Iran Ancang-ancang Blokir Minyak Timur Tengah

2 days ago 4

TEHERAN – Di tengah tensi yang kian memanas, Iran melayangkan ancaman serius terhadap Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa Teheran tidak akan ragu untuk menghentikan total ekspor "setetes pun minyak" dari kawasan Timur Tengah selama konflik masih membara. Pernyataan tegas ini disampaikan pada hari Selasa (10/03/2026), menandakan kesiapan Iran untuk mengambil langkah drastis jika provokasi terus berlanjut.

"Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut, " kata Naini seperti dikutip kantor berita Tasnim.

Naini menambahkan bahwa setiap upaya dari pihak lawan untuk menekan dan mengendalikan harga minyak serta gas hanya akan bersifat sementara dan diprediksi tidak akan membuahkan hasil jangka panjang. Ia mengklaim bahwa Iran saat ini memegang kendali penuh atas dinamika konflik yang sedang berlangsung, bahkan menegaskan bahwa Iran pula yang akan menentukan kapan pertarungan ini akan berakhir.

Menepis klaim beberapa pejabat Amerika Serikat mengenai melemahnya kemampuan rudal Iran, Naini justru menyatakan sebaliknya. Iran berencana untuk meningkatkan kekuatan serangan rudalnya, dengan ancaman peluncuran rudal yang lebih kuat dan dilengkapi hulu ledak berbobot minimal satu ton mulai saat ini.

Ketegasan Iran ini muncul setelah serangkaian serangan yang dilaporkan dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dikabarkan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas vital dan menimbulkan korban sipil. Iran pun membalas dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut serangan mereka sebagai langkah "pencegahan" yang diperlukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, seiring perkembangan situasi, kedua negara juga mulai menyuarakan keinginan untuk melihat perubahan rezim di Iran.

Dalam perkembangan tragis, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer tersebut, yang kemudian mendorong Pemerintah Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Konflik ini juga memicu reaksi internasional yang signifikan. Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia turut mengutuk operasi militer AS dan Israel, serta mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan. (PERS)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |