Ironi Angklung: Bergaung di Australia dan Jepang, Meredup di Rumah Sendi

2 hours ago 2

Jakarta - Ruang kelas riuh oleh gelak tawa anak-anak. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam bilah bambu, menggoyangkannya bergantian hingga tercipta harmoni nada yang memukau.

Suasana penuh energi ini tidak sedang terjadi di Jakarta atau Bandung. Keajaiban ini justru bergaung jauh di New South Wales, Australia.

Konsul Jenderal RI Sydney Leonard Sondakh menegaskan bahwa diplomasi budaya merupakan salah satu cara paling efektif untuk membangun kedekatan antarmasyarakat kedua negara.

Melalui program Indonesia Goes to School (IGtS) oleh KJRI Sydney, lebih dari 1.100 pelajar Australia di International Grammar School Sydney dan Claremont College Randwick dibuat jatuh cinta pada budaya Nusantara.

Menembus Kurikulum Formal di Negeri Sakura

Tak hanya di Negeri Kanguru, resonansi angklung juga menembus Negeri Sakura. Suara angklung tidak cukup bermakna bila hanya digoyangkan oleh satu anak. Namun, saat digetarkan bersama-sama, tercipta harmoni yang indah.

Filosofi gotong royong inilah yang kini dirasakan oleh siswa-siswi di Gifu Special Needs School, Jepang. Mulai tahun ajaran 2026, sekolah berkebutuhan khusus tersebut resmi memasukkan angklung ke dalam kurikulum musik mereka.

Terobosan ini lahir dari kolaborasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Gifu University, dan otoritas pendidikan setempat yang dirintis sejak tahun 2022.

Yukihiro Saitoh dari Gifu City Board of Education menilai angklung bukan sekadar alat musik, melainkan media pembentuk karakter.

"Masuknya pembelajaran Angklung menjadi bagian dari kurikulum Gifu Special Needs School menjadi bukti kuatnya people-to-people contact hubungan persahabatan Indonesia-Jepang, " tutur Duta Besar RI Nurmala Kartini Sjahrir, dikutip dari siaran pers KBRI Tokyo.

Pencapaian diplomasi budaya ini tentu patut diacungi jempol. Namun, di balik rasa bangga tersebut, terselip sebuah pertanyaan reflektif: Kapan terakhir kali kita mendengar gemercik suara angklung menggema di ruang kelas sekolah tanah air, khususnya di kota-kota besar?

Ironi di Rumah Sendiri

Apakah kita perlahan melupakan angklung sebagai seni budaya milik sendiri? Pertanyaan ini adalah alarm pengingat.

Di era gempuran teknologi, budaya pop global, dan kurikulum yang padat target akademis, pelajaran seni musik tradisional sering kali tergeser ke pinggiran.

Angklung, yang sejak tahun 2010 diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, kini lebih sering kita temui di acara seremonial pejabat, hotel bintang lima, atau tempat wisata khusus. Instrumen ini mulai asing di tangan generasi muda sekolah umum.

Padahal, karakteristik angklung yang membutuhkan kerja sama kelompok adalah pengejawantahan nyata dari nilai "gotong royong". Nilai luhur bangsa ini padahal sedang gencar digaungkan kembali dalam Profil Pelajar Pancasila

Menghidupkan Kembali Ritme yang Hilang

Antusiasme guru musik di Australia dan Jepang seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan kita. Jika sekolah di luar negeri melihat potensi edukasi luar biasa dari sepotong bambu bernada ini, mengapa kita justru kerap abai?

Menghidupkan kembali angklung di sekolah tidak harus menjadi beban kurikulum yang berat. Langkah ini bisa dimulai dari strategi kreatif:

Ekstrakurikuler Interaktif:

Mengemas klub angklung dengan aransemen lagu pop modern yang digandrungi generasi z dan alfa.

Kolaborasi Industri Kreatif:

Mengajak komunitas seni dan sanggar budaya masuk ke sekolah untuk lokakarya berkala.

Apresiasi Panggung Sekolah:

Memberikan ruang tampil bagi tim musik tradisional dalam setiap acara penting atau pentas seni sekolah.

Diplomasi budaya ke luar negeri sangat krusial untuk membangun citra bangsa. Namun, akar budaya di dalam negeri juga tidak boleh keropos. Jangan sampai kita baru sibuk berteriak "milik kita" ketika budaya tersebut diklaim pihak lain, padahal sehari-hari kita membiarkannya berdebu di gudang sekolah

.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |