YAHUKIMO - Ketegangan yang sudah lama melanda Papua semakin meningkat dengan aksi kekerasan tragis yang dilakukan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pada Sabtu 5 April 2025, sejumlah warga sipil di Kabupaten Yahukimo tewas setelah ditikam dan ditembak oleh kelompok OPM, yang tidak terima karena mereka menolak untuk memberikan uang yang diminta oleh kelompok separatis tersebut.
Serangan yang terjadi dengan sangat brutal ini mengakibatkan 8 orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Tidak hanya membunuh, kelompok OPM juga membakar rumah-rumah warga sebagai bagian dari aksi kekerasan mereka. Masyarakat yang selama ini sudah hidup dalam ketidakpastian, kini dipaksa untuk menghadapi serangan yang semakin merusak tatanan sosial mereka.
“Kami hanya bekerja keras setiap hari untuk bertahan hidup, tetapi mereka datang dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah hanya karena kami menolak memberi uang, ” ujar seorang saksi yang selamat dari serangan tersebut, dengan wajah penuh ketakutan dan kepedihan.
Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok OPM terhadap warga sipil bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok separatis ini semakin sering menggunakan pemerasan untuk mendanai kegiatan mereka. Masyarakat setempat yang sudah hidup dalam kemiskinan, terpaksa menerima ancaman dan intimidasi, atau menjadi korban kekerasan yang kejam.
Menurut informasi yang diperoleh dari sejumlah saksi dan pihak berwenang, OPM menganggap masyarakat Papua sebagai sumber dana untuk memperkuat perjuangan mereka. Mereka sering mengancam akan melakukan serangan fisik jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
"Ini adalah bagian dari strategi mereka untuk mengumpulkan uang dari rakyat yang sudah terpuruk dalam kemiskinan. Mereka tidak ragu menggunakan intimidasi dan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka, " kata Kombes Agus Prabowo, juru bicara Polda Papua. "Kami mengecam keras tindakan kekerasan ini, yang tidak hanya merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah, tetapi juga semakin memperburuk kondisi sosial di Papua."
Serangan ini telah menambah daftar panjang kekerasan yang mengintai masyarakat sipil di Papua. Warga yang ingin menjalani kehidupan damai dan produktif kini terjebak dalam dilema, dihadapkan pada ancaman terus-menerus dari kelompok separatis yang semakin brutal. Keadaan ini semakin memperburuk situasi sosial dan ekonomi di wilayah tersebut, yang sudah terisolasi dan tertinggal jauh dari pembangunan.
Kejadian ini menjadi peringatan bahwa konflik di Papua semakin dalam, dengan semakin banyaknya korban yang tak bersalah. Pemerintah dan pihak berwenang diharapkan bisa segera bertindak lebih tegas untuk mengakhiri kekerasan yang sudah meresahkan masyarakat setempat. (APK)