Rabu Goro dari Palupuh: Saat 250 KK Bangkit Bersama Pascabencana

1 day ago 5

Palupuh — Lumpur belum sepenuhnya mengering, tanah di sejumlah titik masih rawan bergerak. Namun di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, semangat warga justru menguat. Pascabanjir dan tanah longsor yang terjadi pada awal Januari 2026 dan berdampak langsung pada sedikitnya 250 Kepala Keluarga (KK), denyut gotong royong menjadi energi utama dalam proses pemulihan.

Setiap Rabu, halaman Kantor Camat Palupuh berubah menjadi ruang kerja bersama. Aparatur kecamatan, perangkat nagari, dan warga dari berbagai jorong menyatu dalam aksi “Rabu Goro”, sebuah komitmen rutin yang lahir dari kesadaran bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa ditunda.

Camat Palupuh, Nong Rianto, S.Sos, menyebut keselamatan warga sebagai prioritas utama di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif. Warga yang bermukim di zona merah atau wilayah rawan longsor susulan telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
“Sebagian warga mengungsi ke rumah keluarga terdekat, sementara lainnya kami tempatkan di mushalla dan tenda pengungsian yang telah disiapkan. Yang terpenting, mereka berada di lokasi yang lebih aman, ” ujar Nong Rianto, Rabu (7/1/2026).
Di halaman Kantor Camat Palupuh, ratusan karung pasir disusun rapi. Cara manual ini dipilih sebagai langkah cepat untuk menahan pergerakan tanah yang sempat ambruk, sekaligus mencegah kerusakan lebih luas sebelum perbaikan permanen dilakukan oleh instansi terkait.

Menariknya, gotong royong tersebut bukan kegiatan insidental. Nong Rianto menegaskan bahwa “Rabu Goro” telah dijadikan agenda rutin, tanpa mengorbankan pelayanan publik.
“Gotong royong kita lakukan setiap hari Rabu. Prinsipnya bekerja bersama secara manual, namun pelayanan kantor tetap berjalan. Masyarakat tetap kami layani seperti biasa, ” tegasnya.
Kerusakan infrastruktur pascabencana tercatat di sejumlah nagari, seperti Koto Rantang, Pasia Laweh, Nan Tujuah, dan Pagadih. Jembatan dan jaringan irigasi menjadi fasilitas yang paling terdampak. Namun, kondisi tersebut justru memperkuat solidaritas antarwarga dan aparatur pemerintahan di tingkat kecamatan dan nagari.

Bagi Palupuh, 250 KK yang terdampak bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah tetangga, kerabat, dan bagian dari kehidupan sosial yang saling terkait. Inilah yang membuat semangat gotong royong tumbuh tanpa paksaan, hadir sebagai kesadaran kolektif.

Nong Rianto berharap pola kebersamaan ini dapat menjadi contoh dalam penanganan bencana berbasis komunitas. Dengan keterlibatan langsung masyarakat, proses pemulihan diyakini akan berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

“Dengan kebersamaan, beban berat terasa lebih ringan. Harapan kami, seluruh warga bisa kembali ke rumah masing-masing dengan aman, dan Palupuh dapat bangkit lebih kuat dari sebelumnya, ” tutupnya.(Lindafang)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |