MAGELANG - Persoalan sampah di Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, perlahan diubah menjadi peluang ekonomi. Bhabinkamtibmas Desa Mertoyudan, Aiptu Dillia Rika Sari, S.H., menginisiasi Bank Sampah INOVA yang mengajak warga memilah, mengolah, hingga memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Kamis (27/8/2026).
Gerakan tersebut lahir dari persoalan lingkungan yang dihadapi warga, mulai dari keterbatasan tempat pembuangan hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan. Melalui Bank Sampah INOVA, masyarakat tidak hanya didorong menjaga kebersihan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang dikumpulkan.

Konsepnya sederhana. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dipilah dari rumah, kemudian dikumpulkan, ditimbang dan dijual. Hasil penjualan dicatat sebagai tabungan sampah warga.
Sementara sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk organik. Pengelolaan juga dikembangkan melalui budidaya maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk sektor perikanan maupun peternakan.
Sampah Jadi Tabungan hingga Media Tanam
Ketua Bank Sampah INOVA Prajenan, Tini Lestari, mengatakan warga terus diajak aktif memilah sampah rumah tangga agar memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat bagi lingkungan.
“Kami menggerakkan seluruh warga Dusun Prajenan untuk mengikuti kegiatan bank sampah yang bergerak di bidang jual beli sampah yang memiliki nilai ekonomis. Limbah rumah tangga juga kami olah menjadi media tanam untuk menanam sayuran di sekitar rumah dalam mendukung program ketahanan pangan, ” ujar Tini.
Kreativitas warga juga muncul dari barang bekas yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Sejumlah sampah dan barang bekas diolah menjadi pot tanaman, tempat sampah berbahan galon bekas air mineral hingga tempat cuci tangan.
Menurut Tini, keberadaan Bank Sampah INOVA memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena sampah tidak lagi seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
“Dengan adanya bank sampah ini sangat bermanfaat bagi warga karena dapat mengurangi sampah di sekitar kita. Sampah yang masih bisa diolah dapat dimanfaatkan menjadi tempat sampah, pot bunga maupun tempat cuci tangan, ” katanya.
Pengolahan sampah organik juga dikaitkan dengan ketahanan pangan keluarga. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai media tanam sayuran di sekitar rumah sehingga sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi secara mandiri.
Kepala Desa: Sampah Bisa Tambah Penghasilan
Kepala Desa Mertoyudan, Eko Sungkono, mengapresiasi inisiatif Bhabinkamtibmas yang mendorong terbentuknya Bank Sampah INOVA.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Bhabinkamtibmas kami yang telah membentuk bank sampah untuk Desa Mertoyudan. Bank sampah ini sangat bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah, khususnya dalam menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat, ” ungkap Eko.
Eko menilai sampah yang memiliki nilai jual dapat menjadi tambahan penghasilan bagi warga. Sedangkan sampah organik dapat dikembalikan ke lingkungan dalam bentuk pupuk.
“Dengan adanya bank sampah ini, masyarakat mendapatkan pelajaran dan kesadaran bagaimana mengelola sampah dengan baik. Sampah yang bisa dijual dapat menambah income masyarakat, sedangkan bahan organik dapat diolah menjadi pupuk, ” lanjutnya.
DLH Kabupaten Magelang Beri Apresiasi
Gerakan Bank Sampah INOVA juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Dr. Nanang Tri Agung Edi Hermawan, S.T., M.T., memberikan apresiasi terhadap upaya warga Dusun Prajenan dalam mengelola lingkungan.
“Saya menyampaikan dukungan dan apresiasi kepada Bank Sampah INOVA, Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, yang telah berkomitmen dalam pengelolaan lingkungan, ” ujar Nanang.
Menurut Nanang, Bank Sampah INOVA tidak berhenti pada pengelolaan sampah anorganik. Kegiatannya berkembang mencakup pembuatan kompos, kreasi berbahan sampah serta konsep integrated farming.
Ia berharap gerakan tersebut terus berkembang dan menjadi contoh bagi wilayah lain.
“Semoga Bank Sampah INOVA terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam mewujudkan Magelang yang resik lingkungane, lestari alame, ” katanya.
Kapolresta Magelang Dorong Polisi Terus Berinovasi
Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri turut memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan Aiptu Dillia Rika Sari.
Edy menilai Bank Sampah INOVA menunjukkan bahwa anggota Polri dapat melihat persoalan di wilayah binaannya sekaligus mendorong masyarakat mencari solusi bersama.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung apa yang telah dilakukan Aiptu Dillia Rika Sari. Inovasi bank sampah ini merupakan langkah positif dan nyata dalam pengelolaan lingkungan, ” ujar Edy.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berdampak terhadap kebersihan, tetapi juga menunjukkan kepedulian anggota terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Edy berharap inovasi serupa dapat dikembangkan oleh anggota Polri lainnya di wilayah masing-masing.
“Semoga apa yang telah dilakukan ini bisa menjadi contoh dan ditiru oleh anggota yang lain. Kami mendorong setiap anggota untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata, baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, ” tegasnya.
Dari Sampah Lahir Pemberdayaan
Bagi Aiptu Dillia, persoalan sampah menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian dan gotong royong masyarakat. Warga diajak memulai perubahan dari rumah dengan memilah sampah sebelum dibuang.

Dari sampah anorganik muncul nilai ekonomi. Sampah organik berubah menjadi kompos. Barang bekas disulap menjadi berbagai kebutuhan lingkungan. Sementara kegiatan bersama memperkuat komunikasi dan kepedulian antarwarga.
Bank Sampah INOVA akhirnya berkembang bukan sekadar menjadi tempat mengumpulkan sampah. Program tersebut menjadi ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Dari Dusun Prajenan, Mertoyudan, gerakan sederhana memilah sampah menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang. Sampah yang semula dianggap tidak bernilai kini bisa menjadi tabungan, pupuk, media tanam hingga sumber penghasilan tambahan bagi warga.
(Agung)











































