Maret 2025: Ketika Rupiah Tertekan dan Emas Menjadi Primadona

9 hours ago 5

OPINI -   Pada Maret 2025, Indonesia menghadapi tantangan ekonomi signifikan dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan melonjaknya harga emas. Kedua fenomena ini saling terkait dan dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik dan global yang memerlukan analisis mendalam untuk memahami implikasinya terhadap perekonomian nasional.

Sepanjang Maret 2025, rupiah mengalami depresiasi tajam terhadap dolar AS. Pada 25 Maret, nilai tukar rupiah mencapai Rp16.640 per dolar AS, level terendah sejak krisis finansial Asia 1998. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.

Secara internal, beberapa pakar memberikan pernyataan tentang kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto, menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia. Langkah-langkah seperti peningkatan belanja sosial dan pembentukan dana kekayaan negara Danantara Indonesia memicu skeptisisme mengenai pengelolaan keuangan negara.

Secara eksternal, Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas antara lain:

  • Ketidakpastian Geopolitik: Kebijakan tarif AS dan ketegangan perdagangan global meningkatkan permintaan emas sebagai lindung nilai .
  • Kebijakan Moneter: Ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS mempengaruhi daya tarik emas sebagai investasi.
  • kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memperburuk sentimen pasar. Pengenaan tarif baru oleh AS memicu kekhawatiran akan perang dagang global, yang berdampak negatif pada negara-negara berkembang seperti Indonesia yang bergantung pada ekspor.

Sejalan dengan pelemahan rupiah, harga emas mencatat rekor tertinggi. Pada akhir Maret 2025, harga emas global mencapai $3.106, 50 per troy ounce, meningkat lebih dari 18% sepanjang tahun tersebut. Di Indonesia, harga emas juga melonjak, mencapai Rp52.047.232 per ounce pada 31 Maret.

Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan dari bank sentral dan investor yang mencari aset “safe-haven” di tengah ketidakpastian ekonomi. Bank sentral, terutama dari negara berkembang, meningkatkan cadangan emas mereka untuk mendiversifikasi aset dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Pelemahan rupiah dan kenaikan harga emas saling berkaitan. Depresiasi mata uang meningkatkan harga emas domestik karena emas diperdagangkan dalam dolar AS. Dengan rupiah yang lebih lemah, diperlukan lebih banyak rupiah untuk membeli emas dalam denominasi dolar. Selain itu, emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, sehingga permintaannya meningkat saat mata uang domestik melemah.

Pelemahan rupiah dan lonjakan harga emas memiliki implikasi signifikan bagi perekonomian Indonesia. Depresiasi rupiah meningkatkan biaya impor, yang dapat mendorong inflasi domestik. Sektor-sektor yang bergantung pada impor, seperti manufaktur dan energi, menghadapi peningkatan biaya produksi, yang berpotensi menekan margin keuntungan dan meningkatkan harga barang bagi konsumen.

Di sisi lain, kenaikan harga emas juga dapat menguntungkan Indonesia sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia. Peningkatan pendapatan dari ekspor emas dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan dan memberikan tambahan devisa. Namun, bagi konsumen domestik, harga emas yang tinggi dapat mengurangi daya beli dan investasi dalam logam mulia.

Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah. Namun, efektivitas intervensi ini bergantung pada faktor eksternal dan kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dan lonjakan harga emas mencerminkan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik. Kebijakan yang tepat dan responsif diperlukan untuk memastikan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.

Ditulis oleh: Indra Gusnady, SE, M.Si, (Kepala Badan Keuangan Daerah Kabupaten Solok)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |