UNIMMA Cetak Sejarah, Fakultas Kedokteran Lahir, Perkuat Pilar Kesehatan Nasional

14 hours ago 4

Magelang mencatat lembaran baru nan gemilang. Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) secara resmi membuka pintu Fakultas Kedokteran (FK) pertamanya. Lebih dari sekadar acara seremonial, langkah ini adalah tonggak strategis yang semakin mengukuhkan peran Muhammadiyah sebagai pilar utama kesehatan bangsa. Dengan hadirnya FK UNIMMA, kini terdapat 23 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang memiliki fakultas kedokteran, memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai organisasi dengan ekosistem kesehatan swasta nirlaba terbesar yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Suasana khidmat menyelimuti prosesi peresmian, di mana berbagai pandangan para tokoh kunci bersinergi menegaskan urgensi kehadiran FK UNIMMA. Rektor UNIMMA, Dr. Lilik Andriyani, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa pendirian FK merupakan agenda strategis universitas yang didukung penuh oleh akreditasi institusi “Unggul”. Hal ini menjadi bukti kesiapan UNIMMA dalam menyelenggarakan pendidikan kedokteran berkualitas demi ketahanan kesehatan nasional. Apresiasi tinggi juga datang dari perwakilan LLDIKTI Wilayah VI, yang mengakui perjuangan panjang dan masif UNIMMA dalam membenahi sarana dan prasarana hingga layak mendapatkan izin pendirian.

Menteri Kesehatan RI, Ir. Budi Gunadi Sadikin, CHFC, CLU, turut hadir, membingkai peresmian ini dalam konteks urgensi nasional. Beliau menyoroti krisis kekurangan tenaga dokter yang mencapai angka 560.000 orang. Menkes menyatakan keyakinannya pada Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan terbesar untuk membantu mengisi kekosongan tersebut, mengingat kapasitas nasional saat ini baru memenuhi sepertiga dari kebutuhan.

Puncak acara ditandai dengan amanat dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang secara resmi meluncurkan FK UNIMMA. Beliau berpesan agar FK ini melahirkan dokter yang “Unggul dan Berkemajuan”, serta menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus memperluas jaringan kedokteran demi pemerataan akses kesehatan yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keberadaan FK UNIMMA semakin memperkokoh jejaring pelayanan kesehatan Muhammadiyah di seluruh nusantara. Hingga tahun 2024-2025, Muhammadiyah telah membangun sistem kesehatan yang mandiri dan terintegrasi. Di sektor hulu, 23 Fakultas Kedokteran di bawah naungan PTMA, termasuk UNIMMA, UMSU, UMY, UMM, dan UMJ, menjadi “pabrik” pencetak ribuan dokter Muslim kompeten setiap tahunnya. Di sektor hilir, lulusan-lulusan ini siap mengabdi pada jaringan Amal Usaha Kesehatan yang masif, terdiri dari sekitar 128 Rumah Sakit (termasuk RS PKU dan RS ‘Aisyiyah) serta 260 Klinik yang menjangkau hingga ke pelosok desa. Sinergi antara 23 FK dan ratusan fasilitas kesehatan ini menciptakan siklus kemandirian umat yang luar biasa.

Di balik gemerlap angka statistik ini, tersimpan kisah perjuangan yang berawal dari “kegilaan” visioner Kyai Sudjak, seorang murid KH Ahmad Dahlan. Pada Rapat Anggota Istimewa tahun 1920, gagasan Kyai Sudjak untuk membangun Ziekenhuis (Rumah Sakit), Armhuis (Rumah Miskin), dan Weeshuis (Rumah Yatim) sempat disambut tawa karena dianggap mustahil. Namun, berkat dorongan Kyai Dahlan, mimpi itu terwujud pada 15 Februari 1923 dengan berdirinya klinik pertama PKO Muhammadiyah di Jagang, Yogyakarta. Kini, visi Kyai Sudjak yang dulu ditertawakan telah menjelma menjadi raksasa pelayanan kesehatan.

Semangat Kyai Sudjak dan KH Ahmad Dahlan berakar pada pengamalan Surah Al-Ma’un. Cita-cita kesehatan Muhammadiyah lebih dari sekadar fisik bangunan; ia adalah gerakan pemurnian tauhid dalam dimensi spiritual dan sosial. Keberanian mengadopsi ilmu kedokteran modern di tengah masyarakat yang masih lekat dengan takhayul menjadi terobosan revolusioner. Dakwah kesehatan Muhammadiyah bertujuan membersihkan akidah umat dari syirik, mengajarkan bahwa penyakit dan kesembuhan berjalan di atas hukum alam ciptaan Allah (Sunnatullah), menyatukan sains dan iman.

Lebih dari itu, kesehatan dalam Muhammadiyah adalah upaya menegakkan Tauhid Sosial. Dari Teologi Al-Ma’un, Kyai Dahlan mengajarkan bahwa ibadah ritual tak bermakna tanpa kepedulian sosial, dan di hadapan Allah, semua manusia setara. Memberikan layanan kesehatan kepada kaum miskin dan terlantar (mustadh’afin) melalui ratusan klinik dan RS Muhammadiyah berarti mengembalikan martabat mereka. Layanan ini juga berfungsi sebagai benteng keimanan (Hifz ad-Din), mencegah umat menggadaikan keyakinannya demi pengobatan.

Kehadiran FK UNIMMA adalah jawaban konkret atas visi kemandirian bangsa yang diimpikan Kyai Dahlan. Jika dahulu pada tahun 1923 Muhammadiyah harus bekerja sama dengan dokter Belanda, kini dengan 23 Fakultas Kedokteran, Muhammadiyah telah mampu memproduksi dokter-dokternya sendiri.

Peresmian Fakultas Kedokteran UNIMMA adalah pertemuan harmonis antara kebutuhan pragmatis masa kini dan visi teologis masa lalu. Ia adalah jawaban atas tantangan kekurangan dokter nasional yang disampaikan Menteri Kesehatan, sekaligus bukti nyata bahwa cita-cita KH Ahmad Dahlan dan Kyai Sudjak untuk memurnikan tauhid melalui amal nyata (Dakwah bil Hal) terus hidup dan berkembang di tangan generasi penerus. (muh.ac.id)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |