Cegah Sedimentasi, PT GMU Bangun Kolam Pengendap 12 Kompartemen di Area Tambang

1 month ago 31

MOROWALI, Sulawesi Tengah– PT Graha Mining Utama (GMU) terus memperkuat komitmennya dalam menerapkan praktik pertambangan yang berwawasan lingkungan. Salah satu upaya yang kini dilakukan perusahaan adalah membangun sediment pond atau kolam pengendap berkapasitas 12 kompartemen di wilayah operasional tambang Desa Siumbatu, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali.

Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari langkah perusahaan dalam mengendalikan aliran air limpasan dari area tambang sekaligus meminimalkan potensi sedimentasi dan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional.

Kolam pengendap itu dirancang untuk menampung air limpasan sebelum dialirkan ke badan air. Melalui sistem 12 kompartemen, material sedimen akan mengendap secara bertahap sehingga air yang keluar memiliki kualitas yang lebih baik. Selain itu, sediment pond juga berfungsi mengendalikan debit air saat curah hujan tinggi sehingga aliran air yang menuju saluran drainase dan parit milik warga tetap terkendali.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT GMU, Marks Rinto, mengatakan pembangunan sediment pond merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menjawab berbagai masukan dari masyarakat terkait pengelolaan air di sekitar area tambang.

Menurutnya, perusahaan sejak awal telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali untuk mencari solusi terhadap persoalan lingkungan yang berpotensi muncul akibat tingginya intensitas hujan.

"Pada September 2024 kami bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Dari hasil peninjauan tersebut, kami berupaya mencari solusi yang tepat terhadap persoalan lingkungan yang menjadi perhatian masyarakat, salah satunya melalui pembangunan sediment pond ini, " ujar Marks Rinto kepada sejumlah wartawan, Sabtu malam (18/7/2026).

Ia menjelaskan, sistem sediment pond dengan 12 kompartemen dipilih agar proses pengendapan sedimen berlangsung lebih maksimal. Dengan mekanisme tersebut, partikel tanah dan material lain dapat tertahan sebelum air dialirkan keluar dari area tambang.

"Fasilitas ini tidak hanya berfungsi meningkatkan kualitas air, tetapi juga membantu mengendalikan volume air saat hujan deras sehingga tidak membebani saluran drainase maupun parit warga. Harapannya, potensi luapan air ke kawasan permukiman dapat diminimalkan, " jelasnya.

Selain membangun sediment pond, PT GMU juga terus menjalankan program reklamasi sebagai bagian dari kewajiban pengelolaan lingkungan pascatambang. Hingga saat ini, perusahaan telah merehabilitasi sekitar 1, 7 hektare lahan dengan menanam berbagai jenis tanaman, di antaranya pohon nyatoh dan sengon.

Program reklamasi tersebut akan terus dilaksanakan secara bertahap sesuai dokumen Rencana Reklamasi yang telah disusun perusahaan. Sementara itu, proses persetujuan jaminan reklamasi masih berjalan setelah dokumen tersebut disampaikan kepada instansi terkait pada 16 Januari 2025.

Marks menegaskan, PT GMU berkomitmen menjalankan kegiatan pertambangan sesuai kaidah good mining practice, dengan menempatkan aspek perlindungan lingkungan sebagai salah satu prioritas utama.

"Kami ingin memastikan bahwa aktivitas pertambangan berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, berbagai fasilitas pengendalian lingkungan terus kami bangun dan optimalkan agar manfaat keberadaan perusahaan dapat dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan, " pungkasnya.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |