TONDONG TALLASA– Kawasan wisata tani Parang Luara di Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep, siap untuk melakukan perubahan dengan prinsip tak ada lagi sejengkal tanah kosong ke depan , masyarakat setempat berupaya terus memaksimalkan setiap lahan yang ada demi meningkatkan kesejahteraan mereka.
Ketua DPC Jurnalis Nasional Indonesia Kecamatan Tondong Tallasa, Muhammad Nurdin, melaporkan Kamis (3/4/2925) bahwa masyarakat kita dorong dan memberikan semangat untuk secara aktif menggarap tanah-tanah tidur untuk diolah. Lahan kebun yang sudah ada pun terus ditanami berbagai komoditas unggulan, sementara areal persawahan dikelola dengan lebih optimal.
Selain sektor pertanian, kawasan ini juga tengah akan dikembangkan sebagai destinasi wisata yang menarik. Berbagai fasilitas rencananys akan dibangun dan ditata untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan yang asri dan alami.
Salah satu daya tarik utama yang tengah disiapkan adalah pembangunan tempat-tempat wisata santai. Wisatawan nantinya dapat menikmati berbagai sajian khas yang berasal dari hasil bumi setempat, termasuk produk olahan dari ubi jalar, ubi kayu, pisang, kacang tanah, kelapa muda, dan sirsak.
Usaha kuliner berbasis produk lokal menjadi bagian integral dari pengembangan wisata di Parang Luara. Dengan hadirnya usaha ini, diharapkan akan tercipta lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar serta meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian yang dihasilkan.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki daya tarik sejarah berupa gua yang pernah menjadi tempat peristirahatan para pejuang bangsa pada masanya. Gua ini akan dijadikan sebagai objek wisata sejarah yang dapat memberikan edukasi bagi pengunjung mengenai perjuangan bangsa di masa lampau.
Pemerintah setempat turut mendukung inisiatif ini dengan memberikan pendampingan kepada para petani dan pelaku usaha kecil agar mereka dapat mengembangkan potensi yang ada secara maksimal. Pelatihan dan bimbingan teknis terus diberikan untuk meningkatkan keterampilan dan inovasi dalam bertani serta mengelola usaha kuliner.
Muhammad Nurdin menambahkan bahwa pengembangan kawasan wisata tani ini bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan konsep pertanian berkelanjutan, masyarakat diajak untuk menerapkan metode bercocok tanam yang ramah lingkungan.
Program penghijauan juga akan menjadi bagian dari pengembangan kawasan ini. Penanaman pohon di sepanjang area wisata akan menciptakan suasana yang lebih sejuk dan nyaman bagi pengunjung, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di daerah tersebut.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur penunjang seperti akses jalan, fasilitas parkir, dan sarana umum lainnya juga menjadi perhatian utama. Dengan fasilitas yang memadai, diharapkan kawasan ini dapat menarik lebih banyak wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.
Selain sebagai destinasi wisata dan pertanian, Parang Luara juga berpotensi menjadi pusat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar tentang sistem pertanian terpadu. Konsep ini akan melibatkan sekolah-sekolah dan komunitas pertanian dalam berbagai kegiatan pelatihan dan kunjungan lapangan.
Dengan berbagai langkah strategis yang dilakukan, diharapkan kawasan wisata tani Parang Luara dapat menjadi contoh sukses dalam mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat setempat pun semakin optimis bahwa program ini akan membawa perubahan besar bagi kehidupan mereka.
Sebagai langkah selanjutnya, pihak terkait akan terus memantau perkembangan proyek ini dan melakukan evaluasi berkala agar setiap tahap pembangunan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, cita-cita menuju kemakmuran rakyat melalui pengelolaan kawasan wisata tani ini dapat segera terwujud. ( Herman Djide)