Menggendong Bayi 5 Bulan Demi Pelatihan, Ketangguhan Guru P3K Paruh Waktu Waode Sabariah Menginspirasi

4 weeks ago 29

MAKASSAR - Di tengah berlangsungnya kegiatan pelatihan yang diikuti para guru dari berbagai daerah, perhatian peserta tertuju pada sosok sederhana namun penuh inspirasi. Waode Sabariah, guru Pendidikan Agama Islam berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu, hadir mengikuti pelatihan sambil menggendong bayi tercintanya yang baru berusia lima bulan.

Dengan wajah tenang dan penuh semangat, Waode mengikuti setiap sesi pelatihan tanpa mengurangi konsentrasinya. Bayinya berada dalam gendongan kain tradisional yang menempel erat di tubuh sang ibu, sementara dirinya tetap fokus menyimak materi yang disampaikan narasumber.

Pemandangan tersebut menghadirkan rasa haru di tengah ruangan. Banyak peserta mengaku tersentuh melihat perjuangan seorang ibu yang tetap berupaya meningkatkan kompetensi sebagai pendidik, meski harus menjalankan peran sebagai ibu bagi bayi yang masih membutuhkan perhatian penuh.

Bagi Waode, mengikuti pelatihan bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai guru, melainkan sebuah kesempatan berharga untuk menambah ilmu dan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi para siswa yang kelak akan menerima manfaat dari ilmu yang diperolehnya.

Dalam kesehariannya, Waode mengajar di sebuah sekolah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya di wilayah pegunungan. Jarak tersebut ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek, bergantung pada kondisi cuaca maupun keadaan bayinya.

Meski penghasilannya sebagai guru P3K paruh waktu masih terbatas, Waode tetap menyisihkan biaya sekitar Rp7.000 setiap hari untuk kebutuhan transportasi dan keperluan sederhana selama menjalankan tugas mengajar. Baginya, pengorbanan itu merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai seorang pendidik.

Status sebagai guru paruh waktu tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti belajar. Ia percaya bahwa kualitas seorang guru tidak hanya ditentukan oleh status kepegawaian, tetapi juga oleh kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan dan memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.

Di sela-sela pelatihan, Waode sesekali membelai kepala bayinya yang tertidur pulas di pelukannya. Momen sederhana itu menggambarkan bagaimana kasih sayang seorang ibu dapat berjalan beriringan dengan dedikasi seorang guru yang tengah menimba ilmu.

Semangat Waode pun menuai apresiasi dari rekan-rekan peserta pelatihan. Banyak di antara mereka menganggap perjuangan tersebut sebagai contoh nyata bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi penghalang untuk terus berkembang dan mengabdi kepada dunia pendidikan.

Kisah Waode juga menggambarkan realitas yang masih dihadapi sebagian guru di berbagai daerah. Mereka tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab meski harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan ekonomi, fasilitas, hingga tanggung jawab keluarga.

Perjuangan yang ditunjukkan Waode menjadi potret ketangguhan para guru Indonesia yang bekerja dalam senyap. Di balik kesederhanaan mereka, tersimpan tekad besar untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui pendidikan yang berkualitas.

Dedikasi Waode Sabariah memberikan pesan bahwa pendidikan tidak hanya dibangun melalui gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap, tetapi juga melalui hati yang tulus, semangat yang pantang menyerah, serta pengorbanan yang dilakukan tanpa mengharapkan pujian.

Kisah inspiratif ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh pendidik di Indonesia. Waode Sabariah telah membuktikan bahwa seorang ibu dapat tetap menjadi sosok pendidik yang profesional, dan seorang guru sejati akan selalu menemukan jalan untuk terus belajar demi masa depan anak-anak bangsa.( H. Idham)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |