MOROWALI, Sulawesi Tengah— Ada perubahan sederhana yang kini terasa besar bagi warga Dusun Kajuko, Desa Bente, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali. Anak-anak yang setiap hari berangkat dan pulang sekolah tak lagi harus turun ke sungai untuk mencapai jalan di seberang.
Akses yang sebelumnya dilalui dengan menyeberangi aliran sungai kini telah berubah menjadi jembatan.

Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah membangun Jembatan Presisi “Jenderal Awalodin Djamin” di Dusun Kajuko. Jembatan yang berada tepat di belakang Markas Satbrimob Morowali tersebut menjadi akses baru bagi warga, termasuk anak-anak sekolah yang sebelumnya harus melewati sungai.
Bagi masyarakat Kajuko, keberadaan jembatan ini bukan sekadar pembangunan fisik. Jembatan tersebut menjawab kebutuhan warga yang selama bertahun-tahun menggunakan sungai sebagai jalur penghubung untuk menuju kebun maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi itu sebelumnya juga harus dihadapi anak-anak sekolah. Ketika debit air memungkinkan, mereka menyeberangi sungai dengan berjalan kaki. Tak jarang pakaian dan perlengkapan sekolah ikut basah karena harus melewati aliran air.
Kini, pemandangan tersebut perlahan menjadi cerita masa lalu. Jembatan dibangun langsung oleh personel Brimob dalam waktu sekitar satu pekan. Bagian utama jembatan memiliki panjang sekitar 14 meter, ditambah bagian pada kedua ujungnya sehingga total panjang mencapai kurang lebih 20 meter. Lebarnya sekitar 2, 5 meter.

Komandan Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulawesi Tengah, Kompol Dimas Putra Kembaran, S.I.K., M.H., mengatakan pembangunan jembatan bermula dari kepedulian personel terhadap kondisi masyarakat yang berada di sekitar markas.
Personel Brimob, kata dia, cukup sering melihat warga menggunakan sungai sebagai akses penghubung. Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama ketika melihat anak-anak sekolah harus melintasi sungai dalam perjalanan mereka.
“Selama ini kami sering melihat masyarakat lewat di sungai, termasuk anak-anak sekolah. Mereka harus menyeberangi sungai dan terkadang sampai basah-basahan. Dari situ hati kami tergerak untuk membantu membangun jembatan, ” jelas Kompol Dimas kepada sejumlah wartawan di lokasi, Jumat (21/8/2026).
Keprihatinan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk pembangunan jembatan. Personel Brimob turun langsung mengerjakan pembangunan hingga akhirnya akses tersebut dapat digunakan masyarakat.
Berdasarkan prasasti yang terpasang di lokasi, jembatan itu bernama Jembatan Presisi “Jenderal Awalodin Djamin” Desa Bente. Dan Prasasti ditandatangani pada 13 Agustus 2026 oleh Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol. Nasri Sulaeman, S.I.K., M.H.
Bagi Brimob, pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Kehadiran aparat di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui tugas menjaga keamanan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi warga dalam kehidupan sehari-hari.
Kompol Dimas berharap masyarakat dapat memanfaatkan sekaligus menjaga fasilitas tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Harapan kami, jembatan ini bisa benar-benar dimanfaatkan dan dirawat bersama oleh masyarakat. Bukan hanya menjadi akses untuk ke kebun, tetapi juga sangat membantu anak-anak sekolah dan aktivitas masyarakat sehari-hari, ” ujarnya.
Jembatan Kajuko juga menjadi salah satu dari tiga jembatan presisi yang dibangun Satbrimob Morowali.
Selain di Dusun Kajuko, pembangunan jembatan presisi juga dilakukan di Desa Torete, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, serta Desa Lemboroma, Kabupaten Morowali Utara.
Tiga jembatan tersebut dibangun untuk membantu membuka akses masyarakat di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan jalur penghubung.
Di Kajuko, dampaknya kini mulai terlihat. Warga yang hendak menuju kebun tidak lagi harus turun ke sungai. Anak-anak sekolah juga memiliki jalur yang lebih aman untuk melanjutkan perjalanan.
Perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga yang selama bertahun-tahun menjadikan sungai sebagai jalur penyeberangan, hadirnya jembatan memberikan kemudahan yang sangat berarti.

Tidak ada lagi kekhawatiran pakaian sekolah basah ketika menyeberang. Tidak pula harus menunggu kondisi air lebih surut sebelum melanjutkan perjalanan.
Jembatan Presisi Jenderal Awalodin Djamin kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Kajuko. Ia bukan hanya menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga membuka akses yang lebih aman bagi warga dan anak-anak untuk menjalani aktivitas mereka.
“Semoga jembatan ini menjadi fasilitas yang bermanfaat untuk masyarakat dalam jangka panjang dan bisa dijaga serta dirawat bersama, ” pungkas Kompol Dimas.
















































