SOLOK — Pergantian tongkat komando di lingkungan Kepolisian Daerah Sumatera Barat bukan sekadar seremoni perpindahan jabatan. Di balik prosesi yang berlangsung khidmat di Ruang Jenderal Soekanto, Lantai IV Mapolda Sumbar, Selasa, 28 Juli 2026, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, keberanian, dan keteguhan seorang perwira yang telah menempuh jalan berliku demi negeri.
Hari itu, AKBP Andreanaldo Ademi, SH, S.IK., resmi menyerahkan amanah sebagai Kapolres Pariaman kepada AKBP Agung Pranajaya, S.IK. Upacara serah terima jabatan dipimpin langsung Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K., bersama sejumlah Pejabat Utama dan Kapolres jajaran Polda Sumbar.

Bagi AKBP Agung Pranajaya, jabatan baru itu bukan sekadar promosi ataupun rotasi organisasi. Amanah tersebut menjadi lembaran baru dari perjalanan panjang seorang polisi yang sejak awal memilih jalan penuh tantangan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.
Selama kurang lebih satu tahun empat bulan memimpin Polres Solok, nama Agung identik dengan pendekatan humanis, profesionalisme, dan budaya pelayanan yang dekat dengan masyarakat. Tagline "Kapolres Badunsanak" bukan hanya slogan, melainkan filosofi kepemimpinan yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Di bawah kepemimpinannya, Polres Solok menorehkan sederet prestasi membanggakan. Mulai dari nilai sempurna 100 dalam pelaksanaan anggaran Triwulan II Tahun 2025 dari Kementerian Keuangan, penghargaan optimalisasi pajak kendaraan bermotor dari Kapolda Sumbar dan Gubernur Sumbar, hingga Satlantas Polres Solok yang menjadi peringkat pertama realisasi target PNBP Semester I Tahun 2025.
Prestasi itu berlanjut dengan penghargaan pengelolaan anggaran terbaik dari KPPN Solok, predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) tingkat nasional, serta peringkat II pelayanan terbaik versi Ombudsman RI di Sumatera Barat dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi.
Namun bagi Agung, pencapaian sesungguhnya bukan hanya angka dan penghargaan.
Ia percaya bahwa kantor polisi harus menjadi rumah yang ramah bagi masyarakat. Keyakinan itulah yang melahirkan salah satu impian besarnya: membangun sebuah masjid representatif di lingkungan Polres Solok.
Meski hingga masa akhir jabatannya pembangunan masih terus berlangsung, fondasi cita-cita itu telah berdiri kokoh. Masjid sengaja dibangun di bagian depan Markas Polres Solok, tepat di tepi jalan nasional.
Baginya, rumah ibadah tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi anggota kepolisian maupun tamu Polres. Masjid itu diproyeksikan menjadi tempat singgah bagi siapa pun yang melintas. Musafir yang lelah dapat beristirahat. Pengguna jalan dapat menunaikan salat tanpa harus mencari tempat lain. Di tengah hiruk-pikuk perjalanan, rumah ibadah itu diharapkan menjadi ruang teduh yang menghadirkan ketenangan.
Barangkali, di sanalah makna pelayanan menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Namun perjalanan panjang AKBP Agung jauh dimulai sebelum dirinya dikenal sebagai "Kapolres Badunsanak".
Perwira kelahiran Palembang, 7 Juli 1985 itu mengawali langkahnya ketika masih duduk di bangku SMA di Jambi pada 2003. Terinspirasi oleh sosok sang ayah yang juga seorang polisi, ia mengikuti seleksi Akademi Kepolisian dan berhasil lolos tanpa hambatan.
Pada Desember 2006, Agung resmi dilantik dalam Upacara Prasetya Perwira yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Akademi Angkatan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Alih-alih memperoleh penugasan yang nyaman, ia justru langsung ditempatkan di Papua, wilayah yang kala itu dikenal sebagai salah satu daerah paling berat bagi personel kepolisian.
Sebagai anggota Korps Brimob, ia bertugas di berbagai wilayah konflik seperti Puncak Jaya, Ilaga, Paniai, Memberamo hingga perbatasan Papua Nugini.
