Konferkab PWI Kabupaten Semarang Dibuka, Ketua PWI Jateng Dorong Penguatan Organisasi dan Profesionalisme Wartawan

2 weeks ago 8

UNGARAN - Konferensi Kabupaten (Konferkab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Semarang menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun langkah strategis menghadapi tantangan dunia jurnalistik di era digital.

Konferkab PWI Kabupaten Semarang digelar di ruang pressroom, Ungaran, Kabupaten Semarang, pada Senin (31/8/2026). Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana menilai forum tersebut tidak semata-mata menjadi agenda pergantian kepengurusan.

Menurutnya, konferensi harus menghasilkan keputusan yang mampu memperkuat organisasi sekaligus menjaga marwah profesi jurnalistik.

“PWI merupakan organisasi besar dan organisasi yang tertua di Indonesia, ” ujar Setiawan yang akrab disapa Iwan.

Iwan mengatakan, perjalanan panjang PWI dalam sejarah pers Indonesia membawa tanggung jawab besar bagi seluruh anggotanya.

Organisasi wartawan, kata dia, harus memastikan anggotanya menjalankan profesi dengan menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme.

Karena itu, Konferkab PWI Kabupaten Semarang diharapkan tidak berhenti pada proses memilih atau menetapkan kepengurusan baru.

Forum tersebut harus menjadi ruang untuk melakukan evaluasi, menyusun program kerja dan memperkuat kualitas sumber daya manusia di tubuh organisasi.

Terlebih, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Iwan menyoroti tantangan wartawan di tengah derasnya arus informasi digital.

Media sosial dan berbagai platform digital memungkinkan informasi menyebar dalam waktu sangat cepat. Namun, kondisi tersebut juga membawa risiko apabila wartawan lebih mengutamakan kecepatan dibandingkan akurasi.

Menurut Iwan, wartawan tetap wajib melakukan verifikasi, menjaga etika jurnalistik, memahami aspek hukum serta memastikan informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia berharap anggota PWI Kabupaten Semarang mampu menjadi contoh bagi masyarakat mengenai bagaimana profesi wartawan dijalankan secara profesional.

“Ketika masyarakat bertanya seperti apa wartawan itu, lihatlah anggota PWI, ” tegas Iwan.

Pernyataan tersebut menjadi pesan kuat bahwa status sebagai anggota PWI harus tercermin dalam kualitas karya jurnalistik.

Kartu keanggotaan, menurutnya, bukan sekadar identitas organisasi, tetapi harus dibarengi dengan sikap dan perilaku profesional ketika menjalankan tugas jurnalistik.

Iwan menekankan pentingnya wartawan memahami serta menerapkan Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers dan berbagai ketentuan yang ditetapkan Dewan Pers.

“Wartawan yang betul-betul menegakkan kode etik jurnalistik. Wartawan yang betul-betul menegakkan aturan yang ada di dalam undang-undang negara. Wartawan yang betul-betul menegakkan peraturan-peraturan yang memang dibuat oleh Dewan Pers, ” paparnya.

Menurutnya, profesionalisme wartawan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menulis berita.

Wartawan juga dituntut memahami batas-batas hukum, menjaga independensi, menghormati etika serta memiliki integritas dalam menjalankan tugas.

Iwan melihat PWI Kabupaten Semarang memiliki posisi strategis dalam perkembangan organisasi kewartawanan di Jawa Tengah.

Ia menyinggung kondisi organisasi PWI di wilayah Semarang yang menurutnya memiliki ketentuan tersendiri dalam struktur organisasi.

“Karena kita tidak punya PWI Kota Semarang. Dilarang oleh peraturan kita. Karena aturan kita tidak membolehkan ada PWI di ibu kota provinsi, ” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, penguatan PWI Kabupaten Semarang dinilai menjadi semakin penting.

Data yang disampaikan dalam forum menyebut PWI Kabupaten Semarang saat ini memiliki 10 anggota yang mempunyai hak suara.

Jumlah tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi, terutama berkaitan dengan kaderisasi dan regenerasi wartawan.

Menurut Iwan, keberlangsungan organisasi sangat bergantung pada kemampuan melakukan regenerasi.

Kaderisasi wartawan harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi. Wartawan baru perlu mendapatkan pembekalan sejak tahap orientasi hingga mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Kompetensi yang dibutuhkan juga semakin kompleks.

Wartawan tidak cukup hanya mampu mencari informasi dan menulis berita. Mereka harus memahami hukum pers, menguasai prinsip jurnalistik, menjaga independensi, menjunjung etika dan memiliki integritas.

Tantangan tersebut semakin besar seiring pesatnya perkembangan media siber.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam dunia jurnalistik.

Iwan menilai teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses kerja jurnalistik. Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak boleh menghilangkan tanggung jawab wartawan terhadap informasi yang dipublikasikan.

Verifikasi, pengecekan fakta dan akurasi tetap menjadi kewajiban.

Informasi yang dihasilkan dengan bantuan teknologi harus diperiksa kembali sebelum disampaikan kepada publik.

Menurutnya, kepentingan masyarakat harus tetap menjadi landasan utama dalam kerja jurnalistik.

Di tengah derasnya informasi digital, tantangan terbesar media bukan hanya bagaimana menjadi yang tercepat, tetapi bagaimana menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya.

Setiap berita harus melalui proses jurnalistik yang benar. Fakta perlu diverifikasi, sumber harus jelas dan informasi tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar kecepatan publikasi.

Karena itu, Konferkab PWI Kabupaten Semarang diharapkan menghasilkan lebih dari sekadar kepengurusan baru.

Forum tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat organisasi, meningkatkan kompetensi anggota, memperluas kaderisasi dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap profesi wartawan.

Iwan berharap hasil Konferkab PWI Kabupaten Semarang memberikan manfaat bagi internal organisasi sekaligus pihak-pihak yang selama ini menjalin kemitraan dengan PWI.

Ia meminta seluruh peserta menjadikan konferensi sebagai momentum untuk membangun organisasi yang semakin profesional.

“Selamat berkonferensi. Mudah-mudahan hasil dari konferensi ini akan menjadi kebaikan untuk kita semua, ” pungkas Iwan sebelum secara resmi membuka Konferkab PWI Kabupaten Semarang.

Konferkab tersebut akhirnya menjadi titik penting bagi PWI Kabupaten Semarang untuk melihat kembali perjalanan organisasi sekaligus menatap masa depan.

Di tengah perubahan teknologi, kemunculan AI dan semakin cepatnya arus informasi, tantangan wartawan bukan semakin ringan.

Justru sebaliknya, tuntutan terhadap akurasi, etika, independensi, kompetensi dan integritas semakin tinggi.

Bagi PWI Kabupaten Semarang, momentum konferensi menjadi kesempatan untuk memastikan organisasi tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan tetap dipercaya masyarakat sebagai bagian penting dari ekosistem pers Indonesia.

(Agung)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |