MAGELANG - Inovasi pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat di Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mendapat perhatian dalam visitasi Kompolnas Award 2026, Kamis (27/8/2026).
Tim Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI mendatangi langsung Bank Sampah INOVA untuk melihat proses pengelolaan program yang digerakkan bersama masyarakat dengan melibatkan Bhabinkamtibmas Desa Mertoyudan, Aiptu Dillia Rikasari.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penilaian Kompolnas Award 2026 sekaligus momentum untuk melihat secara langsung inovasi kepolisian yang menyentuh persoalan sosial dan lingkungan di tengah masyarakat.

Tim Kompolnas yang hadir terdiri dari Anggota Kompolnas Dr. Yusuf, S.Ag., M.H., Tim Juri Kompolnas Award Sonya Hellen Sinombor, S.H., M.H., Kasubbag Persidangan dan Humas Dr. Mardonna Lamtio, S.Pd., M.M., serta Spri Anggota Kompolnas Julius Abdul Rahman. Rombongan didampingi personel Itwasda Polda Jawa Tengah.
Kompolnas Lihat Langsung Pengelolaan Bank Sampah
Setibanya di Dusun Prajenan, rombongan Kompolnas disambut pertunjukan seni sebelum mengikuti pemaparan mengenai latar belakang, sistem pengelolaan dan perkembangan Bank Sampah INOVA.
Dalam visitasi tersebut, pengelola menjelaskan proses pemilahan dan pengumpulan sampah hingga mekanisme pembukuan. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dikelola untuk memberikan manfaat bagi warga, sedangkan sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan mendukung kegiatan pertanian.
Program tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat. Warga tidak hanya diajak mengurangi sampah, tetapi juga mengolah barang bekas menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Terhubung dengan Budidaya Lele
Tim Kompolnas juga meninjau Bumdes budidaya lele yang berada di sekitar lokasi Bank Sampah INOVA.
Keterkaitan tersebut menunjukkan pengelolaan lingkungan di Dusun Prajenan mulai dikembangkan dengan aktivitas ekonomi produktif. Konsepnya menghubungkan pengelolaan sampah dengan potensi masyarakat sehingga manfaat program tidak berhenti pada kebersihan lingkungan.
Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri, S.I.K., S.H., turut hadir bersama pejabat utama Polresta Magelang. Hadir pula unsur Pemerintah Kabupaten Magelang, Forkopimcam Mertoyudan, Pemerintah Desa Mertoyudan, perangkat desa, Ketua RW dan RT Dusun Prajenan serta pengelola Bank Sampah INOVA.
Inovasi Polisi yang Tumbuh dari Persoalan Warga
Bank Sampah INOVA menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan lingkungan di tingkat desa dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan masyarakat.
Peran Bhabinkamtibmas Aiptu Dillia Rikasari menjadi bagian penting dalam menghubungkan kepolisian dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk membangun gerakan bersama.

Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri mengapresiasi inovasi tersebut dan menilai program Bank Sampah INOVA memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung apa yang telah dilakukan Aiptu Dillia Rikasari. Inovasi bank sampah ini merupakan langkah positif dan nyata dalam pengelolaan lingkungan, ” ujar Edy.
Menurut Edy, kreativitas anggota dalam melihat persoalan di wilayah binaan perlu terus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Semoga apa yang telah dilakukan ini bisa menjadi contoh dan ditiru oleh anggota yang lain. Kami mendorong setiap anggota untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata, ” tegasnya.
Kompolnas Dorong Program Terus Berkembang
Dalam sesi ramah tamah, Tim Kompolnas berharap Bank Sampah INOVA tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi terus dikembangkan sehingga mampu memberikan manfaat lebih luas.
Kolaborasi antara Polri, pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat dinilai menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Bagi warga Dusun Prajenan, Bank Sampah INOVA bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah. Program tersebut berkembang menjadi ruang edukasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan potensi lokal.
Visitasi Kompolnas Award 2026 pun menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa inovasi di tingkat desa dapat tumbuh dari persoalan sederhana. Dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, masyarakat membangun kebiasaan memilah, mengolah dan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang produktif.
(Agung)











































