TOKOH - Pada penghujung abad ke-14, ketika jalur perdagangan laut menghubungkan berbagai kerajaan di Nusantara dengan kawasan Asia Tenggara, seorang ulama dari tanah Minangkabau memulai perjalanan panjang yang kelak meninggalkan jejak penting dalam sejarah perkembangan Islam di Filipina bagian selatan. Namanya Raja Bagindo Ali, yang dalam ejaan Filipina dikenal sebagai Rajah Baguinda Ali.
Perjalanannya bukan sekadar perpindahan dari satu negeri ke negeri lain. Ia membawa misi dakwah, pengetahuan keagamaan, sekaligus tradisi intelektual Islam yang saat itu berkembang melalui jaringan perdagangan dan perantauan di kawasan Nusantara.
Sekitar tahun 1390, Raja Bagindo Ali tiba di Kepulauan Sulu. Wilayah tersebut berada di jalur strategis yang menghubungkan Mindanao, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan kawasan Melayu. Pedagang, pelaut, bangsawan, serta ulama dari berbagai daerah bertemu dan berinteraksi di kawasan ini.
Namun, Raja Bagindo bukanlah orang pertama yang memperkenalkan Islam kepada masyarakat Sulu. Sebelumnya, seorang ulama keturunan Arab bernama Karim ul-Makhdum telah merintis penyebaran ajaran Islam di kawasan tersebut. Kehadiran Raja Bagindo kemudian menjadi bagian penting dari kelanjutan proses dakwah yang telah dimulai sebelumnya.
Raja Bagindo datang bukan hanya sebagai seorang pendakwah. Dalam perjalanan waktu, pengaruhnya berkembang di tengah masyarakat lokal. Pendekatan dakwah yang dibawanya berinteraksi dengan tradisi, struktur sosial, serta kehidupan masyarakat setempat. Islam perlahan-lahan semakin dikenal dan diterima oleh penduduk Sulu.
Perjalanannya bahkan tidak berhenti di Kepulauan Sulu. Tradisi sejarah menyebutkan bahwa Raja Bagindo juga melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah lain di kawasan utara Kalimantan dan sekitarnya, termasuk Brunei, Sarawak, dan Sabah. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana penyebaran Islam pada masa itu berlangsung melalui jaringan antarpulau yang sangat luas.
Laut bukanlah pemisah bagi masyarakat Nusantara pada masa itu. Sebaliknya, laut justru menjadi jalan raya yang mempertemukan manusia, budaya, perdagangan, dan agama. Melalui jalur-jalur maritim itulah para saudagar dan ulama membawa Islam dari satu pelabuhan menuju pelabuhan lainnya.
Dalam konteks itulah perjalanan Raja Bagindo memiliki arti penting. Sebagai seorang ulama yang berasal dari Minangkabau, ia menjadi bagian dari mobilitas intelektual dan keagamaan masyarakat Nusantara yang telah berlangsung berabad-abad. Jangkauan dakwahnya disebut mencapai masyarakat Sulu hingga ke Pulau Sibutu, salah satu pulau di bagian selatan Kepulauan Sulu.
Seiring berjalannya waktu, pengaruh Raja Bagindo tidak hanya berkembang melalui dakwah, tetapi juga melalui hubungan kekeluargaan dan politik. Ia memiliki seorang putri bernama Paramisuli, yang kelak memainkan peranan penting dalam perjalanan sejarah politik Islam di Sulu.
Sekitar tahun 1450, datanglah seorang tokoh keturunan Arab dari Palembang bernama Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakr. Kedatangannya membuka babak baru dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut. Abu Bakr kemudian menikahi Paramisuli, putri Raja Bagindo Ali.
Pernikahan tersebut tidak sekadar menjadi ikatan antara dua keluarga. Dalam perjalanan sejarah Sulu, hubungan itu menjadi jembatan antara tradisi kekuasaan lokal dengan jaringan keislaman yang lebih luas di Nusantara.
