CAMBA MAROS - Hari ini, suara takbiran Idul Fitri 1446 Hijriah menggema dengan penuh kebesaran di seluruh dunia. Dari lereng-lereng gunung yang tenang hingga pedesaan yang damai dan gemerlapnya kota-kota besar, umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa dengan penuh kesabaran dan ketakwaan. Takbiran yang dilantunkan bukan hanya sekadar suara, tetapi juga wujud syukur kepada Allah SWT, mengingat kebesaran-Nya yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani Ramadhan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam. Hari yang menandakan berakhirnya bulan puasa, sekaligus sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kekuatan, keteguhan hati, dan kesabaran dalam menahan lapar, dahaga, serta godaan duniawi selama sebulan penuh. Takbiran yang mengalun ini menjadi simbol dari kemenangan tersebut. Namun, lebih dari itu, takbiran juga mengingatkan kita pada makna mendalam dari sejarah perayaan Idul Fitri yang bermula dari zaman Nabi Muhammad SAW.
Sejarah perayaan Idul Fitri dimulai ketika Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umat Islam untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ketika bulan Ramadhan berakhir, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat Islam untuk menyambut Idul Fitri dengan hati yang penuh kegembiraan dan rasa syukur. Pada masa itu, beliau menekankan pentingnya kebersamaan dan persaudaraan dalam merayakan hari yang penuh berkah ini. Di Madinah, beliau dan para sahabat merayakan Idul Fitri dengan menyembelih qurban, memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, dan mengunjungi satu sama lain untuk mempererat tali persaudaraan.
Tak hanya itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan umat Islam untuk memanjatkan doa dan takbir sebagai ungkapan rasa syukur dan kemenangan. Ketika perayaan Idul Fitri tiba, beliau mengajak umatnya untuk keluar menuju lapangan terbuka (musala), mengenakan pakaian terbaik, dan melaksanakan salat Idul Fitri berjamaah sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya. Pada saat itu, suara takbiran pertama kali bergema di langit Madinah, menggetarkan hati umat Islam dengan perasaan haru dan gembira.
Berkaitan dengan takbiran, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya untuk tidak hanya mengucapkan takbir secara lisan, tetapi juga untuk merasakannya dalam hati. Takbiran bukan sekadar suara yang mengalun, tetapi wujud pengakuan terhadap kebesaran Allah yang telah memberikan kita kemampuan untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kesabaran. Takbiran juga menjadi simbol kemenangan atas hawa nafsu dan godaan duniawi yang selama ini menguji ketahanan spiritual kita.
Hari ini, meskipun waktu telah bergulir begitu jauh sejak masa Nabi Muhammad SAW, makna takbiran tetap relevan. Dari satu masjid ke masjid lain, dari kota hingga pedesaan, suara takbiran yang mengalun mengingatkan kita akan kemenangan umat Islam atas ujian yang dihadapi selama Ramadhan. Umat Islam tidak hanya merayakan kemenangan pribadi, tetapi juga merayakan kebersamaan dan kesatuan umat dalam meraih keridhaan Allah SWT. Dalam takbiran itu, terdapat seruan untuk menjaga tali persaudaraan, untuk saling berbagi kebahagiaan dan keberkahan, serta untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Hari Raya Idul Fitri juga merupakan waktu untuk merenung dan memperbaiki diri. Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, hari ini bukan hanya tentang perayaan duniawi, tetapi juga tentang memperbarui komitmen spiritual kita untuk menjalani hidup yang lebih baik. Setelah sebulan berpuasa, umat Islam diberi kesempatan untuk membersihkan hati, meningkatkan amal ibadah, dan menjadikan hari kemenangan ini sebagai momentum untuk memulai hidup yang lebih baik, penuh dengan kedamaian dan kasih sayang kepada sesama.
Takbiran yang berkumandang hari ini tidak hanya berfungsi sebagai perayaan atas berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi juga sebagai refleksi dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang senantiasa mengingatkan umatnya untuk selalu bersyukur, menjaga persaudaraan, dan terus berusaha memperbaiki diri. Takbiran yang mengalun di seluruh dunia adalah tanda bahwa, meskipun jarak memisahkan, umat Islam di seluruh dunia tetap satu dalam iman, satu dalam takbir, dan satu dalam kebahagiaan merayakan kemenangan spiritual.
Idul Fitri adalah hari yang penuh berkah dan kemenangan, baik dalam dimensi duniawi maupun spiritual. Semoga takbiran yang menggemah hari ini mengingatkan kita untuk terus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan menjadikan Idul Fitri 1446 Hijriah sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan berbuat kebaikan bagi sesama. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, momen yang penuh makna untuk merayakan kemenangan dan harapan baru di jalan yang lebih baik.
Camba, 31 Maret 2025
Penulis: Herman Djide, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Nasional Indonesia Cabang Kabupaten Pangkep