MAGETAN – Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Magetan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur terus berkomitmen meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Uji Kompetensi Skema Pembuatan Roti dan Kue yang diselenggarakan bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Ponorogo dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P-II Wonojati Malang, Selasa (7/7). Kegiatan ini menjadi tahapan penting untuk mengukur kompetensi peserta sekaligus memberikan pengakuan atas keterampilan yang telah diperoleh selama mengikuti pelatihan.

Uji kompetensi diikuti oleh 16 peserta yang terdiri atas 14 warga binaan dan 2 petugas Rutan Magetan. Kegiatan turut dihadiri Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi BLK Ponorogo, Hary Susanto, Instruktur Pelatihan BLK Ponorogo, Ahmad, serta dua asesor dari LSP P-II Wonojati Malang, Suhardi dan Siti Asiyah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan ujian tulis sebagai bentuk pengujian pemahaman teori peserta. Selanjutnya, peserta mengikuti ujian praktik pembuatan roti yang meliputi proses pemilihan bahan, penentuan takaran yang tepat, pengolahan adonan, proses pemanggangan hingga menghasilkan produk roti yang memiliki cita rasa dan kualitas sesuai standar kompetensi. Setelah proses produksi selesai, peserta melanjutkan tahapan pengemasan (packing) sebelum hasil praktik dinilai secara langsung oleh asesor LSP P-II Wonojati Malang.

Instruktur Pelatihan BLK Ponorogo, Ahmad, menyampaikan bahwa pelatihan dan uji kompetensi ini diharapkan mampu menjadi bekal nyata bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat. Menurutnya, keterampilan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pekerjaan maupun membangun usaha secara mandiri di bidang pembuatan roti dan kue.
Selain itu, Ahmad berharap dua petugas Rutan Magetan yang turut mengikuti uji kompetensi dapat menjadi motor penggerak dalam pengembangan program pembinaan kemandirian di bidang bakery. Dengan kompetensi yang dimiliki, para petugas diharapkan mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada warga binaan sehingga program pembinaan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Asesor LSP P-II Wonojati Malang, Suhardi, memberikan apresiasi terhadap kemampuan yang ditunjukkan para peserta selama pelaksanaan uji kompetensi. Ia menilai hasil praktik yang dihasilkan sudah menunjukkan penguasaan teknik yang baik serta mencerminkan kesungguhan peserta dalam mengikuti setiap tahapan pelatihan.
Salah satu warga binaan yang mengikuti uji kompetensi, berinisial A, mengaku bersyukur memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan hingga tahap sertifikasi kompetensi. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri.
"Keterampilan pembuatan roti dan kue merupakan bekal berharga yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti, " ungkap A.
Melalui pelaksanaan uji kompetensi ini, Rutan Magetan berharap warga binaan tidak hanya memiliki keterampilan praktis, tetapi juga kompetensi yang diakui secara profesional melalui sertifikasi. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Rutan Magetan dalam menghadirkan pembinaan kemandirian yang berkualitas, produktif, dan berkelanjutan sebagai bekal bagi warga binaan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat. (Humas Rutan Magetan)

















































