LUWU TIMUR – Ketua Lembaga Adat Pasukan Adat To Manurung yang juga Ketua DPP LBH LIRA (Lindungi Rakyat Indonesia), Ryan Latief La Kaseng, menyatakan bahwa Dusun Laoli di Desa Harapan, Kecamatan Malili, merupakan bagian dari lanskap sejarah Kerajaan Luwu.
Menurut Ryan, kawasan pesisir timur Teluk Bone, termasuk wilayah Ussu, Cerekang, hingga Laoli, memiliki keterkaitan erat dengan jejak awal peradaban Kedatuan Luwu sebagaimana disebut dalam berbagai kajian sejarah, temuan arkeologi, dan naskah klasik.
Ia menilai pemahaman mengenai nilai historis kawasan tersebut penting menjadi bagian dari setiap pembahasan mengenai masa depan Laoli.
"Sejarah mencatat bahwa awal mula kebesaran Kerajaan Luwu tidak bisa dilepaskan dari kawasan pesisir timur Teluk Bone. Karena itu, Laoli tidak bisa dipandang hanya sebagai sebuah wilayah administratif, tetapi juga sebagai bagian dari lanskap sejarah Luwu, " kata Ryan dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Ryan menjelaskan, sejumlah penelitian sejarah dan naskah epik I La Galigo menyebut wilayah Ussu dan Cerekang sebagai salah satu pusat awal peradaban Kedatuan Luwu.
Menurutnya, kawasan tersebut diyakini sebagai lokasi awal pemerintahan Luwu sebelum pusat kedatuan berpindah ke Malangke dan kemudian menetap di Palopo seiring perkembangan politik dan ekonomi pada masa itu.
"Berdasarkan berbagai catatan sejarah, penelitian arkeologis, serta naskah I La Galigo, wilayah Ussu dan Cerekang diyakini menjadi bagian penting dari pusat awal Kerajaan Luwu. Secara geografis, Laoli berada dalam kawasan yang sangat berdekatan dengan wilayah tersebut, " ujarnya.
Ryan mengatakan, kedekatan geografis antara Laoli dengan kawasan Ussu menunjukkan bahwa wilayah tersebut berada dalam satu bentang sejarah yang sama di pesisir timur Teluk Bone.
Karena itu, menurut dia, keberadaan sungai, kawasan pesisir, maupun jejak permukiman di wilayah Malili memiliki nilai historis yang patut mendapat perhatian.
"Malili, Ussu, Cerekang hingga Laoli berada dalam satu lanskap sejarah yang saling berkaitan. Wilayah-wilayah ini merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Luwu yang perlu dipahami dan dihargai, " katanya.
Ryan berharap aspek sejarah dan budaya turut menjadi pertimbangan dalam setiap kebijakan pembangunan yang berkaitan dengan kawasan tersebut.
Menurutnya, pembangunan dan investasi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, ia menilai pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan nilai sejarah, budaya, serta identitas masyarakat lokal.
"Nilai sejarah adalah warisan yang harus dijaga. Karena itu, pembangunan semestinya berjalan beriringan dengan upaya melestarikan jejak sejarah dan menghormati identitas budaya masyarakat Luwu, " tutup Ryan. (*)
















































