Dari Deflasi ke Konsumsi Musiman: Menyigi Realitas Ekonomi Indonesia Terkini

22 hours ago 3

OPINI -   Berdasarkan data dan laporan terbaru hingga 2 April 2025, kondisi ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini menyuguhkan gambaran yang penuh tantangan meskipun terdapat sejumlah stimulus yang berupaya mendorong konsumsi. Di tengah dinamika tersebut, salah satu sinyal yang mencolok adalah deflasi sebesar 0, 09% yang terjadi pada Februari 2025, deflasi pertama dalam lebih dari dua dekade.

Penurunan indeks harga konsumen ini terutama terlihat pada sektor pangan dan energi, yang sebagian dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah seperti pemberian diskon signifikan pada tagihan listrik guna merangsang pertumbuhan ekonomi. Meskipun harga yang lebih rendah secara teori dapat meningkatkan daya beli, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa penurunan harga merupakan indikasi menurunnya permintaan agregat, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan tekanan pada pendapatan riil dan margin keuntungan perusahaan (Reuters).

Di sisi lain, indikator Indeks Penjualan Riil (IPR) menunjukkan kontraksi sebesar 4, 7% pada Januari 2025 dibandingkan dengan Desember 2024, mengungkapkan adanya pelemahan dalam aktivitas perdagangan ritel dan konsumsi rumah tangga (Bisnis.com).

Meskipun secara keseluruhan konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh tipis dari 4, 8% pada triwulan pertama 2024 menjadi 5, 1% pada periode yang sama tahun 2025 ini, peningkatan tersebut tampak diimbangi oleh kontraksi di sektor-sektor tertentu dan kekhawatiran yang mendalam terhadap perlambatan ekonomi.

Menjelang perayaan Lebaran, terdapat fenomena yang cukup menarik, yaitu pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang mendorong lonjakan pengeluaran konsumen mencapai 8%. Namun, lonjakan ini lebih mencerminkan perilaku konsumsi musiman yang bersifat sementara daripada perbaikan fundamental dalam daya beli masyarakat. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, bahkan menyatakan bahwa daya beli masyarakat tetap lemah hingga perayaan Lebaran, terutama jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (detikfinance).

Di samping itu, meskipun pemerintah telah mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp100 triliun untuk program pemberian makanan bergizi gratis dengan harapan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 2 poin persentase, efektivitas langkah tersebut dalam mendorong konsumsi rumah tangga masih perlu dievaluasi secara menyeluruh (Reuters).

Kesimpulannya, meskipun terdapat beberapa stimulus ekonomi yang berhasil memberikan dorongan sementara, seperti deflasi yang menurunkan harga dan pemberian THR yang memicu lonjakan konsumsi menjelang Lebaran, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih menghadapi tekanan.

Deflasi yang terjadi tidak serta merta mengindikasikan pemulihan, melainkan mengungkapkan adanya penurunan permintaan yang dapat berdampak negatif pada pendapatan dan investasi. Lonjakan konsumsi musiman, meskipun signifikan, belum mampu menutupi kelemahan struktural yang terlihat dari kontraksi IPR dan penurunan daya beli yang terus-menerus.

Oleh karena itu, diperlukan strategi kebijakan yang lebih agresif dan terintegrasi, serta reformasi struktural yang mendalam untuk memastikan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan mengembalikan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa stimulus jangka pendek hanyalah solusi sementara, sementara perbaikan fundamental ekonomi harus menjadi prioritas utama demi mencapai pertumbuhan yang sehat dan inklusif.

Ditulis oleh: Indra Gusnady, SE, M.Si (Kepala Badan Keuangan Daerah Kabupaten Solok)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |