Jakarta - Enam dekade bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah persahabatan antarnegara. Tahun 2026 ini menjadi momentum bersejarah bagi Indonesia dan Uruguay yang resmi memperingati 60 tahun hubungan diplomatik mereka.
Bukan sekadar seremoni, kedua negara sepakat meningkatkan komitmen ke level yang lebih konkret. Fokus utamanya adalah penguatan ekonomi, ketahanan pangan, dan transisi energi bersih.
Komitmen strategis ini mengemuka dalam pertemuan bilateral di Jakarta pada Kamis (20/8/2026). Pertemuan dihadiri oleh:
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir dan
Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay, Valeria Csukasi
Kunjungan ini merupakan kehadiran kedua Wamenlu Csukasi di tanah air, setelah sebelumnya menghadiri Forum Konsultasi Bilateral (FKB) I pada September 2025 lalu.
Misi Ketahanan Pangan dan Gerbang Mercosur
Pertemuan kali ini terasa lebih berbobot dengan hadirnya delegasi sektor riil Uruguay. Wamenlu Csukasi turut didampingi oleh:
Wakil Menteri Pertanian Uruguay, Matías Carámbula
Pemimpin National Meat Institute (INAC)
Pemimpin National Milk Institute (INALE)
Kehadiran para petinggi sektor peternakan dan pertanian ini memberi sinyal kuat adanya penjajakan serius di bidang ketahanan pangan. Khususnya, untuk pemenuhan kebutuhan daging dan susu berkualitas di Indonesia.
Selain komoditas pangan, Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk mendorong realisasi putaran pertama perundingan kerja sama perdagangan dengan Mercosur. Mercosur merupakan blok ekonomi raksasa di kawasan Amerika Selatan.
Sebagai negara yang saat ini memegang Presidensi Pro Tempore Mercosur, Uruguay menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penguatan akses pasar Indonesia ke kawasan tersebut menuju kerja sama yang lebih komprehensif.
Kedua belah pihak juga menggarisbawahi pentingnya membangun jembatan interaksi yang lebih intensif antarpelaku usaha demi menggenjot angka investasi bilateral.
Menatap Energi Baru dan Sinergi Multilateral
Selain urusan perut dan perdagangan, masa depan bumi menjadi agenda yang tidak luput dari pembahasan. Indonesia dan Uruguay sepakat mengeksplorasi peluang kerja sama di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT).
Uruguay dikenal memiliki rekam jejak baik dalam transisi energi bersih. Negara ini dipandang sebagai mitra potensial bagi Indonesia untuk mendukung transformasi ekonomi hijau serta memperkuat kemandirian energi kedua negara.
Di luar isu domestik dan bilateral, kedua diplomat senior ini juga saling bertukar pandangan mengenai dinamika politik global. Di tengah ketidakpastian situasi dunia, Indonesia dan Uruguay menegaskan kembali posisi mereka:
Pentingnya penyelesaian konflik secara damai.Mengutamakan jalur dialog dan diplomasi.Tetap menjunjung tinggi hukum internasional yang berlaku.
Filateli Tradisional: Simbol Kedekatan Enam Dekade
Sebagai penutup manis dari rangkaian agenda formal, kedua negara meluncurkan prangko bersama (joint stamp) edisi khusus 60 tahun hubungan diplomatik.
Uniknya, prangko ini menampilkan visual kerajinan tradisional dari masing-masing negara. Pemilihan desain ini menjadi representasi visual dari:
Kekayaan budaya.Kreativitas masyarakat.Simbol kehangatan hubungan kedua negara yang telah terjalin harmonis selama enam dekade.
Peluncuran prangko ini diharapkan tidak hanya menjadi barang koleksi para filatelis. Lebih dari itu, prangko ini menjadi pengingat abadi atas komitmen kedua bangsa untuk terus berjalan beriringan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama di masa depan.⁹
















































