Cegah Karhutla, Dit Intelkam Polda Jateng Tanam 1.000 Pohon Kopi di Lereng Sumbing

3 weeks ago 34

MAGELANG - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau diantisipasi Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah dengan gerakan penghijauan di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang.

Sebanyak 1.000 pohon kopi dan tanaman keras ditanam melalui kegiatan Sapa Semesta di Dusun Gendol, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Nestra Wellness Café itu mengusung tema “Jangan Bakar Hutan dan Lahan, Wujudkan Lingkungan Aman, Sehat dan Lestari.”

Gerakan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Polri, TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, perguruan tinggi, pelaku usaha hingga masyarakat.

Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan yang juga diisi dengan aksi bersih lingkungan, penyerahan bibit tanaman, alat pertanian dan peralatan pengolah kopi kepada masyarakat.

Polda Jateng: Jangan Tunggu Api Muncul

Direktur Intelkam Polda Jawa Tengah Kombes Pol Syahbuddin mengatakan pencegahan karhutla harus dilakukan sebelum api muncul dan meluas.

Menurutnya, kondisi geografis Kabupaten Magelang yang dikelilingi kawasan pegunungan membuat kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian bersama, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Jangan sampai kita menunggu terjadi kebakaran terlebih dahulu baru kemudian melakukan tindakan. Mari kita bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini, salah satunya dengan menjaga dan menghijaukan lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon, ” ujar Syahbuddin.

Ia menyebut potensi kebakaran dapat dipicu berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia yang dianggap sepele.

“Kita juga harus menyadari bahwa kebakaran dapat berawal dari hal-hal yang terlihat kecil. Misalnya, puntung rokok yang dibuang sembarangan dapat menjadi salah satu sumber munculnya api, ” tegasnya.

Karena itu, Syahbuddin meminta masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sektor pertanian dan pariwisata, ikut menjaga kawasan lingkungan dari potensi sumber api.

Pencegahan Karhutla Butuh Kolaborasi

Syahbuddin menegaskan upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja.

Pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas, kelompok tani hingga masyarakat memiliki peran dalam menjaga kawasan rawan kebakaran.

“Pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas, serta seluruh masyarakat harus memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama, ” ungkapnya.

Ia menambahkan, langkah pencegahan memiliki dampak yang jauh lebih kecil dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.

“Pada prinsipnya, mencegah jauh lebih mudah dan lebih murah daripada menanggulangi dampak yang ditimbulkan setelah kebakaran terjadi, ” jelas Syahbuddin.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Ini bukanlah start atau awal dari pencegahan karhutla, tetapi merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang harus kita lakukan bersama, ” katanya.

Kapolresta Magelang Dorong Kesadaran Warga

Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan jajaran Polresta Magelang terhadap gerakan pencegahan karhutla dan pelestarian lingkungan di wilayah Kabupaten Magelang.

Edy menilai pencegahan kebakaran harus dibangun melalui kepedulian masyarakat dan pengawasan bersama.

“Pencegahan karhutla membutuhkan sinergi dan kepedulian bersama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi juga seluruh masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan dan lahan, ” ujar Edy.

Menurutnya, penanaman pohon memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar menghijaukan kawasan.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran bahwa lingkungan harus dijaga bersama. Pencegahan jauh lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan, ” katanya.

Polresta Magelang juga mendorong koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, TNI, pemerintah desa, kelompok tani, relawan dan masyarakat untuk memperkuat langkah antisipasi.

Pemkab Magelang: Sumbing Penopang Kehidupan Warga

Pemkab Magelang menyambut positif gerakan penghijauan di lereng Gunung Sumbing tersebut.

Pj. Sekda Kabupaten Magelang David Rubiyanto mengatakan kawasan Gunung Sumbing tidak hanya memiliki nilai wisata, tetapi juga berperan penting terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya.

“Gunung Sumbing bukan hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga merupakan bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya, ” kata David saat membacakan sambutan Bupati Magelang.

