin bersatu, maka NU akan menjadi kekuatan besar yang mampu membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan negara, " ujar KH. Kafabihi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang sehat dan proporsional antara NU dan pemerintah.

"NU harus mampu menjaga keseimbangan dengan pemerintah. Kita harus menjadi mitra yang kritis sekaligus konstruktif. Namun NU juga harus mandiri. Selama organisasi masih bergantung dan terus meminta bantuan, maka posisi tawarnya akan lemah. Jika NU mampu berdiri tegak dengan kemandirian yang kuat, NU akan lebih leluasa menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan kepentingan umat tanpa tekanan dari pihak mana pun. Dengan demikian pemerintah pun akan lebih mudah menegakkan keadilan dan kebijaksanaan, " katanya.

KH. Kafabihi menambahkan bahwa penguatan ekonomi organisasi harus dilakukan secara profesional, modern, dan transparan.

"Hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi umat, baik perbankan, pengelolaan aset, usaha strategis, tambang, maupun sektor-sektor produktif lainnya harus dikemas dengan keterbukaan dan akuntabilitas. Transparansi akan melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama dalam membangun kekuatan ekonomi Nahdlatul Ulama, " tegasnya.

Dalam kesempatan itu, KH. Kafabihi juga menyoroti persoalan kaderisasi yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar NU.

"Salah satu kelemahan NU selama ini adalah belum optimal menjaga kesinambungan kader-kader potensial. Tidak jarang setiap terjadi pergantian rezim atau kepemimpinan, kader-kader terbaik yang seharusnya menjadi aset organisasi justru tersisihkan. Padahal mereka adalah kekuatan yang seharusnya dirawat dan dipersiapkan untuk memimpin masa depan NU, " ujarnya.

Perhatian khusus juga diberikan kepada jajaran tim Gus Hery yang sebagian besar merupakan kader NU lulusan perguruan tinggi ternama dunia, mulai dari China, Jepang, Inggris, hingga berbagai universitas unggulan lainnya.

"Saya melihat banyak kader NU yang memiliki kualitas luar biasa, berpendidikan tinggi, memiliki pengalaman internasional, dan memahami perkembangan dunia. NU ke depan harus mampu mendayagunakan kader-kader potensial ini secara lebih sistematis dan terarah. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton. Mereka harus diberi ruang untuk mengabdi, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan organisasi maupun bangsa, " kata KH. Kafabihi.

Sebelum menutup pertemuan dan memimpin doa bersama, KH. Kafabi kembali mengingatkan pentingnya memperluas peran kader NU di berbagai sektor kehidupan.

"Kader NU tidak boleh hanya hadir di ruang-ruang keagamaan. Mereka harus hadir di dunia pendidikan, ekonomi, teknologi, media, pemerintahan, diplomasi, industri, dan berbagai bidang strategis lainnya. NU akan menjadi besar apabila kader-kadernya menjadi pelaku utama dalam pembangunan bangsa, " pesannya.

Usai bersilaturahim dan menerima berbagai nasihat dari para masyayikh Lirboyo, Gus Hery kemudian menghadiri forum bedah buku berjudul "Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU, Menavigasi Kebangkitan NU 2026–2126", karya jurnalis dan penulis buku Samsul Muarif.

Forum yang dihadiri para kiai, akademisi, aktivis, santri, dan kader muda NU dari berbagai daerah itu berkembang menjadi ruang diskusi tentang masa depan Nahdlatul Ulama sekaligus kepemimpinan organisasi menjelang Muktamar ke-35.

Dalam forum tersebut, Gus Hery secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU apabila mendapatkan amanah dan kepercayaan dari para ulama serta warga nahdliyin.

"Jika para kiai dan warga Nahdlatul Ulama memandang saya layak untuk berkhidmat, insya Allah saya siap. Ini bukan soal jabatan, melainkan soal tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para muassis dan mengantarkan NU menghadapi tantangan abad kedua, " ujar Gus Hery.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian para peserta forum. Banyak pihak menilai NU membutuhkan figur yang mampu menjembatani kekuatan tradisi pesantren dengan tantangan dunia modern yang semakin kompleks.

Sebagai kader NU yang aktif dalam berbagai kegiatan keummatan dan kebangsaan, Gus Hery dinilai memiliki kombinasi pengalaman organisasi, jejaring nasional, serta wawasan global yang dibutuhkan untuk membawa NU semakin relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Dalam pandangannya, NU tidak hanya dituntut menjaga warisan keilmuan para ulama, tetapi juga harus mampu menjadi motor penggerak kemajuan umat di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, dan peradaban.

"NU harus tetap menjadi rumah besar para ulama dan pesantren, tetapi pada saat yang sama harus mampu memimpin perubahan. Kita tidak boleh tertinggal dalam bidang teknologi, ekonomi, pendidikan, maupun diplomasi global. NU memiliki sumber daya yang sangat besar untuk menjadi kekuatan peradaban dunia, " katanya.

Forum bedah buku tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ruang diskusi intelektual, tetapi juga menjadi panggung lahirnya berbagai gagasan tentang arah baru Nahdlatul Ulama di abad kedua. Di tengah menguatnya aspirasi regenerasi kepemimpinan, kemunculan Gus Hery Haryanto Azumi dinilai memberikan alternatif baru bagi warga nahdliyin yang menginginkan NU tetap berakar kuat pada tradisi pesantren sekaligus mampu menavigasi tantangan global dengan visi yang progresif, inklusif, dan berdaya saing tinggi.

Munas-Konbes NU 2026 pun menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai gagasan besar tentang masa depan organisasi, sekaligus menguji kesiapan para kader terbaik NU dalam mengemban amanah kepemimpinan menuju Muktamar NU ke-35 yang akan datang. (sam) 

Read Entire Article
Karya | Politics | | |