Setelah Raja Bagindo meninggal dunia, Abu Bakr melanjutkan proses penyebaran dan penguatan Islam yang sebelumnya telah dirintis oleh Karim ul-Makhdum dan dikembangkan oleh Raja Bagindo. Islam semakin memperoleh tempat dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Sulu.
Puncaknya terjadi pada sekitar tahun 1457. Abu Bakr memproklamasikan berdirinya Kesultanan Sulu, sebuah kesultanan Islam yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Filipina selatan dan Laut Sulu.
Ia menggunakan gelar Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashem Abu Bakr. Dalam tradisi setempat, kata Paduka mengandung makna penghormatan yang kurang lebih berarti tuan atau yang dimuliakan, sedangkan Mahasari merujuk kepada kedudukan sebagai Yang Dipertuan.
Berdirinya Kesultanan Sulu memperlihatkan bahwa perjalanan dakwah yang berlangsung selama beberapa generasi akhirnya berkembang menjadi sebuah institusi politik Islam. Dari kedatangan Karim ul-Makhdum, dilanjutkan oleh Raja Bagindo Ali, kemudian diteruskan oleh Sharif Abu Bakr, terbentuklah fondasi masyarakat Islam yang bertahan selama berabad-abad di Filipina selatan.
Dalam mata rantai sejarah tersebut, nama Raja Bagindo Ali mempunyai tempat tersendiri. Ia berada di antara generasi perintis dakwah dan generasi pembentuk kesultanan. Perannya menjadi penghubung antara Islam sebagai ajaran yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat dengan Islam yang kemudian tumbuh menjadi bagian dari struktur sosial dan pemerintahan Sulu.
Kisah Raja Bagindo juga memperlihatkan betapa luasnya jaringan perantauan masyarakat Minangkabau sejak masa lampau. Jauh sebelum lahirnya negara-negara modern dengan batas wilayah seperti sekarang, manusia dari berbagai daerah Nusantara telah melakukan perjalanan lintas pulau dan lintas kerajaan.
Mereka berdagang, belajar, berdakwah, menikah, dan membangun komunitas baru. Identitas mereka tidak berhenti di tempat kelahiran, tetapi ikut membentuk sejarah negeri-negeri yang mereka datangi.
Raja Bagindo Ali menjadi salah satu contoh penting dari perjalanan tersebut. Berangkat dari lingkungan budaya Minangkabau, namanya justru kemudian tercatat dalam sejarah Filipina selatan sebagai salah seorang tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam di Sulu.
Jejaknya tidak terutama berupa bangunan megah atau peninggalan material, melainkan sebuah warisan yang jauh lebih panjang: tumbuhnya masyarakat Islam yang kemudian melahirkan Kesultanan Sulu.
Dari Minangkabau menuju Sulu, perjalanan Raja Bagindo Ali menunjukkan bahwa sejarah Nusantara sesungguhnya dibangun oleh manusia-manusia yang berani melintasi batas geografis. Mereka membawa gagasan, kepercayaan, pengetahuan, dan kebudayaan dari satu tempat menuju tempat lainnya.
Berabad-abad setelah perjalanannya berakhir, nama Rajah Baguinda Ali tetap hidup dalam ingatan sejarah masyarakat Sulu. Ia dikenang bukan semata-mata sebagai seorang pendatang dari seberang lautan, tetapi sebagai salah seorang tokoh yang ikut membentuk babak penting perjalanan Islam di Filipina selatan.
Kisahnya sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah Minangkabau tidak hanya tertulis di lembah, gunung, dan pesisir Sumatera Barat. Jejak orang-orang Minangkabau juga tersebar jauh melintasi lautan—hingga Brunei, Sabah, Sarawak, dan Kepulauan Sulu—menjadi bagian dari sejarah besar dunia Melayu dan Islam di Asia Tenggara. (PERS)


















