Menurutnya, kawasan pegunungan memiliki fungsi penting dalam menjaga sumber air, kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem.

David juga mengingatkan agar gerakan penghijauan tidak berhenti setelah bibit ditanam.

“Melalui penanaman seribu pohon, kita menanam harapan sekaligus memperkuat lingkungan bagi generasi mendatang, ” ujarnya.

Ia meminta tanaman yang telah ditanam dirawat dan kawasan yang sudah dibersihkan tetap dijaga dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Nestra Sebut Sudah Tanam 3.000 Pohon

Dukungan terhadap penghijauan juga datang dari PT Nestra Kottama Indonesia. Direktur Utama/CEO Sigit Ismaryanto mengatakan pihaknya terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, aparat keamanan, perguruan tinggi dan masyarakat.

“Kami ingin terus membangun sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, perguruan tinggi, maupun masyarakat, ” kata Sigit.

Menurut Sigit, kawasan Sukomakmur diarahkan menjadi ekosistem yang menggabungkan sektor pariwisata, kelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ia menyebut perusahaan telah berkontribusi menanam sekitar 3.000 pohon.

“Nestra berkontribusi menanam sebanyak 3.000 pohon dan saat ini sudah berubah, meskipun pohonnya kecil tetapi sudah berbuah, ” ujarnya.

Selain penghijauan, pengelolaan sampah dan pencegahan sumber api juga menjadi perhatian. Edukasi mengenai bahaya membuang puntung rokok sembarangan dinilai penting, khususnya di kawasan yang memiliki vegetasi kering saat musim kemarau.

Penghijauan Sekaligus Dorong Ekonomi Lokal

Gerakan di lereng Gunung Sumbing tersebut tidak hanya diarahkan untuk konservasi lingkungan. Pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian dari kegiatan.

Nestra mendorong pengembangan sejumlah potensi lokal, termasuk rencana pemanfaatan lokasi sebagai rumah tempe untuk mendukung aktivitas ekonomi warga.

“Kami ingin agar segala potensi yang ada di wilayah ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ” jelas Sigit.

Pengembangan potensi budaya juga dilakukan melalui pembinaan kelompok seni di Desa Sukomakmur.

Sigit berharap Sukomakmur dapat berkembang menjadi salah satu kawasan penyangga wisata Borobudur dengan mengandalkan potensi alam, budaya dan ekonomi kreatif masyarakat.

Bibit, Peralatan Pertanian hingga Alat Pengolah Kopi Diserahkan

Dalam rangkaian kegiatan Sapa Semesta, sejumlah bantuan diserahkan kepada masyarakat berupa bibit tanaman, alat pertanian dan peralatan pengolah kopi.

Setelah penyerahan bantuan, peserta bersama-sama melakukan penanaman 1.000 pohon kopi dan tanaman keras di kawasan lereng Gunung Sumbing.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi bersih lingkungan di sekitar lokasi.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 09.15 WIB dan berakhir pada pukul 11.00 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, lancar dan kondusif.

Menanam Pohon, Menjaga Sumber Kehidupan

Penanaman 1.000 pohon menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat kepedulian terhadap kawasan lereng Gunung Sumbing. Namun, keberhasilan penghijauan tidak berhenti pada proses penanaman.

Perawatan, pemantauan dan penyulaman bibit yang tidak tumbuh menjadi tahapan penting agar program tersebut memberikan manfaat jangka panjang.

Di sisi lain, edukasi mengenai larangan pembakaran lahan dan kewaspadaan terhadap sumber api harus terus dilakukan selama musim kemarau.

Sinergi antara aparat, pemerintah, kelompok tani, pelaku usaha, perguruan tinggi dan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat pencegahan karhutla.

Sebab, ketika satu batang pohon ditanam hari ini, yang dijaga bukan hanya kawasan hijau, tetapi juga air, tanah, pertanian, pariwisata dan kehidupan masyarakat di lereng Gunung Sumbing.

(Agung)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |