FK-PPMKB: Beasiswa IMIP Bukan Hadiah, Melainkan Hak Masyarakat Lingkar Tambang yang Diperjuangkan Mahasiswa

2 weeks ago 9

MOROWALI, Sulawesi Tengah– Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Kecamatan Bahodopi (FK-PPMKB) angkat bicara terkait publikasi Program Beasiswa IMIP Bersinergi yang menyebut telah melahirkan puluhan putra-putri Bahodopi sebagai calon sumber daya manusia unggul bagi industri masa depan. Menurut FK-PPMKB, narasi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan sejarah lahirnya program beasiswa yang mereka sebut merupakan hasil perjuangan panjang mahasiswa dan masyarakat Bahodopi.

Ketua FK-PPMKB, Rafky, mengatakan program beasiswa tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa sejak 2020 mahasiswa Bahodopi telah melakukan berbagai langkah, mulai dari audiensi, penyampaian aspirasi, hingga mengawal pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang pendidikan. Upaya tersebut, kata dia, baru membuahkan hasil ketika program beasiswa mulai direalisasikan pada 2022.

"Publik perlu mengetahui bahwa beasiswa ini bukan lahir karena kemurahan hati perusahaan, tetapi merupakan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa dan masyarakat Bahodopi yang terus mengawal pemenuhan hak masyarakat di wilayah lingkar tambang, " ujar Rafky.

Menurutnya, program beasiswa merupakan bagian dari implementasi CSR perusahaan di sektor pendidikan. Karena itu, FK-PPMKB menilai program tersebut adalah bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas industri, bukan sekadar program sukarela yang kemudian dipublikasikan tanpa melihat proses panjang yang melatarbelakanginya.

Meski mengapresiasi keberlanjutan Program Beasiswa IMIP Bersinergi, FK-PPMKB menilai pelaksanaannya masih membutuhkan banyak perbaikan. Organisasi itu menyoroti perubahan persyaratan administrasi dan mekanisme seleksi yang hampir selalu terjadi di setiap angkatan penerima beasiswa.

Menurut Rafky, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan program belum memiliki sistem yang konsisten sehingga perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

FK-PPMKB juga mempertanyakan adanya perbedaan nominal bantuan pendidikan yang diterima mahasiswa Bahodopi dibandingkan dengan beberapa program beasiswa lain yang didukung PT IMIP.

"Kami mempertanyakan mengapa mahasiswa Bahodopi sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan industri justru menerima bantuan pendidikan yang nilainya lebih rendah dibandingkan beberapa program beasiswa lain. Masyarakat lokal seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan pendidikan perusahaan, " katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum FK-PPMKB Kecamatan Bahodopi, Sinta, menegaskan bahwa program beasiswa seharusnya terus berkembang sesuai komitmen yang telah dibangun sejak awal pembahasannya bersama pihak PT IMIP.

Ia menjelaskan, sejak proses awal pembahasan, mahasiswa telah mendorong agar program tersebut dirancang sebagai program jangka panjang yang terus mengalami penyempurnaan.

"Sejak awal kami berdiskusi dengan pihak PT IMIP, kami telah menyampaikan bahwa program beasiswa ini harus bersifat berkelanjutan dan terus berkembang. Beasiswa angkatan pertama merupakan tahap awal atau uji coba. Setelah beberapa tahun berjalan, seharusnya program ini sudah mengalami pengembangan yang lebih luas, bukan hanya berjalan pada pola yang sama setiap tahunnya, " ujar Sinta.

Lebih lanjut, Sinta mengatakan FK-PPMKB sejak lama mengusulkan agar cakupan beasiswa diperluas, tidak hanya untuk jenjang Sarjana (S1), tetapi juga Magister (S2), pendidikan profesi, hingga bantuan penyelesaian studi bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir maupun penelitian.

"Kami tidak pernah membatasi pembahasan hanya pada beasiswa S1. Sejak lama kami mengusulkan agar PT IMIP mulai memikirkan skema beasiswa untuk S2, pendidikan profesi, hingga bantuan penyelesaian studi. Bahodopi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi lebih tinggi sehingga investasi perusahaan di bidang pendidikan juga harus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat, " jelasnya.

FK-PPMKB juga mengingatkan agar keberhasilan program beasiswa tidak hanya dijadikan materi publikasi perusahaan. Menurut mereka, yang lebih penting adalah memastikan program tersebut dikelola secara adil, transparan, berkelanjutan, serta benar-benar menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat Bahodopi.

Di akhir pernyataannya, Rafky mendesak PT IMIP untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Beasiswa IMIP Bersinergi dengan melibatkan mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat Bahodopi dalam proses penyusunan kebijakan.

"CSR adalah tanggung jawab perusahaan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Karena itu, kami meminta PT IMIP tidak hanya berfokus pada publikasi program, tetapi juga memastikan kualitas, keadilan, dan keberpihakan program kepada masyarakat lingkar tambang. Beasiswa ini harus terus diperbaiki agar benar-benar menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia Bahodopi, bukan sekadar menjadi angka dalam laporan ataupun bahan pencitraan, " tutup Rafky.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |