Unsongi Jadi Etalase Potensi Lokal Morowali, Wisata Tumbuh Bersama Masyarakat

6 hours ago 2

MOROWALI, Sulawesi Tengah— Desa Unsongi, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, mulai menapaki babak baru. Desa yang selama ini menyimpan kekayaan alam, budaya, dan tradisi masyarakat itu kini diarahkan menjadi salah satu destinasi wisata berbasis masyarakat di Morowali.

Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran Desa Wisata Unsongi pada 8 Agustus 2026. Program ini lahir dari kolaborasi antara PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Pemerintah Kabupaten Morowali, Pemerintah Desa Unsongi, dan masyarakat setempat.

Bukan sekadar menghadirkan destinasi baru, pengembangan Desa Wisata Unsongi membawa gagasan yang lebih besar: menjadikan potensi lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan budaya.

Unsongi memiliki modal yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Lanskap alam yang masih asri berpadu dengan tradisi tenun lokal serta berbagai kearifan budaya yang masih dipertahankan masyarakat. Potensi tersebut menjadi kekuatan yang kini mulai dikemas secara lebih terarah agar dapat memberikan pengalaman wisata sekaligus manfaat ekonomi bagi warga.

Di tengah geliat pembangunan Morowali, kehadiran Desa Wisata Unsongi menjadi warna tersendiri. Jika kawasan industri selama ini identik dengan aktivitas ekonomi berskala besar, Unsongi menawarkan wajah lain Morowali melalui kekayaan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat desa.

Pengembangan wisata pun tidak ditempatkan semata-mata sebagai urusan mendatangkan wisatawan. Masyarakat justru ditempatkan sebagai aktor utama yang memiliki peran sejak tahap pengelolaan hingga pengembangan destinasi.

Konsep yang diterapkan adalah Community-Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis komunitas. Melalui konsep ini, warga tidak hanya menjadi penonton atau penerima manfaat, tetapi ikut menentukan arah pengembangan wisata di desanya.

Mulai dari pengelolaan destinasi, pelayanan kepada wisatawan, hingga pengembangan produk lokal diarahkan untuk melibatkan masyarakat. Peluang ekonomi juga dibuka melalui penguatan UMKM, pengembangan kuliner khas, produk kerajinan, hingga kain tenun yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Unsongi.

Pengelola desa wisata juga mendapat dukungan peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan pemandu wisata dan manajemen homestay. Dengan demikian, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan yang semakin baik sekaligus mengelola potensi desa secara mandiri.

Community Development Officer IGP Morowali, Salwa, menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan desa wisata tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi seluruh pihak.

Menurutnya, pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.

“Bagi kami, pengembangan ekonomi masyarakat melalui pariwisata tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Keduanya harus berjalan beriringan karena pariwisata yang berkelanjutan hanya dapat tumbuh dari lingkungan yang terjaga dengan baik, ” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan aktivitas wisata selalu membawa konsekuensi terhadap lingkungan. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan kawasan tetap bersih, tertata, dan nyaman.

Karena itu, peluncuran Desa Wisata Unsongi turut dirangkaikan dengan edukasi pengelolaan sampah melalui booth interaktif. Edukasi ini menyasar masyarakat, pelajar, dan pengunjung kegiatan sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan menjaga lingkungan sejak dari sumbernya.

Di booth tersebut, masyarakat dikenalkan dengan pemilahan sampah organik dan anorganik, prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, edukasi dikemas secara interaktif. Peserta diajak mengikuti permainan, sesi tanya jawab, hingga praktik sederhana pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Anak-anak dan pelajar pun mendapat ruang untuk belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar slogan. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dapat menjadi bagian penting dalam membangun desa wisata yang bersih dan berkelanjutan.

Bagi Desa Unsongi, langkah ini menjadi investasi jangka panjang. Sebab, daya tarik sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat menjaga kebersihan, kenyamanan, budaya, dan keramahan lingkungan tersebut.

Kolaborasi antara PT Vale, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat kemudian menjadi fondasi utama pengembangan Unsongi. Pemerintah daerah memiliki peran dalam penguatan kebijakan dan sektor pariwisata, pemerintah desa menjadi penggerak di tingkat lokal, masyarakat menjadi pelaku utama, sementara PT Vale memberikan dukungan melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, dan pendampingan.

Salwa menyebut Desa Wisata Unsongi sebagai contoh bahwa kolaborasi dapat menjadi penggerak pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat secara luas.

“Pengembangan Desa Wisata Unsongi merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan PT Vale. Kami percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan destinasi wisata yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat, ” tambahnya.

Harapannya, geliat wisata di Unsongi tidak berhenti pada seremoni peluncuran. Justru, peluncuran tersebut menjadi titik awal untuk membangun ekosistem wisata yang tumbuh secara bertahap dan dikelola bersama.

Ke depan, penguatan promosi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan UMKM, pembenahan fasilitas, serta pelestarian budaya menjadi sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan kekuatan alam dan budaya yang dimiliki, Unsongi memiliki peluang untuk menjadi salah satu etalase potensi lokal Morowali. Namun, kekuatan terbesar desa ini bukan hanya pada apa yang dimilikinya, melainkan pada bagaimana masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha mampu merawat serta mengembangkannya.

Desa Wisata Unsongi pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang tempat untuk dikunjungi. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang diberi ruang untuk tumbuh melalui potensi desanya sendiri.

"Ketika ekonomi lokal bergerak, budaya tetap hidup, dan lingkungan tetap terjaga, pariwisata tidak lagi hanya menjadi tujuan perjalanan. Ia menjadi jalan bagi desa untuk membangun masa depannya sendiri, " pungkasnya.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |