Lombok Timur NTB - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Provinsi NTB, Sulhamran, mengatakan bahwa Konferensi Cabang bukan hanya sebagai ajang regenerasi kepemimpinan, tapi juga sebagai ruang dialog bagi kader marhaenis untuk memperkuat pemahaman ideologi dan peran mahasiswa.
Hal ini disampaikan Ketua DPP GMNI NTB dalam konferensi cabang yang digelar DPC GMNI Lombok Timur di Rupatama II Gedung Bupati Lombok Timur pada Kamis (12/3/2026).
"Sebagai kader organisasi perjuangan yang konsisten membela hak-hak kaum marhaen, tentu kita harus mampu merefleksikan diri, sesuai slogan DPP GMNI "bina diri, bina ilmu, bina bangsa", " ungkap Ketua GMNI dalam sambutannya.
Hamran, sapaan akrab Ketua DPD GMNI Provinsi NTB juga menekankan kepada segenap peserta konfercab untuk tetap menjadi mitra kritis pemerintah.
"Banyak isu daerah yang perlu kita advokasi dan kritisi, terutama soal isu-isu lingkungan, ekonomi, politik maupun hukum yang diduga tidak memihak kepada kaum marhaen, " tegasnya.
Ia menegaskan, di wilayah NTB ada banyak persoalan daerah yang perlu kita kritisi bersama seperti maraknya terjadi dugaan ekploitasi hutan lindung.
"Eksploitasi hutan lindung berdampak serius, menyebabkan kerusakan ekosistem, bencana alam (banjir, longsor), dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hilangnya tutupan pohon mengganggu siklus hidrologi, memicu kekeringan, serta mempercepat emisi karbon yang memperparah pemanasan global. Hal ini juga merusak habitat satwa liar dan merugikan masyarakat adat, " tegasnya.

Selain itu, penggunaan sumber daya hutan secara berlebihan, sering kali melebihi kemampuan regenerasi alami, untuk tujuan ekonomi seperti industri kayu, pertambangan, dan perkebunan.
"Praktik ini memicu deforestasi serius, hilangnya keanekaragaman hayati, krisis sosial-ekologis, serta memicu bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, " ungkapnya.
Karena itu, Hamran berharap kepada regenerasi DPC GMNI Lombok Timur kedepannya tetap menjaga budaya kritis sebagai kader marhaenis.
"Tetap berfokus pada perjuangan nasib rakyat, bergotong royong melawan kapitalisme dan imprialisme serta mampu menjadi pemimpin bermental kuat yang konsisten membela rakyat, " harapnya.
Menurutnya, seyogyanya sebagai kader GMNI harus mampu naik kelas di tengah tantangan zaman seperti saat ini.
"Karena kita punya pondasi dan spirit yang kuat yaitu menjadikan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangan yang dirumuskan Bung Karno untuk membela kaum miskin Indonesia dan implementasi ajaran Marhaenisme sangat relevan ditengah gempuran zaman seperti ini, " ungkapnya.
"Semoga lewat Konfercab ini regenerasi kepemimpinan DPC GMNI Lombok Timur melahirkan pemimpin yang berwatak demokratis dan berjiwa nasionalis agar mampu naik kelas di tengah gempuran zaman, " tambahnya menutup sambutan. (Adb)













































