PAPUA - Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menjadi sorotan setelah berulang kali melakukan tindakan kekerasan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap warga Papua. Ancaman, intimidasi, dan aksi brutal yang dilakukan kelompok separatis ini telah menciptakan ketakutan mendalam di kalangan masyarakat, khususnya di daerah-daerah rawan konflik. Rabu 2 April 2025.
Dalam berbagai laporan yang dihimpun, warga yang tinggal di kawasan pegunungan dan pedalaman Papua sering kali dipaksa untuk tunduk pada kehendak OPM. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit: mendukung perjuangan kelompok separatis atau menghadapi konsekuensi berupa kekerasan.
"Kami hanya ingin hidup damai, bekerja untuk keluarga, dan tidak terlibat dalam konflik. Namun, ancaman dari kelompok ini membuat hidup kami penuh ketakutan, " ujar seorang warga Kabupaten Nduga, wilayah yang kerap menjadi sasaran kekerasan oleh OPM, Rabu (2/4/2025).
Kekerasan sebagai Senjata Intimidasi
Alih-alih memperjuangkan kebebasan seperti yang mereka klaim, OPM justru kerap menebarkan ancaman bagi masyarakat sipil. Intimidasi dengan senjata, pemukulan, penculikan, hingga pembunuhan terhadap warga yang tidak sejalan dengan mereka menjadi bukti nyata bahwa kelompok ini telah keluar dari batas-batas kemanusiaan.
Selain itu, banyak laporan menyebut bahwa warga yang enggan memberikan dukungan kepada OPM sering menjadi korban pemerasan. Mereka dipaksa untuk menyerahkan uang, makanan, atau barang-barang berharga dengan dalih "sumbangan perjuangan". Jika menolak, mereka harus bersiap menghadapi ancaman bahkan kekerasan fisik.
Papua yang Ingin Damai, Dihantui Teror Tak Berujung
Tindakan OPM yang menekan masyarakat dengan ancaman dan kekerasan jelas merupakan pelanggaran berat terhadap HAM, khususnya hak untuk hidup dalam damai dan bebas dari rasa takut. Namun, hingga saat ini, warga Papua masih terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat aksi brutal kelompok ini.
Pihak keamanan terus berupaya memulihkan stabilitas di Papua dengan menghadirkan perlindungan bagi masyarakat. Namun, selama OPM masih menjadikan kekerasan sebagai senjata utama mereka, harapan akan kedamaian yang sesungguhnya di tanah Papua masih harus diperjuangkan. (APK/Red1922)