MOROWALI, Sulawesi Tengah–– Mengantisipasi ancaman kekeringan pada lahan persawahan saat memasuki musim kemarau, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf bergerak cepat menangani sedimentasi yang terjadi di Bendung Karaupa.
Bupati Iksan bahkan turun langsung ke lokasi untuk memastikan proses pengerukan sedimentasi berjalan. Langkah tersebut dilakukan karena sedimentasi yang menumpuk berpotensi menghambat aliran air menuju jaringan irigasi yang menjadi sumber pengairan bagi persawahan masyarakat.
“Hari ini kita turun lapangan melihat bagaimana mengeruk sedimen yang ada di Bendung Karaupa. Karena kalau kondisi ini dibiarkan, sawah-sawah yang ada di bawah bisa mengalami kekeringan, ” kata Iksan saat meninjau Bendung Karaupa, Senin (10/8/2026).
Menurut Iksan, penanganan tersebut merupakan langkah antisipasi pemerintah daerah menghadapi musim kemarau. Ketersediaan air untuk lahan pertanian harus dipastikan sejak awal agar masyarakat tidak menghadapi persoalan ketika debit air mulai menurun.
Ia menyebutkan, setelah dilakukan pengerukan, kondisi aliran air mulai menunjukkan perbaikan. Pemerintah daerah berharap aliran sungai dapat kembali lebih lancar sehingga air bisa masuk ke jalur irigasi dan mengairi sawah masyarakat.
“Kita lihat sekarang mulai membaik. Ini juga mau menghadapi musim kemarau, jadi kita berinisiatif melakukan langkah-langkah perbaikan supaya aliran sungainya makin deras dan turun ke jalur irigasi, ” ujarnya.
Iksan mengatakan pekerjaan pengerukan diperkirakan berlangsung sekitar empat hari. Selama proses pengerjaan, masyarakat kemungkinan akan melihat kondisi air menjadi lebih keruh akibat aktivitas pengerukan sedimen.
Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kemungkinan munculnya gangguan tersebut selama pekerjaan berlangsung.
“Mohon maaf kepada masyarakat kalau dalam proses pengerukan ini airnya agak keruh. Kita perkirakan sekitar empat hari pekerjaan ini, ” ungkapnya.
Penanganan Bendung Karaupa dilakukan dengan melibatkan jajaran pemerintah daerah, mulai dari camat, anggota DPRD, Dinas Pekerjaan Umum, hingga pihak terkait lainnya. Kolaborasi tersebut dilakukan agar pekerjaan dapat segera diselesaikan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Bagi Iksan, persoalan sedimentasi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apalagi jika kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan air ke lahan persawahan.
“Ini adalah langkah percepatan supaya semua bisa beres. Karena kalau dibiarkan bisa bermasalah nantinya. Bisa-bisa sawah masyarakat kita di bawah tidak kebagian air, ” tegasnya.

Bendung Karaupa sendiri pada dasarnya merupakan bagian dari kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, melihat kondisi di lapangan dan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Morowali memilih mengambil langkah cepat dengan memperkuat koordinasi dan komunikasi bersama pihak terkait.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak ingin persoalan teknis kewenangan menjadi alasan lambatnya penanganan masalah yang secara langsung dapat berdampak kepada masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, yang paling utama adalah memastikan aliran air tetap tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian masyarakat, terutama ketika musim kemarau mulai berlangsung.
Iksan berharap pengerukan sedimentasi tersebut dapat mengembalikan kelancaran aliran air dan menjaga jaringan irigasi tetap berfungsi optimal. Dengan demikian, para petani di wilayah yang mendapat pasokan dari Bendung Karaupa tidak perlu khawatir terhadap ancaman kekurangan air.
"Upaya ini sekaligus menjadi bentuk respons cepat Pemerintah Kabupaten Morowali dalam menjaga sektor pertanian, dengan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian meskipun pengelolaan infrastruktur tersebut berada dalam kewenangan pemerintah provinsi" tandasnya.


















































