MAKASSAR - Dari proyek jalan dan dunia konstruksi, Hasbi Syamsu Ali bergerak ke organisasi profesi, alumni, olahraga, hingga gerakan masyarakat. Di banyak ruang yang dimasukinya, ada satu pola yang sama: membangun jejaring, menyatukan orang, lalu mengubahnya menjadi kekuatan bersama.
Ada yang membangun jalan. Ada yang membangun gedung. Ada pula yang membangun sesuatu yang tak kasatmata, seperti kepercayaan, jejaring, dan harapan. Namun sosok Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM menjalani keduanya.
Sebagai insinyur teknik sipil, ia menekuni dunia konstruksi dan kemudian membangun perusahaan sendiri, PT Wiratama Karya Nugraha (WKN). Perusahaan yang dipimpinnya tercatat sebagai badan usaha jasa konstruksi berkualifikasi besar. Salah satu proyek yang pernah dikerjakan WKN adalah penanganan longsoran ruas Watampone-Pompanua-Ulugalung di Sulawesi Selatan dengan nilai kontrak sekitar Rp47, 17 miliar.
Namun perjalanan Hasbi tidak berhenti pada proyek dan neraca perusahaan. Pengalaman sebagai pelaku industri membawanya masuk ke ruang organisasi profesi. Ia pernah dipercaya memimpin Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Sulawesi Selatan dan kemudian menjadi Sekretaris DPD Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sulsel. Di ruang itu, persoalan konstruksi tidak lagi dilihat sebatas urusan perusahaan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan dan kepentingan publik.
Dari sana, jalurnya melebar. Hasbi aktif di Ikatan Alumni Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (IKATSI), sebelum kemudian dipercaya menjadi ketua umum periode 2021–2025. Baginya, organisasi alumni bukan sekadar tempat bernostalgia. Jejaring alumni harus menjadi modal sosial yang dapat dikonversi menjadi kolaborasi, gagasan dan manfaat bagi almamater maupun masyarakat.
Cara pandang itu kemudian ia bawa ke ruang yang lebih luas. Dalam keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Hasbi terlibat dalam agenda besar PSBM dan Mubes KKSS. Ia dipercaya sebagai Koordinator Expo PSBM XXV dan Mubes XII KKSS pada 2025.
Di tengah jaringan diaspora Sulawesi Selatan yang begitu besar, ia membawa kembali sebuah falsafah yang akrab dalam kebudayaan Bugis-Makassar: Sirui Menre Tessirui No’.

Naik Tak Meninggalkan yang Lain
Bagi Hasbi, falsafah itu bukan sekadar ungkapan budaya. Ia adalah cara memandang organisasi: keberhasilan seseorang seharusnya membuka jalan bagi orang lain untuk ikut tumbuh. Barangkali prinsip itulah yang menjelaskan mengapa perjalanan organisasinya terus melebar.
Pada 2026, Hasbi dipercaya memimpin Pengurus Provinsi Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sulawesi Selatan. Di sana ia kembali berbicara tentang konsolidasi, pembinaan atlet, penguatan klub, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, serta pembangunan sistem kompetisi.
Lapangan olahraga pun menjadi ruang lain tempat ia belajar membangun manusia. Dari dunia profesional dan organisasi profesi, Hasbi akhirnya menemukan ruang pengabdian yang lebih dekat dengan identitas sosialnya.
Ia dipercaya memimpin Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan periode 2022–2027. Di tangannya, KKLR tidak hanya ditempatkan sebagai ruang silaturahmi Wija To Luwu di perantauan. Organisasi itu juga didorong menjadi simpul komunikasi, penguatan sumber daya manusia, jejaring usaha dan aspirasi pembangunan.
Dari sinilah perjalanan Hasbi kemudian bertaut dengan agenda yang lebih besar, yakni perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Ia dipercaya menjadi salah satu penggerak konsolidasi BPP DOB Provinsi Luwu Raya sekaligus Ketua Umum FORKODA PP DOB Sulawesi Selatan. Sepanjang 2026, ia bergerak dari satu daerah ke daerah lain di Tana Luwu, mempertemukan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, tokoh adat dan berbagai elemen masyarakat.
Tak Sekadar Mengumpulkan Dukungan
Hasbi mencoba menyusun argumentasi bahwa Luwu Raya bukan hanya membutuhkan provinsi baru karena alasan rentang kendali pemerintahan, tetapi memiliki potensi strategis bagi masa depan Indonesia timur. Sumber daya mineral, pertanian, perikanan, konektivitas, hilirisasi dan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian dari narasi tersebut.
Namun Hasbi juga mengingatkan bahwa masa depan Luwu Raya tidak boleh dibangun hanya di atas tambang. Kekayaan mineral dapat habis. Sementara manusia dan institusi harus terus tumbuh. Karena itu, ia mendorong pengembangan sektor non-tambang dan mengajak jaringan alumni serta profesional ikut mengambil peran dalam membangun ekonomi daerah.
Di titik ini, pengalaman panjang Hasbi seperti menemukan satu garis lurus. Seorang insinyur terbiasa membangun fondasi sebelum mendirikan struktur. Seorang pengusaha belajar menghitung risiko sebelum mengambil keputusan. Seorang organisator belajar bahwa tujuan besar tidak mungkin dicapai seorang diri. Dan seorang penggerak masyarakat belajar bahwa cita-cita hanya akan bertahan jika menjadi milik bersama.
Semua pengalaman itu kini bertemu dalam dirinya. Hasbi bukan pejabat negara. Ia tidak memiliki kewenangan formal untuk menentukan arah sebuah daerah. Pengaruhnya tumbuh dari tempat lain: profesi, pengalaman, organisasi dan jejaring yang dibangun selama bertahun-tahun.
Itulah bentuk kepemimpinan yang sedang ia jalani. Kepemimpinan berbasis kepercayaan dan kolaborasi. Mungkin karena itu pula kata “membangun” menjadi relevan untuk membaca perjalanan Hasbi Syamsu Ali.
Ia pernah membangun infrastruktur. Kemudian membangun perusahaan. Membangun organisasi profesi. Membangun jejaring alumni. Membangun ruang kolaborasi diaspora. Membangun pembinaan olahraga. Dan kini ikut membangun sebuah cita-cita politik-kultural bernama Luwu Raya.
Tidak semuanya berupa benda. Sebagian bahkan tidak bisa difoto. Tetapi justru di sanalah ukuran sebuah pengabdian sering kali berada. Hasbi meyakini, jalan yang baik memang memudahkan orang bepergian. Namun jejaring yang kuat dapat membuat lebih banyak orang berjalan bersama.
Dan bagi Hasbi, mungkin itulah makna terdalam dari perjalanan panjangnya. Membangun bukan hanya sesuatu yang berdiri, tetapi sesuatu yang membuat orang lain ikut tumbuh bersama. (*)











































