Supervisi Edukatif Perkuat Budaya Keselamatan Pasien di RSUD Kota Bukittinggi

4 days ago 5

Supervisi Edukatif Perkuat Budaya Keselamatan Pasien di RSUD Kota Bukittinggi

Oleh:
Ns. Yessi Arisandi, S. Kep
Dr. Yulastri Arif, S.Kp., M. Kep

BUKITTINGGI - Keselamatan pasien merupakan pondasi utama dalam pelayanan rumah sakit yang bermutu. Berbagai prosedur dan standar operasional telah disusun untuk melindungi pasien dari risiko kesalahan pelayanan, namun penerapannya di lapangan masih membutuhkan penguatan melalui supervisi yang efektif, edukatif, dan berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, RSUD Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas menyelenggarakan Pelatihan Supervisi Model Proctor untuk Meningkatkan Penerapan Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) pada 30–31 Juli 2026 di Ruang Meeting Lantai II RSUD Kota Bukittinggi. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses penelitian tesis mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan Universitas Andalas atas nama Yessi Arisandi.

Dalam pelayanan kesehatan modern, keselamatan pasien tidak cukup dijaga hanya dengan inspeksi dan pengawasan administratif. Diperlukan pendekatan yang mampu membangun kesadaran, keterampilan, serta budaya kerja yang mendukung praktik aman di setiap unit pelayanan.

Ketua tim pelatihan, Dr. Yulastri Arif, S.Kp., M. Kep., menjelaskan bahwa supervisi keperawatan saat ini harus bergeser dari paradigma mencari kesalahan menuju paradigma pembelajaran dan perbaikan bersama.

“Keselamatan pasien bukan tentang mencari siapa yang salah, melainkan membangun sistem yang mencegah tenaga kesehatan melakukan kesalahan. Supervisi harus menjadi proses edukatif yang membuat perawat berani belajar, berdiskusi, dan memperbaiki praktiknya, ” ujarnya dalam sesi pelatihan.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kepala ruangan dan perawat dalam menerapkan Sasaran Keselamatan Pasien, memperkuat keterampilan supervisi klinis berbasis Model Proctor, serta membangun budaya non-blaming yang mendorong tenaga kesehatan lebih terbuka dalam melaporkan dan memperbaiki risiko pelayanan.

Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelayanan, memperbaiki komunikasi antarpetugas kesehatan, dan memperkuat tanggung jawab profesional perawat dalam memberikan asuhan yang aman dan bermutu.

Kegiatan tidak hanya berupa ceramah di ruang pertemuan. Pada hari pertama peserta mengikuti pre-test, materi konsep dasar Supervisi Model Proctor, fungsi normatif, formatif, dan restoratif, serta pembahasan indikator penerapan Sasaran Keselamatan Pasien.

Hari kedua diisi dengan demonstrasi alur supervisi, role play identifikasi masalah praktik perawat, coaching, corrective feedback, simulasi penerapan SKP, praktik dokumentasi supervisi, dan post-test keterampilan.

Menariknya, setelah sesi kelas selesai, kegiatan dilanjutkan dengan praktek supervisi langsung di ruang rawat lantai IV, dan V   RSUD Kota Bukittinggi pada 3–6 Agustus 2026. Pendampingan lapangan ini memungkinkan peserta mengamati praktik nyata, mendiskusikan hambatan pelayanan, dan menyusun tindak lanjut perbaikan secara langsung bersama kepala ruangan dan supervisor.

Materi utama yang diperoleh peserta meliputi : Identifikasi pasien menggunakan dua identitas,  Komunikasi efektif dengan metode SBAR,  Keamanan pemberian obat high-alert, termasuk insulin,  Verifikasi praoperasi untuk mencegah salah pasien, salah prosedur, dan salah lokasi operasi,  Teknik observasi dan pemberian umpan balik konstruktif dalam supervisi klinis.

Salah satu narasumber, Ns. Misliza, S.Kep., FISQua, menekankan pentingnya penerapan Sasaran Keselamatan Pasien secara konsisten di setiap shift pelayanan.

“Sasaran keselamatan pasien bukan sekadar dokumen akreditasi. Yang paling penting adalah perilaku nyata petugas kesehatan dalam melindungi pasien melalui identifikasi yang benar, komunikasi yang jelas, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, ” ungkapnya.

Bagi mahasiswa yg melakukan penelitian, bagian yang paling menarik adalah simulasi role play berbasis kasus nyata. Dalam simulasi tersebut diperagakan berbagai situasi yang sering terjadi di ruang rawat, seperti pemberian obat tanpa identifikasi lengkap, operan pasien tanpa struktur SBAR, pemberian insulin tanpa verifikasi gula darah, hingga penandaan lokasi operasi yang tidak sesuai prosedur.

Melalui diskusi dan refleksi bersama, peserta menyadari bahwa kesalahan kecil yang tampak sederhana dapat berujung pada insiden serius apabila tidak dicegah melalui kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien.

Kegiatan pelatihan ini memberikan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa, terutama dalam mengembangkan kemampuan manajemen keperawatan, supervisi klinis, komunikasi profesional, dan kepemimpinan dalam pelayanan kesehatan. Mahasiswa juga memperoleh pengalaman nyata dalam mengidentifikasi masalah mutu pelayanan dan menyusun rencana perbaikan berbasis bukti di lingkungan rumah sakit.

Bagi RSUD Kota Bukittinggi, kegiatan ini menjadi sarana penguatan kompetensi kepala ruangan dan perawat pelaksana dalam menerapkan supervisi yang lebih efektif, kolaboratif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Direktur RSUD Kota Bukittinggi beserta jajaran Bidang Keperawatan memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan.

Sinergi antara Fakultas Keperawatan Universitas Andalas dan RSUD Kota Bukittinggi menunjukkan bahwa penelitian tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Pelatihan  supervisi Model Proctor ini membuktikan bahwa pendekatan yang edukatif, reflektif, dan kolaboratif mampu meningkatkan pemahaman serta kepatuhan tenaga keperawatan terhadap Sasaran Keselamatan Pasien. Supervisi tidak lagi dipandang sebagai kegiatan mencari kesalahan, melainkan sebagai proses pembinaan profesional yang membantu perawat berkembang dan memberikan pelayanan yang lebih aman.

Diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke berbagai unit pelayanan kesehatan lainnya sehingga budaya keselamatan pasien semakin kuat, mutu pelayanan rumah sakit terus meningkat, dan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih aman, profesional, dan humanis.

(**)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |