PAPUA - Sektor pendidikan di Papua kini menghadapi ancaman serius. Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) diduga menyusup ke sekolah-sekolah dan kampus untuk mempengaruhi serta merekrut pemuda-pemudi bergabung dalam gerakan mereka. Modus yang digunakan adalah membangun narasi ketidakpuasan terhadap pemerintah serta menjanjikan masa depan Papua yang lebih baik melalui perjuangan bersenjata.
Laporan dari berbagai sumber mengungkap bahwa OPM tidak hanya bergerak di wilayah pedalaman, tetapi juga merambah dunia akademik di kota-kota besar. Mereka mendekati pelajar dan mahasiswa dengan pendekatan persuasif, menyebarkan propaganda yang menanamkan kebencian terhadap negara.
Pendekatan Terselubung: Menanam Ideologi Separatis di Kalangan Pemuda
Menurut seorang guru yang enggan disebutkan namanya, taktik yang digunakan kelompok ini sangat sistematis. Mereka memasuki lingkungan sekolah dengan menyamar sebagai aktivis sosial atau bahkan tenaga pendidik. Dalam berbagai kesempatan, mereka menyisipkan narasi perjuangan kemerdekaan yang membelokkan pemahaman siswa mengenai sejarah dan kondisi Papua saat ini.
"Para pemuda, khususnya di daerah pedalaman, sering kali menjadi target utama. Mereka dijanjikan kehidupan yang lebih baik jika bergabung dengan kelompok separatis. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak memiliki akses informasi yang benar, sehingga mudah terpengaruh, " ujarnya, Kamis (3/4/2025).
Penyusupan ini juga mulai terlihat di perguruan tinggi. Beberapa mahasiswa mengaku pernah diajak bergabung dengan kelompok separatis yang mengklaim sedang memperjuangkan keadilan bagi rakyat Papua. Ajakan tersebut sering kali dibalut dengan diskusi intelektual yang bertujuan membentuk opini bahwa perjuangan bersenjata adalah satu-satunya jalan keluar bagi Papua.
Reaksi Masyarakat dan Upaya Pencegahan
Fenomena ini telah memicu kekhawatiran banyak pihak, terutama orang tua dan tenaga pendidik. Mereka khawatir dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat mencetak generasi unggul justru dimanfaatkan untuk menyebarkan paham separatisme.
Pemerintah dan aparat keamanan kini tengah berupaya meningkatkan pengawasan terhadap sekolah dan universitas, terutama di daerah-daerah rawan. Upaya pencegahan juga dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada pelajar dan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang menyesatkan.
Dengan semakin meluasnya dugaan penyusupan ini, masyarakat Papua kini dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga dunia pendidikan tetap bersih dari pengaruh separatisme. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa sekolah dan kampus tetap menjadi tempat belajar, bukan arena perekrutan kelompok separatis. (APK/Red1922)