Di sanalah ia belajar bahwa menjadi polisi bukan hanya soal keberanian membawa senjata.
Di Ilaga, listrik nyaris tidak tersedia. Persediaan makanan sangat terbatas hingga ia dan rekan-rekannya harus bertahan hidup dengan umbi-umbian atau petatas. Cuaca ekstrem menjadi teman sehari-hari.
Belum lagi ancaman dari Kelompok Kriminal Bersenjata yang setiap saat dapat muncul tanpa aba-aba.
Selepas menempuh pendidikan PTIK, pengabdiannya berlanjut di Satbrimob Polda Maluku. Konflik sosial antarkelompok masyarakat kembali menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun puncak perjalanan internasionalnya dimulai ketika ia lolos seleksi Pasukan Garuda Bhayangkara II Formed Police Unit 9 (Garbah II FPU 9) dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sudan, Afrika.
Selama lebih kurang satu tahun, Agung mengenakan seragam biru PBB sebagai representasi Indonesia di mata dunia.
Ia menjalani pelatihan intensif, termasuk bersama instruktur pasukan elite Carabinieri Italia. Di negeri yang suhu siangnya dapat mencapai 51 derajat Celsius dan malamnya turun di bawah 10 derajat Celsius, ia belajar bahwa pengabdian tidak mengenal batas geografis.
Dedikasinya diakui dunia.
Global Support Operations Center (GSOC) Perserikatan Bangsa-Bangsa menganugerahinya penghargaan Best Performing Officer, sebuah penghormatan bagi personel yang menunjukkan kinerja terbaik selama menjalankan misi perdamaian internasional.
Sekembalinya ke Indonesia, Agung dipercaya memimpin Batalyon B Pelopor Brimob Maluku sebelum kemudian naik menjadi Komandan Batalyon A.
Dalam Operasi Madago Raya di Poso, Sulawesi Tengah, ia ikut memimpin operasi terhadap kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora.
Saat itu, lima dari sebelas daftar pencarian orang berhasil dilumpuhkan maupun ditangkap, termasuk Ali Kalora.
Keberhasilan tersebut mengantarkannya memperoleh penghargaan dari Kapolri sekaligus kesempatan mengikuti pendidikan Sespimen Polri.
Kariernya terus berkembang. Ia dipercaya menjadi Danden Gegana Satbrimob Maluku, kemudian mutasi ke Polda Sumbar sebagai Kasubdit IV Ditreskrimum yang menangani Perlindungan Perempuan dan Anak, TPPO, serta tindak pidana asusila.
Empat bulan kemudian, ia dipercaya menjabat Kabag Bin Ops Ditlantas Polda Sumbar sebelum akhirnya menerima amanah sebagai Kapolres Solok.
Di balik sederet jabatan strategis itu, Agung tetap menyimpan prinsip hidup yang sederhana.
Baginya, menjadi polisi bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa.
Ia mengibaratkan polisi sebagai "super hero" masyarakat, sosok yang hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
"Saya yakin, dengan niat yang benar dan ikhlas, semua tantangan bisa dilewati. Polisi itu kesatria. Jika dijalani dengan sepenuh hati, tugas ini sangat mulia, " tuturnya.
Kini, lembar pengabdian itu berlanjut di Kota Tabuik.
Pariaman menyambut seorang perwira yang telah ditempa oleh hutan Papua, konflik Maluku, teriknya gurun Sudan, hingga dinamika pelayanan masyarakat di Sumatera Barat.
Pergantian jabatan memang menandai berakhirnya sebuah bab.
Namun bagi seorang polisi, setiap akhir sesungguhnya hanyalah awal dari pengabdian berikutnya.
Di setiap tempat yang disinggahi, selalu ada jejak yang ditinggalkan.
Dan bagi AKBP Agung Pranajaya, jejak itu bukan sekadar deretan penghargaan, melainkan keyakinan bahwa sebaik-baik jabatan adalah yang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
















































