BARRU – Wakil Bupati Barru, Abustan didaulat untuk membuka kegiatan sosialisasi Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung Ma’rupanne, Rabu (26/2/2025) di Hotel Harper Makassar.
“Alhamdulillah, hari ini saya hadir untuk mengikut sosialisasi pertama sejak dilantik sebagai wakil bupati mewakili bupati Barru yang saat ini tengah mengikuti Retret di Magelang bersama kepala daerah lainnya. Suatu kebanggaan karena didaulat untuk mewakili kita sekalian untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan sosialisasi hari ini. Kita sudah memahami bahwa pemerintah provinsi Sulawesi Selatan bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, dan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah mengusulkan sekitar 723 ribu Ha Area untuk dijadikan sebagai Cagar Biosfer, ” papar Abustan.
Lanjut Abustan, hal ini bertujuan untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan konservasi dan areal bernilai penting di Sulsel. Cagar Biosfer ini kata Abustan merupakan kawasan terpadu yang mengharmonisasikan kepentingan konservasi dengan pembangunan sosial, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dan diakui di tingkat internasional.
“Keberadaan Cagar Biosfore memiliki peran yang sangat strategis, tidak hanya dalam aspek perlindungan dan perestralian alam tetapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ” ucapnya.
Lebih lanjut dikatakan, menanggapi penyampaian Plt. Kepala BBKSDA Sulsel terkait tiga zona utama Cagar Biosfer ini, bahwa jika fungsi tiga zona ini bisa diwujudkan, maka yakin kurang lebih 6% penduduk miskin di Indonesia yang berada di pesisir hutan bisa disejahterakan karena disini ada aspek ekonominya, kemudian ada konservasi, dan disitu juga ada penelitian.
“Saya pernah membaca buku Najam dari Korea bahwa sektor pertanian dan kehutanan kembali ke alam dan berbasis organik, karena ternyata organik yang ada di dunia sekarang itu tidak ada yang lepas dari zat kimia. Najam ini belajar bercocok dihutan, dimana dihutan tanaman subur banyak sumber-sumber hara yang betul-betul bisa meningkatkan produktivitas dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, ” kata dia.
Sosialisasi ini sangat bagus karena wilayah Sulsel sambil mencontohkan wilayah kabupaten Barru dimana dengan luas 1.174, 720 Km atau 117 ribu Ha diantaranya 68 % termasuk kawasan hutan lindung dimana tidak sampai 50 % itu ada pohon, ini yang perlu di diskusikan bersama.
“Sehingga kehadiran kita hari ini saya kira sangat penting, karena kalau bukan hutan yang kita pelihara sekarang saya yakin Indonesia 20 hingga 30 tahun kemudian hanya tinggal 1/4, ” ungkapnya.
Lanjut, sekarang kenaikan air laut itu 1, 4 cm/tahun dan menurut yang pernah saya baca bahwa satu pohon yang berumur di atas 25 tahun itu mampu menampung air pada saat hujan ini minimal 25 liter, Kalau 1 juta pohon ditebang maka ada 25 juta liter air yang tadinya tertahan di hutan, sekarang ada di pesisir.
“Dengan status Cagar Biosfer sangat penting membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dalam skala nasional maupun internasional dan peluang kolaborasi sangat terbuka. Sehingga kalau kita mau berkolaborasi, maka kita harus duduk bersama, diskusi, kemudian kita membangun konsensus bersama, jadi kolaborasi bukan kerjasama tetapi lebih tinggi dari pada kerjasama, ” terangnya.
“Dan itu yang harus dilakukan, disini ada NGO perannya apa? Pemerintah, perannya apa? Saudara-saudara kita yang ada di kawasan hutan, perannya apa? Perguruan tinggi, perannya apa? Itu yang didiskusikan terutama terkait dengan merancang apa yang perlu dilakukan kemudian membangun satu konsensus, ” sambungnya.
Karena kenapa, kalau pembangunan sosial, ekonomi, ilmu, pengetahuan, dan teknologi dilakukan sendiri oleh Balai sangat yakin tidak akan berjalan.
Pada sesi tanya jawab dan diskusi, Abustan juga kepada komitmen Pemprov Sulsel tentang Cagar Biosfer, seperti apa Pembagian peran 4 (empat) kabupaten (Barru, Maros, Pangkep, dan Bone) tentang Cagar Biosfer.(*)