PANGKEP SULSEL - Di balik rimbunnya pegunungan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep, tersimpan sebuah kisah panjang yang selama ini nyaris luput dari sorotan. Sebuah cerita tentang tanaman bernama Porang—yang kini menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi di Indonesia—justru berawal dari tangan-tangan petani sederhana di pedalaman Sulawesi Selatan.
Abd Rahman, Kepala Desa Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa, mengingat betul bagaimana semua ini bermula. Sekitar tahun 1998, dua orang tamu datang dari Surabaya dan mencarinya. Mereka meminta bantuan untuk menemukan tanaman Porang, sesuatu yang saat itu belum dikenal oleh masyarakat lokal. Tanpa tahu pasti manfaatnya, Abd Rahman menyanggupi permintaan itu. Baginya, yang terpenting saat itu adalah peluang untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Waktu itu kami tidak tahu Porang itu apa. Gunanya untuk apa pun kami tidak tahu. Yang penting, mereka butuh, kami cari, dan kami bisa dapat uang, ” tutur Abd Rahman sambil tersenyum mengingat masa-masa awal tersebut.
Ia bersama beberapa warga lainnya kemudian mulai menjelajahi wilayah pegunungan Tondong Tallasa. Di sanalah mereka menemukan Porang tumbuh liar. Setelah berhasil mengumpulkan, tanaman-tanaman itu lalu dikirim ke Surabaya. Belakangan, permintaan semakin meningkat, tidak hanya dari luar daerah, tetapi juga dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan.
Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak pihak datang meminta bibit Porang. Dari mana pun asal permintaan itu datang, Abd Rahman dan kelompok kecilnya kembali menelusuri gunung untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tanpa disadari, wilayah Tondong Tallasa menjadi pusat penyedia bibit Porang di Sulsel, bahkan menjadi asal mula penyebarannya ke berbagai daerah di provinsi ini.
Namun saat itu, warga hanya berperan sebagai pencari dan pengirim. Mereka belum sepenuhnya paham cara menanam atau membudidayakan Porang. Upaya untuk menanam Porang sempat dilakukan, tetapi gagal. Rupanya, umbi yang mereka tanam bukanlah bagian yang tepat. Justru buah Porang yang lebih cocok dijadikan bibit.
Barulah beberapa tahun belakangan ini masyarakat mulai mencoba kembali menanam Porang dengan cara yang benar. Di Desa Bantimurung dan Desa Bonto Birao, beberapa warga mulai memanen hasil tanam mereka. Hasil panen itu kemudian dibawa ke Bulukumba untuk dijual, karena di sana sudah ada pabrik pengolahan Porang.
“Kemarin ada warga kami yang bawa hasil panen Porang sampai beberapa karung ke Bulukumba. Di sana ada pabrik, jadi bisa langsung dijual, ” jelas Abd Rahman.
Kondisi ini membuka mata masyarakat bahwa Porang memiliki potensi besar. Tidak hanya sebagai tanaman liar, tetapi sebagai komoditas unggulan desa. Namun sayangnya, hingga saat ini Tondong Tallasa belum memiliki fasilitas pengolahan sendiri. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah setempat.
“Kalau saja di sini ada pabrik Porang, saya yakin Porang akan jauh lebih berkembang. Kita tidak perlu bawa ke tempat jauh. Manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, ” katanya penuh harap.
Kini, para petani di Tondong Tallasa mulai memupuk asa. Mereka tak ingin hanya dikenal sebagai penyedia bibit. Mereka ingin menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih besar—menanam, mengolah, hingga menjual Porang secara mandiri. Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin Tondong Tallasa akan tumbuh menjadi pusat Porang Sulawesi Selatan, dari desa pegunungan yang pernah dianggap terpencil menjadi poros ekonomi baru yang menjanjikan.